Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
Hantu sekolah baru


__ADS_3

Arkan berjalan tapi langkahnya terhenti, begitupun dengan Aryan dan Emily.


ratu yang tak sadar dan memang tak bisa melihat mereka, dia berjalan dengan santai tanpa takut.


"kalian ada apa? kenapa berhenti, apa ada yang aneh?" tanya ratu tertawa.


ketiganya berdiam karena melihat sosok hantu siswi dengan kepala miring dan otak yang meleleh keluar dari tempurung kepalanya.


bahkan darah terus mengalir dari seluruh tubuhnya, hantu itu melayang mendekat kearah ratu.


Aryan langsung menendangnya, tapi hantu itu tembus akan hal itu. "brengsek," tarik Aryan langsung mendorong ratu menjauh.


Emily menahan tubuh saudara sepupunya itu, sedang hantu itu masuk ke tubuh Aryan.


"hi-hi-hi-hi, aku bisa berlari!!!" teriak Aryan yang kerasukan.


Arkan menahan tubuh Aryan, dia menekan tangan Aryan untuk menyadarkan adiknya itu.


hantu itu keluar dari tubuh Aryan, dan pria mudah itu langsung muntah, "jika kau mau bicara kemarilah," panggilnya dengan mengulurkan tangannya.


Emily bergidik ngeri, pasalnya hantu itu begitu lusuh, darah di mana-mana dan lagi otak yang meleleh itu sangat membuat mual.


Arkan tertarik ke sebuah ruangan, bau yang sangat buruk, air kotor di mana-mana.


"ini adalah toilet ..." lirih Arkan.


dia melihat sebuah aliran air kotor di lantai dan melihat seorang gadis yang sedang menangis di sana.


dia mendekat dan bisa melihat dengan gadis yang sedang menangis lirih.


gadis itu ternyata adalah hantu gadis muda berseragam SMA itu, "Lila..."


gadis itu berdiri dengan tubuh basah, dan segera mengelap air matanya. dia begitu kotor karena di siram air bekas pel.

__ADS_1


"bullying, kenapa harus ada!" kesal Arkan.


Lila keluar dengan tangis yang masih belum mereda, tak terduga seorang pria melemparkan handuk padanya.


"kamu diam, dan lekas keringkan dirimu, jangan membuat keluarga kita malu," kesal Bakti yang juga murid baru tahun itu.


"iya kak.." jawab gadis itu.


Lila berjalan perlahan sambil menahan berat tubuhnya, ternyata Arkan baru melihat jika gadis itu cacat.


kaki gadis itu bengkok sebelah, jadi cara berjalan dengan susah payah, "dasar adik cacat, bikin malu," kata Bakti yang kemudian pergi.


Arkan yang mendengar pun ingin sekali membunuh pria seperti Bakti, karena bisa mengatakan hal buruk pada adiknya sendiri.


tapi Arkan mengurungkan niatnya, dan mengikuti Lila, wanita itu sekarang mengambil kaos olahraga untuk berganti baju.


tapi ternyata baju itu juga sudah di tumpangi jus buah naga, "maaf ya, habis tanganku licin," kata Anita pada Lila.


"Anita, Vera, virnie, ikut bapak ke kantor, dan Lila ambil baju ini lekas ganti, janhan sampai kamu sakit," kata Adit yang datang dengan wajah dingin dan marah.


Adit tak suka dengan bullying, dan itulah tugasnya sebagai seorang kepala sekolah.


Lila berjalan dengan senyum di wajahnya, "pak Adit selalu baik padaku ..."


Arkan diam, karena dia tau reaksi itu adalah reaksi seorang wanita yang sedang jatuh cinta.


Arkan berlari ke arah kantor kepala sekolah ternyata Anita dan geng benar-benar kena marah.


tapi bakti datang dan memberikan bukti jika Anita tak sepenuhnya salah.


"apa ini bakti?"tanya Adit.


"itu yang sebenarnya, kenapa Anita yang begitu jahat pada Lila, karena adik saya sudah melakukan hal buruk,"

__ADS_1


Adit pun tak bisa berbuat banyak, terlebih ada bukti kongkrit di depannya.


"tolong panggilkan Lila, dia harus menjelaskan semua ini," marah dari Adit.


Bakti mengangguk, dia sempat tersenyum kearah Anita sebelum pergi.


Arkan mengikuti Bakti, dan melihat pria itu yang langsung mencengkram erat lengan Lila dengan erat.


"ada apa mas, sakit..." tangis Lila yang memang cengeng.


"sudah tak perlu berpura-pura lemah, kamu itu menyebalkan tidak di rumah atau sekolah, sekarang pak kepsek memanggil mu, dia ingin bertanya sesuatu, apapun pertanyaan yang dia ajukan, iyakan jika tidak kamu akan tau apa yang bisa aku lakukan pada ibumu yang tak berguna itu," ancam Bakti.


"iya mas, maaf ..."


Lila pun di tarik oleh Bakti kearah ruangan kepala sekolah, mereka berdua langsung masuk dengan Lila yang menahan rasa sakit.


"iya pak, ada apa memanggil saya?" tanya Lila yang nampak ketakutan.


"aoa benar jika kamu melakukan pencurian, soalnya ini ada bukti yang menunjukkan kamu mencuri barang dari tas Anita," kata Adit menunjukkan video itu.


Lila menoleh kearah Bakti, dia tak melakukan itu karena itu adalah perintah bakti yang ingin mengambil jam tangan miliknya yang tak sengaja di ambil oleh Anita kemarin pas kerja kelompok.


bakti menatap tajam kerah Lila, tak hanya itu, bakti seakan menginggatkan dirinya tentang ancaman darinya.


"maaf pak, karena jam tangan itu terlalu bagus," jawab Lila


"sudah, aku mengerti, sekarang kalian semua dapat surat peringatan, besok minta orang kalian untuk datang ke sekolah," perintah Adit.


"tolong jangan saya mohon ya pak, jangan panggil orang tua kami..." mohon Lila.


"seharusnya sebelum kamu melakukan itu seharusnya kamu tau apa konsekuensi dari mencuri," kata Adit tegas.


"mampus..." kata Anita.

__ADS_1


"dan untuk mu Anita, seharusnya kamu juga tak melakukan hal buruk pada teman mu, jadi besok kamu juga panggil orang tua mu untuk datang, tak ada bantahan, sekarang lebih baik bubar!" bentak Adit.


"baik pak," kaget Semuanya yang langsung pergi buru-buru.


__ADS_2