
Arkan dan Aryan hanya tersenyum penuh harap, "kami baru pulang beli sate ayam di menganto, langganan ayah nih," tunjuk Aryan mengangkat bungkusan yang di bawanya.
"benarkah, ayo masuk tadi Amma sudah masak dan ayah kalian kaget saat tak menemukan kalian di kamar," kata Wulan yang menyahut dari dalam.
"terima kasih Amma," jawab Aryan dan Arkan buru-buru masuk.
Raka melihat Ki Sesnag yang melihat ke arah rumah dan mengangguk sebelum pergi.
Wulan sudah menyiapkan semuanya di ruang tengah, "wah Anna tumben masak bebek untuk sahur?" tanya Arkan
"Amma sedang ingin sayang, dan kebetulan kamu bawa sate ayam karena Amma ingin makan bumbu sate," jawab Wulan.
"boleh kok Amma, selama adik kamu tak ngiler saat keluar nantinya," jawab Arkan tersenyum.
"adik apa? Amma lagi?" tanya Aryan kaget.
"benarkah sayang kamu hamil?" kaget Raka juga.
"tidak kok, Arkan menggoda Amma nih, kan Amma sudah tua," jawab Wulan.
"belum tua Amma, saat kita bertarung, Arsana tak sengaja menyentuh perut Amma, dan langsung meminta kami melindungi Amma, ternyata dia sadar jika Amma sedang hamil," terang Arkan.
"benarkah? tapi mens Amma datang tepat waktu," jawab Wulan jujur.
"kita besok periksa ke dokter, akan lebih baik," kata Raka yang nampak bahagia.
"boleh saja ayah, tapi aku mohon jangan kecewa jika ternyata ucapan ku salah," kata Arkan sedikit khawatir
"tenang saja arkan, kami akan bahagia jika Amma hamil lagi, dan tak akan sedih jika itu memang tak terjadi karena kami sudah memiliki kalian berdua," jawab Raka yang mengerti kegelisahan dari sang putra.
"baiklah apa boleh kita makan, aku sangat lapar," kata Aryan.
"baiklah ayo," jawab Raka
mereka pun sahur dengan penuh kebahagiaan, bahkan Aryan dan Arkan terus berebut dan berhasil menciptakan suasana menyenangkan.
keesokan harinya, warga pun geger pasalnya ucapan Arkan benar-benar terjadi.
genangan air itu meninggalkan bekas di area belakang rumah Mbah idon, bahkan tanah yang begitu luar seluruhnya tergenang air semata kaki.
Rafa mencoba menelepon keponakannya itu,tapi kedua keponakannya tak Ada yang menjawab panggilannya.
"biar aku saja yang menjemput mereka ayah," jawab Faraz.
"baiklah nak,bawa kedua saudara mu itu kemari," kata Rafa menepuk bahu Putranya pelan.
"iya ayah," jawab pemuda itu yang bergegas pergi.
sesampainya di rumah paklek nya, Faraz bingung karena rumah itu begitu sepi.
__ADS_1
Faraz pun memutuskan untuk lewat pintu samping ternyata terbuka, dan langsung menuju ke kamar kedua saudara itu.
"Arkan ayo bangun, ayah butuh bantuan mu untuk bisa menggali tanah di belakang rumah keluarga Dewi," kata Faraz mengoyangkan tubuh saudara sepupunya itu.
"kenapa ih ... ganggu banget, tinggal gali saja," jawab Arkan yang masih belum membuka mata.
"tidak bisa, bahkan kapak pun tak bisa menyentuh tanah itu," kata Rafa.
"ambil bambu kuning di belakang rumah empat batang, dan kemudian nyalakan dupa dan berdoa, ingat tancapkan di empat mata angin ya, terus jangan lupa taburkan garam krosok sebelum menggalinya," kata Arkan.
"baiklah, kalau begitu, dasar kebo nih," ketus Faraz yang kemudian pergi mengambil apa yang di beritahukan oleh Arkan.
dia pun menebang bambu kuning sesuai arahan, mengambil rupa yang ada di lemari tempat penyimpanan rumah itu dan mengambil garam krosok satu kresek hitam cukup besar.
Faraz pun pergi sedang Arkan melanjutkan tidurnya karena dia terlalu ngantuk dan juga mumpung sekolah libur.
Rafa kaget melihat putranya kembali tanpa mengajak sepupunya. tapi Rafa tau jika putranya itu membawa barang yang berguna.
"ayah ini di minta oleh Arkan, katanya bisa membantu," kata Faraz.
"baiklah ayo kita lakukan," kata Rafa yang memimpin semua orang.
Faraz menancapkan bambu kuning itu sesuai instruksi, dupa sudah di bakar dan Faraz mulai membaca alfatihah sambil menaburi garam berkeliling.
tiba-tiba Faraz terjatuh, "Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"tidak apa-apa ayah, aku baik-baik saja," jawab Faraz yang berdiri.
tak lama air yang terkenang itu tiba-tiba terserap masuk kedalam tanah, para warga pun ingin menggali tanah itu langsung.
"tunggu dulu semuanya, tak perlu mengaku karena-"
boom... belum selesai ucapan Faraz, tanah itu seperti meledak dan terlempar ke udara.
ternyata di dalam lubang itu begitu banyak tulang kerangka, dan semua warga pun kaget melihatnya.
polisi datang dan langsung mengamankan tempat kejadian, mereka pun segera memindahkan semua kerangka manusia itu.
"terima kasih tuan Rafa, kami akan bekerja dengan segera, atas semua bantuannya saya ucapkan terima kasih," kata kepala polisi.
"iya pak sama-sama," jawab Rafa.
mereka pun bubar dari rumah itu, sedang Dewi dan Mbah sum ketakutan.
pasalnya mereka tak tau jika Mbah idon memiliki rahasia ini, terlebih pria itu tak pernah terlihat membunuh orang.
Faraz pun ikut pulang ke rumah, Rafa sadar jika mata batin putranya terbuka lagi.
"Faraz jika kamu bisa melihat hal aneh jangan kaget ya, karena mata batin mu terbuka," kata Rafa.
__ADS_1
"iya ayah, sebenarnya beberapa bulan ini aku merasa jika tubuhku merasa aneh terlebih saat melewati tempat yang di bilang angker," jawab Faraz.
"sepertinya mata batin mu memang sudah mulai terbuka ya, tapi tak apa-apa ayah yakin kamu bisa membantu orang dengan mata batin mu," kata Rafa.
sedang di rumah sakit, raja sedang merasa cemas, tegang dan khawatir. pasalnya dia tak tau Wulan sedang hamil atau tidak.
"nyonya Wulansari Rakasa silahkan masuk kedalam," panggil suster sesuai dengan urutan daftar di loket.
keduanya pun masuk kedalam, mereka bertemu dokter spesialis kandungan.
"ada yang bisa di bantu Bu?" tanya dokter itu.
"saya hanya ingin memastikan apa saya sedang hamil atau bagaimana, karena tubuh saya merasakan ciri-ciri wanita di awal kehamilan," terang Wulan penasaran.
"baiklah Bu, silahkan berbaring di ranjang periksa, kita akan melakukan USG, dan bapak di mohon jangan berharap apapun karena saya takutnya kecewa," kata dokter.
"tenang dokter, setidaknya kami sudah memiliki tiga anak kembar yang beranjak dewasa," kata Raka tersenyum karena bagaimanapun dia juga mengenal dokter Rio.
setelah berbaring, perut Wulan di beri gel untuk mempermudah saat nantinya alat USG memeriksa kondisi pasien.
perlahan alat itu mulai menyusuri perut Wulan, dan terlihat ada sebuah kantong di dalam rahim Wulan.
dokter Rio pun melihatnya dan memastikan ternyata benar, dokter Rio tersenyum kearah keduanya.
"jadi bagaimana dokter? apa ada sesuatu?" tanya Raka khawatir.
"tidak ada apa-apa, nyonya hanya harus istirahat tak boleh lelah, dan bulan depan harus kembali kesini untuk melihat perkembangannya," kata dokter Rio.
"maksudnya dokter," tanya Wulan tak percaya.
"selamat nyonya, sekarang anda sedang hamil delapan Minggu," jawab dokter Rio.
"terima kasih dokter," kata Wulan begitu bahagia.
Raka pun tak kalah bahagia dengan sang istri, dia tak menyangka akan di berikan rezeki di usianya.
raka pun memeluk istrinya itu, mereka pun kini antri di bagian apotik untuk mengambil obat.
setelah itu mereka pun memutuskan untuk belanja di pasar legi. karena stok ikan di rumah sudah habis.
Raka pun di buat bingung karena Wulan membeli beberapa kilo daging, dan juga ikan laut berbagai jenis.
mulai dari kerang, ikan dorong, ikan bara kuda, dan juga tengiri. setelah puas mereka pun pulang karena sudah cukup siang.
"mas tolong beli lele juga yuk,nanti di goreng enak tuh," kata Wulan.
"tidak dek , di rumah tak ada yang suka makan lele, lebih baik kita pulang," ajak Raka pada istrinya itu.
Wulan pun terpaksa ikut Raka, toh yang di katakan Raka itu benar.
__ADS_1