
Niken tenang terlebih-lebih Arkan menepuk puncak kepalanya dengan lembut.
"gadis manis tenang ya..." kata Arkan tersenyum.
"huh... dasar," kata Niken malu.
sedang Aryan berbisik ngeri, "kenapa kamu?" tanya Rania.
"aku geli sendiri melihat Arkan seperti itu," jawab Aryan
"kenapa, mereka itu kan lucu, keju saja yang gak punya kekasih, ciye... jomblo," ledek Rania.
"memang iya, kenapa masalah buat anda?" jawab Aryan kesal.
Aditya pun tertawa melihat aryan dan Rania yang terus beradu mulut, keluarga Aris juga sudah pamit pulang.
Raka menjamin jika keluarga mereka akan baik-baik saja, asal mereka terus meningkatkan ibadah.
Wulan melihat kearah Raka dengan sedih, sedang Raka membuat istrinya tenang dengan merangkulnya dengan hangat.
"tenang, aku yakin jika putra kita bisa menyelesaikan semuanya," jawab Raka.
"amiin ya mas," jawab Wulan yang kini membawa Aluna ke kamar untuk istirahat.
keluarga mereka pun beristirahat malam itu, sedang Aditya juga memilih menginap di rumah mertuanya karena permintaan Rania.
"aduh-aduh kalian ini, sudah malam kok masih keluyuran, mari segera masuk ke dalam, ingat hanya baju dan cuci kaki sebelum tidur ya," pesan Nurul pada keduanya.
"iya bunda," jawab keduanya.
sebelum masuk ke dalam kamar, tak sengaja Aditya melihat Adri yang nampak begitu pusing di ruang kerjanya.
__ADS_1
Aditya ingin bertanya, tapi dia harus memastikan jika istrinya itu sudah istirahat dengan baik.
setelah Rania tertidur dengan nyaman, Aditya mengambil kaosnya dan keluar dari kamar.
dia mengambil air untuk di bawa ke dalam kamar, tapi dia melihat ada Adri yang nampak sedang membuat sesuatu.
"ayah belum tidur, atau mau bantu untuk buat sesuatu?" tanya Aditya yang melihat Adri yang ingin memasak mie instan.
"tidak ada nak, kamu bisa tidur temani istrimu," jawab Adri dengan lesu.
"ayah jika anda butuh sesuatu, anda bisa bilang pada saya, jika ayah sakit atau sedih, pasti Rania juga sedih, apa ayah tak ingin melihat cucu ayah?" kata Aditya yang mengambil apel dan memakannya.
"aku sedang mengalami masalah besar Aditya, beberapa hari yang lalu, pesanan beras yang jumlahnya tak sedikit di batalkan begitu saja, terlebih mereka juga meminta uang di kembalikan, aku bingung harus bagai mana?" jawab Adri.
"memang ada berapa ton pesanan yang di batalkan ayah?" tanya Aditya.
"seratus ton, itu adalah pesanan dari beberapa toko yang sebenarnya sudah lama jadi langganan penggilingan keluarga ini," jawab Adri.
"tapi akan merepotkan mu," lirih Adri.
"tidak ada yang merasa di repotkan terlebih kita semua adalah keluarga," jawab Aditya.
Adri pun merasa sedikit lega, Aditya mengirimkan semua masalah di penggilingan kepada Arkan.
kebetulan pukul tiga malam, Arkan terbangun dan melihat ada email masuk, dia pun segera melihat pesan itu.
Arkan pun langsung sadar sepenuhnya, Arkan langsung mencari nomor telpon dari seseorang.
dia langsung menghubungi pria itu, tapi karena tak bisa menelponnya, Arkan langsung mengambil kunci motornya dan bergegas pergi.
Arkan langsung menancap gas motornya dengan kecepatan tinggi, sesampainya di sebuah rumah.
__ADS_1
Arkan melihat sosok yang sangat tak terduga, "wah ada apa ini, baru jdi janda beberapa bulan, sudah gatal?" kata Arkan tersenyum mengejek wanita itu.
"tutup mulutmu, orang tua mu tak pernah mengajari mu hingga berani berkata kotor pda bude mu, hah!" bentak Jasmin.
"ayolah aku sudah dewasa, wanita mana yang bisa di bilang baik-baik jika jam tiga pagi ada di rumah seorang pria yang sudah menikah, dan sat istrinya sakit di rumah sakit, jika bukan wanita murahan," kata arkan.
"dasar tak tau sopan!" teriak Jasmin yang ingin menampar pipi Keponakannya itu.
tapi Arkan menangkap tangan wanita itu dan menatap wanita itu marah, "sudah ku ingatkan, jangan buat aku lupa siapa dirimu, jika tidak aku pastikan kamu bisa jadi gelandangan, dan untuk mu pulihkan nama dari mbah de dan Mbah lek, jika tidak aku akan mematahkan leher mu," ancam Arkan.
"kau itu hanya anak ingusan,"maki pria itu.
tanpa di duga, pria itu tersungkur dan langsung di injak seseorang, dan pria itu tak bisa bergerak.
"kau kira dia sendiri goblok, aku bersamanya, dan kamu berani membuat mertua ku mengalami masalah, ckckck... kamu belum tau siapa aku, aku pria yang bisa membunuh dengan mata terbuka, dan sepertinya kami begitu mencintai putra mu, bagaimana jika aku membunuhnya di depan matamu," kata Aditya dengan kejam.
Jasmin kaget melihat sosok Aditya yang tersenyum dengan wajah menyeramkan.
"atau aku harus membunuh putramu dulu?" kata Aditya melihat Jasmin.
"tidak dia juga keponakan mu," panik Jasmin.
"aku tak pernah mengakui orang yang berani mengusik keluarga ku," jawab Aditya.
"baiklah aku akan menarik semua berita bohong itu, tapi.aku juga hanya di suruh oleh wanita itu sebab imbalan uang seratus lima puluh juta, dia yang tak suka jika kedua pria itu mengelola penggilingan yang seharusnya miliknya," kata pria itu ketakutan.
"apa, kamu merasa kamu memiliki hak atas kelima penggilingan padi itu, kau gila ternyata, dan gila harta, ha-ha-ha-ha," kata Arkan menertawakan budenya itu.
"apa maksud mu, itu hak Faraz dan husna, jadi aku berhak mengambilnya!" jawab Jasmin kesal.
"bukan, itu sudah hak ku dan mbak Rania, karena suamimu sudah menjualnya pada ayah ku, karena dia menginvestasikan uangnya ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, kalau tak percaya Yahya sendiri pada pengacara kepercayaan suamimu," dorong Arkan hingga membuat Jasmin jatuh tersungkur dengan keras.
__ADS_1