
pagi hari, semua keluarga sudah siap untuk sholat idul Fitri yang di laksanakan di lapangan desa.
mereka pun memilih tempat paling depan, begitupun para wanita, Jasmin ikut sholat sambil membawa Husna.
bayi mungil itu di tidurkan di antara dirinya dan Wulan, sholat idul Fitri berjalan dengan sangat khusyuk.
setelah itu mereka pun bersalaman dengan para warga, dan segera menuju ke rumah.
Raka pun melakukan sungkeman bersama keluarganya, "mas, aku minta maaf ya jika selama ini aku menyebalkan dan sering membuat mu marah, mohon maaf lahir batin ya," kata Wulan mencium tangan Raka.
"iya dek, aku juga minta maaf kepada ku atas semua kesalahanku, mohon maaf lahir batin," kata Raka memeluk istrinya itu dan mencium kening Wulan.
Arkan dan Aryan kini bergantian memohon maaf, setelah itu mereka pun ke rumah Rafa untuk melakukan silaturahmi.
baru ke rumah Andri dan Rizal, setelah itu Raka tetap di rumah karena semua berkumpul di rumahnya.
pukul sembilan pagi, rombongan keluarga dari Fandi datang dari Surabaya, bersama David dan keluarganya.
"assalamualaikum..." sapa Anis pada semua saudara dan Keponakannya.
"waalaikum salam ibu kecil," teriak semua pemuda itu yang langsung memeluk Anis bersamaan.
Fandi hanya bisa geleng-geleng melihat hal itu, istrinya selalu jadi magnet untuk semua cucu keponakannya.
sedang Fandi bersalaman dengan raja dan Rafa, mereka cukup lama tak bertemu.
"tunggu kurang satu ini, mana sih cantik dan suaminya?" tanya Fandi.
"belum kesini, sebentar lagi katanya, karena mas Aditya di desanya di anggap orang penting jadi selalu ramai di rumahnya jadi kesini sedikit siang," terang Arkan.
"kamu ini pemuda yang serba tau ya," kata Fandi gemas.
setelah itu mereka pun saling berbincang dan bercanda, ternyata Fahri datang bersama keluarganya.
"loh kok Mbah yang kesini," kaget Arkan dan Aryan.
"gak papa, sekali-kali mau ketemu pak Fandi juga," kata pak Suyatno.
mereka pun saling bertukar pikiran, bahkan keduanya langsung akrab, begitupun dengan Bu mut dan Anis.
sedang Fahri membahas pendakian yang akan dilakukan lusa, tak lama mobil Aditya datang sambil membawa beberapa oleh-oleh.
"assalamualaikum ... maaf kami telat," kata Aditya.
"waalaikum salam... sini keponakan menantuku yang tampan, biar om mu ini lihat dulu pilihan Rania ini," kata Fandi menggoda Rania.
__ADS_1
"oh kok om opa gitu sih," kata Rania berpelukan dengan Anis.
Rania juga bersalaman dengan Adri dan Nurul, Adri masih tak percaya tahun ini putrinya sudah menjadi istri seseorang.
Adri juga memeluk tubuh Aditya yang sudah begitu menyayangi putrinya itu dengan sangat baik.
"kamu kok tambah gemuk sih Rania? nih pipi makin bisa di cubit," kata Wulan gemas.
"itu tandanya makmur mbak, maklum saya suka jajan di luar jadi Rania sering aku ajak deh, kan sudah punya temen sekarang," kata Aditya.
semua pun tersenyum, David melihat sosok Aditya seperti tidak asing, beberapa tahun lalu.
"apa kamu mengenal keluarga Suhendra? mereka dulu keluarga paling terpandang di Surabaya," tanya David.
"ha-ha-ha, itu nama keluarga ku ada apa om?" tanya Aditya dengan senyum yang sedikit kaku.
Rania pun mengenggam tangan suaminya, "tolong ya papi David, jangan bahas itu," kata Rania.
"ah iya, aku hanya bertanya, karena Devan Suhendra dua dulu sahabatku, dan wajah suamimu seperti pinang di belah dua dengannya," jawab David tersenyum.
"iya om," jawab Aditya.
mereka pun berbincang dan merencanakan tahun depan di Surabaya untuk acara selanjutnya.
"biasa mas, Randi, Fero dan Gadis, apa mas gak ngajak satu wanita, agar Gadis ada temennya," tanya Fahri.
"aku boleh ikut," kata Rania yang bergabung juga.
"bak yakin?" tanya Arkan.
"boleh ya mas, aku tak mau pergi ke pesta itu tanpa kamu," mohon Rania.
"baiklah, tapi kita harus membeli barang-barang safety untuk mu," kata Aditya yang memang Rania belum memiliki perlengkapan safety satu pun.
"tidak perlu, mbak Rania bisa mengunakan milik Amma, toh tubuhnya juga tak berbeda jauh, kalau sepatu yang susah," kata Aryan.
"tenang, ukuran sepatu mbak dan Mbak Wulan sama kok, jadi boleh ya mas," kata Rania yang di angguki oleh Aditya.
acara pun di lanjutkan jingga sore, toh keluarga Surabaya akan menginap, dan sore hari mereka pun rombongan ke daerah Tembelang.
Fandi harus nyekar, begitupun semua orang. tujuh mobil saling beriringan menuju ke makan desa tempat tinggal lama mereka.
mobil berhenti di makam desa yang nampak ramai, semua orang yang melihat kedatangan mereka pun terkejut.
pasalnya keluarga Noviant datang bersama-sama, setelah berdoa mereka pun menabur Bunga.
__ADS_1
Arkan dan Aryan bahkan menguruk makan siang eyang buyut yang sedikit amblas.
setelah dari makam, mereka pun menuju ke rumah lama yang sekarang sudah menjadi panti asuhan.
karna terlalu malam, akhirnya mereka semua memutuskan bergabung sholat magrib di masjid desa.
Rafa di minta untuk jadi imam kali ini, dan diapun menyanggupinya, setelah itu mereka memilih berkumpul bersama semua warga.
tapi tidak dengan Arkan dan Aryan yang tertarik oleh sesuatu, Faraz yang penasaran pun mengikuti kedua sepupunya itu.
"kalian mencari apa?" tanyanya.
"entahlah, aku tadi tak sengaja melihat sesuatu yang lewat, bayangan putih yang sangat familiar," jawab Arkan.
"apa itu," tunjuk Faraz gemetar.
"ah... itu mahluk apa tapi?" tanya Aryan yang memicingkan matanya.
pasalnya dia baru melihat makhluk seperti itu, dan anehnya makhluk itu memiliki kesamaan energi dengan faraz.
"sepertinya kalian berjodoh Faraz, jadi coba maju dan bicaralah dengannya," kata Arkan mendorong Faraz.
"tunggu dulu, aku tak mengerti kenapa harus aku," panik Faraz yang telanjur maju.
mahluk itu mendekat dan menyentuh Faraz, matanya berwarna ungu dengan rambut putih panjang dengan gaun putih.
Faraz pun merasakan sesuatu dan di bawa ke dimendi mahluk itu, sedang Arkan menjaga pemuda itu agar tak teluka.
"halo, aku Nania, kamu siapa?" tanya gadis cantik itu.
"aku Faraz, tapi sekarang kita dimana ini, kenapa begitu banyak kristal," tanya Faraz bingung.
"ini rumah ku, dan hanya kamu yang bisa masuk, aku ingin ikut dengan ku boleh?" tanya Nania
"tidak bisa, aku tidak boleh memelihara jin kafir oleh ayahku," jawab Faraz jujur.
"tapi aku jin baik, dan aku akan belajar agama mu," kata makhluk itu.
"baiklah," jawab Faraz tak bisa menolak.
Arkan pun menyentuh tubuh Faraz saat mahluk itu masuk dan menyatu dengan sepupunya itu.
"kamu boleh ikut Faraz, tapi sekali kamu melukainya, kamu akan musnah di tangan ku," ancam Arkan.
"aku mengerti itu prabu, aku akan bersikap baik dengan tuan Faraz," kata makhluk itu.
__ADS_1