
hari ini pernikahan dari Gadis dan Randi, keduanya pun sudah bersiap di Mushola terdekat untuk melakukan ijab qobul.
terlihat Gadis cantik dengan gamis sederhana berwarna putih, sedang Randi juga mengenakan baju Koko putih juga.
Arkan dan Aryan menjaga di luar, mereka di temani seorang pria yang mengerti dunia ghaib tapi versi agama dari orang tua Randi.
"Arkan, kamu bisa melihat aura pria itu?" tanya Aryan
"memang kenapa? kamu tak yakin dia bisa ikut bersama kita untuk menyelamatkan mbak Gadis?" tanya Arkan yang mulai mengenakan ikat kepala batik yang terdapat mustika merah.
begitupun dengan aryan, "Kuta mulai pestanya, karena mereka sudah datang," ajak Aryan sudah memutar bambu kuning di tangannya.
Arkan pun mengangguk dan menyeringai, keduanya berdiri di depan pintu masuk mushola.
orang pintar yang di bawa keluarga Kong nampak syok dengan apa yang dia lihat.
pasalnya Nyang datang adalah bala tentara mahluk ghaib dengan semua jenis bentuk.
Raka dan Rafa keluar dan mulai mengenakan ikat kepala yang sana dengan Arkan dan Aryan.
"koh Iwan, bagaimana? apa semuanya beres," tanya ayah Randi.
"maaf ... saya tak sanggup melawan mereka, mereka bukan hanya satu tapi ribuan," jawab pria itu yang ketakutan hingga membuatnya lemas.
"tapi mereka berempat?" tanya ayah Randi.
"mereka sedang berusaha melawan para makhluk jahat untuk menyelamatkan putra dan menantimu," jawab pria itu.
sedang di dalam ruangan Wulan yang menjaga Randi dan Gadis yang pergi untuk mengembalikan bunga ghaib yang di ambil oleh Siska.
dan jika memungkinkan mereka juga akan mencari tubuh Siska agar segera di temukan oleh tim evakuasi.
Arkan pun terlihat begitu mudah mengalahkan semua setan level rendah itu.
sedang Aryan juga berhasil menundukkan beberapa hewan, tapi kalau siluman itu tugas arkan untuk menundukkan semuanya.
sudah hampir selesai, sedang Wulan menjaga agar kedua orang itu tak tersesat.
Arkan menancapkan bambu kuning itu dan membuat pagar ghaib. Aryan tertarik dengan satu sosok yang begitu begis.
bahkan dari mulutnya terlihat ada bekas darah, makhluk itu menyeringai kearah Aryan.
"pecundang....." geram makhluk itu mengejeknya.
Gadis dan Randi sudah berada di sebuah hutan yang begitu lebat, dan kabut turun dengan sangat pekat.
tangan keduanya terikat dengan kain merah, dan jika kain berubah hitam mereka harus memanggil nama Wulan agar bisa di tarik kembali.
"sekarang cari tempat bunga itu berada, dan letakkan di tempat itu kemudian minta maaf," perintah Wulan melalui suara yang terbawa angin.
"iya Mbak," jawab Gadis dan Randi.
__ADS_1
mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak, mereka melihat hamparan taman bunga yang begitu indah
keduanya pun menaruh bunga itu, tapi tak terduga mereka malah terpental jauh.
Randi bahkan sempat menabrak pohon. hingga berpengaruh pada jasad pria muda itu.
Wulan pun terhenyak, tapi tak terduga Arkan mengantikan sang Amma, "biar aku yang melanjutkan Amma, karena aku tak ingin Amma dalam masalah,"
Wulan pun mundur dan kini membantu untuk menjaga pagar ghaib yang sudah di buat sangat kokoh.
Arkan pun malah bisa mengikuti masuk ke dimensi lain itu, "halo Nyai linggi, apa kami mengangguku," tanya Arkan yang baru datang.
Gadis membantu Randi bangun, Arkan tersenyum sambil membawa golok pusaka milik keluarganya.
"wong loro kuwi wani ngganggu omahku, iki kebon kembangku lan sombong banget yen dheweke ngethok kembangku. (mereka berdua berani mengganggu rumahku, ini adalah taman bunga milikku dan sangat lancang mereka memetik bunga milik ku.)" kata nyai linggis dengan wajah merah padam.
"Nyai aku njaluk ngapura, amarga ora salah yen ana sing methik kembang kuwi tanpa ijin, banjur dilebokake ing tas duweke wong wadon sing jenenge Gadis kae. (saya memohon maaf atas nama keduanya kepada Nyai, karena ini bukan kesalahan mereka karena ada seseorang yang memetik bunga itu tanpa izin, dan menaruhnya di tas milik wanita bernama Gadis itu.)" kata selain menangkupkan tangannya begitupun Randi dan Gadis.
"Aku tansah ora bisa nolak njaluk ngapuramu wong nggantheng, nanging aja dibaleni lan cah wadon endi sing wani njupuk kembangku lan bakal dakdadekake baturku. (aku selalu tak bisa menolak permintaan maafmu pria tampan, tapi jangan di ulangi dan mana gadis yang berani memetik bungaku dan akanku jadikan pelayanku.)" tanya Nyai linggi.
"maaf menjawab Nyai, dia sudah di bawa oleh makhluk yang ingin mencelakai saya juga, itulah kenapa saya datang mengembalikan bunga milik Nyai," kata Gadis.
"sapa sing wani ngganggu kowe, aku bakal nulungi kowe, mrene anakku, aku bakal weruh auramu lan dilacak, bakal dirumat anakku sing ganteng. (siapa pun makhluk yang berani mengganggu kalian, aku akan membantumu, kemari nak aku akan melihat auramu dan melacaknya, kita membereskannya kan anak tampanku.)" kata nyai linggi.
Gadis memberikan tangannya dan Nyai linggi melihat semua kenangan dari wanita itu.
setelah itu nyai linggi tersenyum kejam, "onok demit seng wani mentang-mentang nantang aku, Dee gorong eroh sopo Nyai Linggi," gumam nyai linggi.
"kita berangkat Nyai, kebetulan saya juga bawa bala bantuan," kata Arkan sudah memanggil Ki Adhiyaksa dan sen-sen, harimau hitam pelindung dirinya.
gadis dan Randi pun tiba-tiba tersedot masuk kedalam tubuhnya, Wulan pun langsung memberikan air minum.
sedang Arkan dan Nyai linggi menuju kesebuah goa yang begitu gelap dan lembab.
terlihat di dalam itu begitu gelap, tapi Nyai linggi melempar bola api ke arah kegelapan goa itu.
ternyata makhluk jahat itu sedang memadu kasih dengan Siska, wanita itu sudah nampak pucat tapi tak bisa berhenti.
"innalilahi wa innailaihiilaihi Raji'un," gumam Arkan menutup matanya.
makhluk itu menurunkan tubuh Siska yang sudah pingsan, Nyai linggi begitu murka melihatnya.
"Aku mikir makhluk gaib endi sing wani nyerbu wilayahku, nanging jebule Ki Gondo sing golek pati.( saya kira makhluk sakti mana yang berani mengusik wilayahku, tapi ternyata ki Gondo yang cari mati.)" kata Nyai linggi marah.
"maaf nyai, aku hanya ingin memiliki wanita ini, dan tak berniat mengusik pemuda itu dan yang lain," jawab makhluk tinggi besar dengan bulu hitam di sekujur tubuhnya.
"ya wes lek ngunu, aku ngapuro awakmu, tapi balekno cah kae Nang dunyo ne, dee gak harus e panggonan Nang kene, (ya sudahlah kalau begitu, aku memaafkan kamu, tapi kembalikan gadis itu ke dunianya, dia tak seharusnya tinggal di sini,)" kata Nyai linggi.
"mboten saget nyai, dee wes meteng marang aku, dadi dee arep tak dadekno dayangku Nok kene, lek Nyai ora setuju aku bakal musuh ngajak gelut ilmu, gak Wedi, (tidak bisa Nyai, dia sudah hamil bersamaku, jadi dia akan ku jadikan istriku di sini, kalau nyai tidak setuju aku akan mengajak nyai melawan ilmu denganku, aku tak takut,)" jawab makhluk itu sombong.
"piye cah nggantheng, ora iso awak Dewe misah wong loro kae, amargo wes onok anak, (bagaimana cah tampan, tidak bisa kita memisahkan mereka berdua, karena sudah ada anak)" tanya nyai linggi.
__ADS_1
"saya tak mempermasalahkan itu nyai, tapi setidaknya tolong buat jasadnya bisa di ketemukan oleh tim SAR, karena keluarganya butuh bukti agar tak berharap tentang putri mereka," kata arkan.
"aku tak bisa, tapi aku janji akan membuatnya bahagia," kata makhluk itu yang kabur begitu saja.
Arkan ingin mengejar makhluk itu tapi nyai linggi menahannya, "sudah dia sudah pergi, cepat kembali dan ada keluargamu yang butuh pertolongan," kata nyai linggi mendorong Arkan kembali ke dalam tubuhnya.
"uhuk ... uhuk ... uhuk..."
Wulan pun menepuk punggung putranya itu pelan, "kamu baik-baik saja nak?" tanya Wulan.
"tidak ada yang baik Amma, karena ada masalah besar!" teriak Arkan yang langsung berdiri dan berlari keluar mushola.
semua pun kaget karena Arkan mencabut bambu kuning yang tertancap di tanah.
Aryan langsung berlari menangkap makhluk yang dari tadi mengusiknya. tapi tak terduga Arkan juga menghampiri makhluk itu.
"dimana dia, dan katakan Semuanya," kata Arkan menarik makhluk itu.
"ha-ha-ha tak akan bisa kamu membunuh ku," kata makhluk itu melempar kedua saudara itu.
tanpa di duga nyai Ageng tri mustika datang dan langsung melilit tubuh makhluk itu dengan erat.
"katakan dimana Mbah buk Vera!!" teriak Arkan yang mengejutkan semua keluarganya.
"dia sudah jadi istriku, dan kamu tak akan bisa mengambilnya dariku," kata makhluk itu menarik dan mematahkan ekor dari nyai Ageng tri mustika.
"tidak!!!" marah Aryan yang melihat buruk itu.
Nyai Ageng tri mustika pun sudah terluka parah, Aryan pun marah besar melihat teman miliknya terluka.
"argh....."
pemuda itu berubah, tanda di lengannya menyala, mata merah dan tubuh Aryan mengeluarkan sisik ular.
dia pun langsung menyerang makhluk itu dan di bantu Raka dan Rafa. ketiganya pun bertarung.
sedang arkan yang terluka berubah bangkit dan mengobati Nyai Ageng tri mustika.
"tolong selamat dan kembali semua Aryan ..."
Nyai Ageng tri mustika berubah menjadi ular dan harus berada di wujud itu untuk memulihkan kondisinya.
Aryan terlihat berigas, bahkan pemuda yang biasanya akan berdiri di belakang Arkan.
kini bahkan bisa membuat makhluk ghaib yang berusia ratusan tahun berteriak kesakitan karena pukulan di kepala.
bahkan makhluk itu pun kehilangan dua tanduknya yang di patahkan oleh Aryan.
"kamu salah cari musuh ..." kata Aryan yang masih belum puas.
"tolong maafkan aku tuan, aku akan mengatakan Semuanya pada kalian semua." kata makhluk itu yang sudah tak berdaya.
__ADS_1
Rafa bersiap menyegelnya di sebuah batu besar, sedang Raka menyentuh kepala makhluk itu untuk membaca semua ingatannya.
setelah selesai makhluk itu sudah terperangkap dan tak mungkin bisa keluar kecuali ada yang melepaskannya dari segel itu.