
Arkan berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke area makam, tapi seratus meter dari makam dia berhenti dan melihat kearah makam desa.
ternyata ada pasar ghaib, Arkan tau jika di pasar itu banyak orang yang mencari pusaka atau sekedar ingin berkenalan dengan sosok astral yang bisa di jadikan peliharaan.
Arkan pun balik badan dan menjauh dari sana, tapi saat akan pergi dari tempatnya berdiri.
tiba-tiba tercium aroma wangi tapi juga amis yang bersamaan, Arkan pun minggir dan bersila di pinggir sungai kecil di sana.
ternyata rombongan dari istana ghaib daerah tetangga, tapi yang aneh Arkan bisa mendengar ada derap kaki yang begitu banyak.
dan seharusnya jika itu adalah rombongan ghaib tak mungkin terdengar langkah kaki.
suara pun menghilang, Arkan membuka matanya dan mulai berjalan menjauh sesegera mungkin.
tapi dia kini meliht seseorang berjubah hitam dan sedang memegang rantai di tangannya.
"kau manusia atau makhluk Astral?" suara seorang gadis.
"kau buta tak bis meliht kaki ku menapak di tanah, lebih baik cepat pergi jika tak ingin terluka," usir Arkan.
"aku tak peduli, aku menginginkan makhluk yang ada di belakang mu, pelindung yang kuat untuk ku, apa bisa aku memilikinya," suara gadis itu terdengar keras.
"lawan aku dulu jika kau mau menyentuh khodam milikku, karena aku tak akan dengan mudah memberikan khodam milikku," tantang Arkan mengacungkan bambu kuning yang kemudian terukir ayat Lailahaillallah Al Malikul Haqqul Mubin.
gadis itu langsung menyeringai, "ternyata teman toh, kalau begitu aku mau cari di tempat lain,"
Arkan pun menurunkan bambu kuning miliknya, dan heran melihat gadis itu pergi begitu saja.
bahkan yang mengherankan,gadis itu bisa merantai beberapa mahluk yang biasanya menjadi musuh manusia.
__ADS_1
"Arkan!" panggil Rafa dengan cukup keras.
gadis itu menyeringai, "aku akan ingat nama itu, Arkan!" kata gadis itu yang kemudian hilang.
sedang di tempat lain Aryan sedang menunggu sang ayah yang juga sedang bersemedi untuk meminta petunjuk.
Aryan memang tak sepemberani Arkan, tapi dia juga tak lemah, saat sedang bermain di pinggir sungai kecil.
dari jauh terdengar sayup suara gamelan yang mengalun dengan lirih awalnya.
tapi lama kelamaan suara gamelan itu makin keras, dan di sebuah penari sedang di arak mengunakan kereta yang di tarik oleh ratusan pria yang bertelanjang.
Aryan pun mencium aroma bunga kenanga yang begitu pekat, dan tak lama aroma bunga kenanga itu bercampur dengan aroma darah dan bau anyir.
dan saat dia melihat di sebelahnya, ternyata ada pocong yang duduk di sampingnya sambil menyeringai.
Aryan juga memukul kepala pocong itu hingga patah ke depan, tapi anehnya kepala pocong itu bisa kembali ke tempatnya kembali.
"Halah... mau apa sih, ganggu orang main sama tuyul saja, mau balas dendam jangan sama aku, sini cari musuh mu," usir Aryan.
"tolong bantu saya, saya mati di bunuh," kata pocong itu.
"gak peduli deh, sini pergi cari yang bunuh, bukan aku dan minta pocong merah itu datang sendiri kalau berani jangan menyuruh mu," tantang Aryan.
"kamu manusia sombong, aku akan membuatmu membusuk," pocong itu kembali menyemburkan air liurnya yang mengandung racun.
tapi lagi-lagi Aryan berhasil menghindar, kini pocong itu bersiap menyerang lagi.
tapi kali ini pocong itu terdiam melihat sosok Aryan yang sudah marah.
__ADS_1
bahkan ada sosok Sesnag yang berwujud ular besar dengan mata merah menyala siap melahap mahluk ghaib apapun.
"pergi, atau kamu ku binasakan," usir Aryan
pocong itu pun melompat dan terbang menghilang, Aryan pun melihat semburan pocong yang terbakar.
"bisa mati aku kena tadi," gumam Aryan yang memang pernah di beri penjelasan oleh Wulan tentang makhluk-makhluk yang tak kasat mata.
"Aryan, kemana le, kemarilah," panggil Raka.
"iya ayah," jawab Aryan yang berjalan ke tempat Raka bersemedi.
tapi di tengah perjalanan, tercium aroma pandan wangi yang begitu khas.
"nyai Ageng tri mustika, apa ada Tante Wewe?" tanya Aryan lirih.
"iya tuan, dia menyeringai melihat mu tapi masih di atas pohon," jawab nyai Ageng tri mustika.
Aryan pun memperlebar langkah larinya, pasalnya makhluk itu adalah demit yang paling tak diinginkan di lihat oleh Aryan.
kenangan buruknya bisa membuatnya dalam mimpi buruk tiga hari tiga malam.
Wewe gombel itu menandai Aryan, kini dia tebang ingin membawa Aryan, "ayo Melu aku ke!" teriaknya dengan suara nyaring.
"jangan mimpi bisa membawa saudaraku!" teriak Arkan yang langsung menebas mahluk itu.
Kini mahluk itu menghilang dan musnah di tangan Arkan, dan Aryan sampai di tempat Raka sudah lemas.
pasalnya hawa ketakutan Aryan cukup besar, dan itu mengundang makhluk ghaib lain.
__ADS_1