
setelah dari Tembelang, mereka semua pun menuju pulang, Faraz sekarang terlihat seperti sangat tenang di Banding biasanya.
saat sampai rumah, mereka pun langsung berlarian untuk sholat isya' karena sedikit telat.
dan kali ini bukan keluarga Noviant yang jadi imam, melainkan anak murid dari pondok pesantren ustadz Arifin.
Arkan pun duduk setelah sholat isya', dan sempat melihat bayangan wanita yang mengikuti Faraz sedang sholat di luar Mushola.
"Ki item, terus awasi makhluk itu karena sekarang dia akan membantumu menjaga Faraz," suara batin dari Arkan.
"baik prabu," jawab Ki item.
mereka pun sholat di barisan cukup belakang, Arkan pun mengikuti isya' dengan santai.
beberapa orang pun kembali bersalaman dengan keluarga Noviant terlebih tadi mereka sempat tak bertemu.
Aryan dan Arkan kini duduk di luar rumah bersama para Bapak-bapak yang sedang main catur atau sekedar ngopi.
sedang para ibu di dalam, dan Rania sedang meminjam semua kebutuhan untuk hiking lusa.
"kak sepertinya kita ganti tujuan saja yuk, terlebih ada mbak Rania yang ikut, jadi akan menyusahkan jika langsung gunung tinggi," usul Faraz.
"kamu ikut juga saja, tunggu sebentar lagi teman-teman ku sampai," kata Fahri
mereka pun sedang berembuk mau gunung mana, dan dengan polos Faraz memberi ide.
"bagaimana kalau kita ke gunung Kawi," kata Faraz
"kamu mau mati kesana!" bentak arkan dan Aditya bersamaan.
"ih... kok marah kan cuma usul," jawab Faraz mencebikkan bibirnya.
"kita ke Semeru saja yuk,lumayan biar gak jauh-jauh ke Jawa tengah mas, karena liburan juga terbatas kan," usul Fahri.
"boleh juga tuh, lumayan lah karena aku takut Faraz dan Rania tak kuat jika ke gunung Slamet atau gunung Sindoro, karena itu impian ku bisa naik kesana lagi," kata Aditya.
"lain kali aja kak, kalau aku liburan panjang semester misalnya," Jawab Arkan.
"oke, oh ya kita kumpul di sini dan jangan lupa tolong bawa semua perlengkapan dan jangan sampai ada yang ketinggalan ya, ingat logistik," pesan Aditya pada semuanya.
__ADS_1
"siap besok tinggal belanja, dan minta buatin Amma masakan kering," kata Aryan tertawa.
"memang enak baik gunung sama mereka, pasti lauknya banyak," kata Fahri tertawa
sebuah mobil mewah baru saja datang, ternyata itu adalah Randi, Fero dan Gadis.
tapi ada seorang lagi yang membuat Aditya memicingkan matanya karena tak suka dengan kehadirannya.
itu adalah Siska, wanita yang begitu centil dan tak kenal tempat saat menggoda, bahkan di depan Rania
"kenapa ada gadis menyebalkan itu?" tanya Aditya pada Fahri.
"dia itu kekasih baru Fero sepertinya, karena pria itu sangat bucin dengan Siska, mas kenal dia itu sahabat Rania," kata Fahri.
"ya hanya sekedar tau saja," jawab Aditya enteng.
siska datang dengan mengandeng tangan Fero dan tersenyum begitu semringah.
"assalamualaikum ..." sapa keempatnya.
"waalaikum salam, ayo masuk, wah lama nih gak ketemu kalian, bagaimana kabarnya kapan naik lagi?" tanya Raka.
"tidak,itu rencana kalian, dan sepertinya akan ada pergantian tujuan kalau tak salah," kata Raka tertawa.
"baiklah biar kami bahas dulu,mari ..." kata Randi yang langsung ikut duduk bersama yang lain.
akhirnya mereka pun mengulang kembali musyawarah, Aditya terus berdekatan dengan Rania.
sedang Siska juga sesekali menatap Aditya dengan menggoda, karena gadis itu masih penasaran dengan pria kaku seperti Aditya.
aryan tak sengaja melihat langit malam, dan sebuah benda merah melintas dengan cepat.
"huh ... baru juga lebaran, sudah main lempar-lemparan ilmu saja," gumam Aryan santai.
"sudah tak perlu di gubris, paling besok ada yang gantung diri, kamu ingat itu adalah Lulung gantung yang terkenal terlihat dari buas warnanya," kata Arkan yang fokus mtlihat ponselnya.
"tunggu bagaimana kamu bisa tau, toh kamu tak melihatnya?" kata Aryan merasa aneh.
"rahasia ..." kata arkan melirik saudara kembarnya itu.
__ADS_1
pukul sebelas malam mereka pun bubar dan pulang, Arkan dan Aryan memilih tidur beralaskan kasur lipat di ruang tamu.
suasana malam itu terasa sangat ramai, tapi mereka berdua tak peduli toh itu sudah terbiasa.
Faraz yang tidur di antara kedua saudara itu, merasa tubuhnya sangat gerah.
tapi dia tak bisa bangun, tapi perasaan itu tak lama, karena tiba-tiba tubuhnya terasa dingin.
tenyata Arkan sedang mencekik makhluk yang mengikuti Faraz, "sudah ku katakan jangan berulah, nyatanya kamu ingin menyerap energi Faraz sampai habis, maka kamu harus musnah," kata Arkan yang mulai membacakan ayat pemusnah jin.
makhluk yang mengaku jin Islam itu pun mati di tangan Arkan, "sudah ku katakan Dengan jelas, tapi kamu salah mencari musuh," gumamnya yang kembali ke tubuhnya.
ternyata Arkan tadi melakukan ngrogo Sukmo dan membereskan semua masalah di sekitarnya.
keesokan harinya, Raka membangunkan ketiga pria itu untuk sholat subuh, dan setelah sholat subuh mereka pun lari pagi berkeliling desa.
selama lati ketiganya terus bercanda, Faraz merasa jika pagi ini tubuhnya begitu enteng dan dia bisa mengelola emosinya dengan baik.
"aduh aku rindu nasi pecel Mak jum nih, sayangnya belum buka," kata Faraz melihat warung kosong itu.
"aduh kamu ngomong gitu aku jadi laper, ayo pulang yuk, aku mau sarapan," kata Aryan berlari pulang.
"woi dasar kamu ini perut karet, tungguin woi!!" teriak arkan yang berlari mengikuti adiknya itu bersama Faraz.
aryan pun tertawa dan tak sadar malah menabrak dua orang gadis yang tengah berjalan santai.
"aduh ..."
Aryan dan kedua wanita itu jatuh terduduk, "mampus, salah sendiri lari sendirian, maaf ya mbak, gak papa kan," kata Arkan membantu kedua gadis itu.
"iya masa aduh meski bokong kami sedikit sakit, tapi tidak apa-apa, tapi lain kali tolong hati-hati ya, kami permisi," kata gadis itu takut dan langsung menarik saudaranya pergi.
"maaf mbak!!!" kata Aryan yang baru bangun dan melihat kedua wanita itu pergi
"makanya jangan suka ninggalin saudara makanya kena karma," kesal Faraz
"ya maaf deh, ayo kita pulang yuk, aku sudah lapar, dan jangan bertingkah Aryan," kata Arkan mengingatkan adiknya itu.
sesampainya di rumah, mereka pun berpisah untuk mandi dan kemudian bergabung sarapan di rumah Wulan.
__ADS_1
keluarga besar Noviant benar-benar berkumpul tahun ini karena jarang-jarang bisa berkumpul seperti ini, meski ada beberapa keluarga yang sudah pergi dari dunia ini.