
"maafkan aku ..." lirih Wulan.
Raka pun langsung memeluk istrinya itu, "maafkan aku juga, seharusnya aku yang menjaga mu,"
"sudah Faraz, sekarang bawa Husna masuk ke dalam," kata Bu mut.
"terima kasih Mbah," jawab Faraz.
Aryan menemani sepupunya itu, sedang Arkan dan Raka meminta Wulan juga untuk beristirahat.
kini pak Suyatno, Fahri, Raka dan Arkan menunggu kedatangan dari Jasmin.
benar saja tak lama Jasmin datang dengan keadaan marah, Aditya juga sudah mengajak Adri dan Rizal juga.
"kembalikan putra dan putri ku, jangan menahan mereka, kalian keluarga yang tak tau diri," marah Jasmin yang langsung mengomel.
"ayolah bude, kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," kata Arkan.
"tutup mulutmu bocah, aku bicara dengan ayah mu itu?"
"bude yakin marah pada ayah, bukankah bude ingin menjadi istrinya, tapi tentu itu tak mudah, karena aku akan membuatmu cacat kalau masih berani melakukan itu," kata Arkan yang mulai berjalan mendekat.
"kau mau apa, dasar pria gila, ingat aku ini istri pakde mu, jangan kurang ajar," teriak Jasmin yang mundur perlahan.
"sayangnya pakde ku sudah meninggal dunia," jawab arkan yang ingin mencekik wanita itu.
tapi Aditya menahan pemuda itu, tapi tak terduga, Jasmin langsung menyerbu masuk sendirian.
Fahri langsung menahan wanita itu, "cukup aku tau jika kelakuan mu selama ini menyebalkan, jangan paksa aku untuk berbuat kejam padamu," marah pria itu.
Jasmin menampar Fahri tapi pria itu tak bergeming sedikitpun, bahkan dia malah menyeringai kejam.
"lebih baik sekarang bunda pulang ke Surabaya, tinggalkan kami di desa ini, karena aku akan menjaga adikku sendiri, dan bunda tak perlu khawatir tentang kami," suara Faraz yang keluar dari dalam rumah.
"tidak!!! aku tidak mau melakukan hal itu," teriak Jasmin.
semua warga yang merasa keributan itu sangat menarik untuk di saksikan, terlebih-lebih Jasmin yang sudah seperti orang gila.
"berhenti membuat malu keluarga ayah bunda!!" teriak Faraz.
Jasmin pun berhenti, dia tak menyangka Putranya bisa berteriak seperti itu padanya, "kamu berteriak pada bunda."
"cukup bunda... aku sedih melihat kondisimu, aku tau kehilangan ayah membuat mu gila, tapi aku tak mau jika bunda terus seperti ini, terlebih bunda sering melukai Husna, aku pernah melihat bunda yang ingin membunuh Husna dengan membekapnya dengan bantal...." tangis Faraz.
__ADS_1
"apa..." lirih Jasmin yang kemudian gemetaran terduduk lemas.
"bayi sialan itu terus menangis tanpa mau berhenti, aku hanya ingin membuatnya tidur," gumam Jasmin yang menatap ke segala arah.
bahkan wanita itu menjambak rambutnya sendiri, Faraz ingin menghampiri bundanya itu.
tapi dia mengurungkan niatnya, terlebih Faraz takut jika Jasmin kambuh lagi.
"lebih baik kamu pulang ke Surabaya, dan kembali lagi saat emosi mu sudah stabil Jasmin, biarkan Faraz dan husna bersama kami, karena kamu butuh pengobatan segera.
"tidak mau, jangan mengusirku, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi kecuali anak-anak ku," kata Jasmin.
"tapi masih ada ayah nak," kata pak Handoko yang menghampiri putrinya itu.
pria itu langsung memeluk Jasmin, seharusnya dari awal memang dia membawa Jasmin pergi.
"ayah... lihat mereka yang begitu kejam padaku saat mas Rafa sudah meninggal dunia," tangis Jasmin
"tidak apa-apa Jasmin, sekarang Jasmin ikut ayah ya, Faraz ambil adik mu dan ikut opa untuk tinggal di Surabaya," perintah pak Handoko.
"maaf opa, aku tak bisa melakukan itu, aku ingin tetap disini untuk melindungi semua kenangan ayah, dan aku akan membesarkan adikku di sini dengan semua kenangan ayah," jawab Faraz.
"jika kamu memilih itu silahkan, tapi jangan pernah menyesal karena itu pilihan mu, karena bunda mu harus bahagia," ancam pak Handoko.
"baik opa," jawab Faraz mengenggam tangannya hingga memucat.
Raka langsung memeluk tubuh Faraz, "sekarang kamu putra ku, ingat jangan sedih lagi, jika kamu ingin berkunjung pasti ayah izinkan," kata Raka.
"terima kasih om," jawab Faraz.
"panggil ayah, karena sekarang kamu kakak kami, bang," kata Arkan.
"terima kasih ayah..." lirih Faraz yang kembali bisa merasakan pelukan hangat dari sosok ayah.
Wulan pun juga mengusap kepala Arkan, sekarang dia memiliki dua balita untuk dijaga.
sedang Aryan dan Arkan menyambut baik keputusan Faraz, "Amma setidaknya putra Amma tetap ada dua saat si kampret ini kuliah di luar kota,"
"ya kamu benar, dan Arkan buat kami bangga," kata Raka pada putranya itu.
"Ita ayah, dan Faraz aku titip kedua orang tuaku ya," kata Arkan.
"memang kamu ini ingin belajar dimana? kenapa sepertinya sangat jauh?" tanya Faraz.
__ADS_1
"aku akan mengambil kuliah jurusan bisnis di Singapura, karena aku mendapatkan beasiswa full sampai selesai," jawab Arkan.
"sekarang tinggal aku yang memilih kuliah dekat-dekat sini, dan bang Faraz sepertinya harus mengejar ketertinggalan dari kami," kata Aryan menggoda Faraz.
"sebenarnya tidak, aku sedang fokus untuk menghafal hadis dan Al-Qur'an, karena di pondok juga sangat ketat," jawab Faraz.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya Amma punya putra yang bisa menghafalkan Al-Qur'an," kata Wulan senang.
"Amma mulai lagi deh, ya kamu memang tak ada yang mau menghafalkan Al-Qur'an secara penuh, tapi hafalan jamu juga tak seburuk itu loh," protes Aryan.
"sudah-sudah sekarang Fahri dan Arkan beli sarapan untuk kita semua, mari masuk besan, mas Rizal dan mas Adri," kata pak Suyatno.
"iya pak," jawab ketiganya.
pak Handoko tak mengira panggilan dari cucunya kemarin sore benar-benar membuatnya terkejut.
pasalnya putrinya Jasmin sudah seperti orang stress sekarang.
memang setelah kepergian dari Rafa jiwa Jasmin terguncang, tapi dia tak mengira jika kondisinya seburuk ini.
bahkan putrinya itu bisa berbuat kasar pada keluarganya sendiri, "ya Allah... apa putriku harus seperti ibunya yang gila hingga mati, saya tak berharap hal itu."
mereka pun sampai di Surabaya sudah cukup siang, pak Handoko merangkul Jasmin dan langsung membawanya masuk kedalam kamarnya.
di rumah itu hanya di tinggali oleh pak Handoko dan beberapa pembantu, pria itu memang tak menikah setelah dua di khianati istri keduanya.
dan sekarang dia harus fokus menyembuhkan Jasmin, ada rahasia besar yang tak di ungkapkan oleh Rafa saat masih hidup.
keluarga Jasmin memang memiliki ketenaran dan harta melimpah, tapi harta mereka harus di tukar dengan nyawa keturunan langsung.
mama kandung Jasmin adalah keturunan kedua, Jasmin keturunan ketiga, dan hal itu bisa menurun hingga ke sepuluh keturunannya, baru kutukan harta itu bisa hilang.
siang itu, Husna yang memang sudah hampir satu tahun belajar jalan bersama dengan Raka.
sedang Wulan fokus pada Aluna yang memang masih butuh perhatian lebih, tapi meski begitu Wulan tetap membagi kasih sayang dengan adil.
sekarang rumah pak Suyatno juga semakin ramai, terlebih Faraz dan Aryan terus berdebat.
meski perselisihan di antara mereka terjadi, tapi itu hanya perselisihan perbedaan pendapat saja.
sedang arkan memilih untuk menyelidiki sesuatu, tapi dia harus segera fokus menyelesaikan kuliahnya.
sedang di rumah Niken, gadis itu Reus menciumi tasbih dan hadiah Al-Qur'an yang di berikan oleh Arkan.
__ADS_1
"bolehkah aku berharap dia menjadi imam ku ya Alloh," kata Niken membayangkan senyum Arkan padanya.
dia pun malu sendiri mengingat itu.