
Wulan dan Raka pulang dari pasar dan segera membersihkan ikan dan membuat bumbu dan menyimpannya.
tapi Raka merasa aneh karena tak melihat keberadaan putra-putranya, "rumah ini terlalu sepi untuk di tinggali dua bocah itu," kata Raka.
"mungkin mereka tidur, sebentar aku mau ke belakang dulu mengambil daun pisang untuk buat pepes ikan mas ya," pamit Wulan.
baru juga keluar dari dapur, Dila kaget melihat dua putranya sedang tidur di dipan bambu yang ada di belakang rumah.
"bosan ...." gumam Aryan.
"terus mau ngapain, kita biasanya sekolah sekarang libur..." lirih Arkan yang tidur tengkurap.
"tidak tau, aku kehabisan ide, dan di bulan seperti ini tak banyak arwah gentayangan pula," jawab Aryan yang menghela nafas dalam.
Wulan tertawa mendengar percakapan kedua putranya, "bagaimana jika kalian membantu ayah kalian ke sawah, sekalian cari bekicot atau Tutut," usul Dila yang mengambil daun pisang.
"wah boleh juga itu, ayo kita berangkat, tapi Amma tak boleh masak dengan melukai hewan bukan, nanti bisa ke pengasuh pada adik kami," kata Aryan yang kembali lemas.
"bawa ke rumah Mbah dong, kan Mbah uti bisa bantu," jawab wulan tertawa.
"wah Amma benar, ayo pergi," kata Aryan menarik Arkan.
benar saja ternyata Raka akan ke sawah, mereka pun bergegas ikut naik ke atas motor tossa.
"hei kalian mau apa? ayah mau cari rumput buat sapi Mbah Nang," kata Raka pada kedua putranya.
"kami ikut di suruh cari Tutut, ayo pergi ayah," kata Arkan.
"dasar kalian ini, ya sudah pegangan," kata Raka pada kedua putranya itu.
mereka menuju ke area sawah dan ternyata banyak sawah yang baru selesai panen.
mereka pun mulai mencari apa yang di perintahkan, tak butuh waktu lama mereka pun berhasil mendapatkan setengah ember.
"sudah ayo pulang," panggil Raka.
"iya ayah," jawab Aryan uang berjalan menuju ke arah Raka.
tapi Arkan berlari seperti mengejar sesuatu, dan menjatuhkan tubuhnya hingga ke dalam lumpur.
"Allahuakbar kamu kenapa Arkan, cemong begitu," kaget Aryan melihat saudaranya itu.
"aku dapat burung gemek, lumayan kan bisa di goreng," kata Arkan yang menunjukkan dua tangannya.
"dasar kamu ini, ku kira apa, sudah ayo pulang, nanti Amma kalian marah lagi," ajak Raka.
__ADS_1
mereka bertiga menuju ke rumah keluarga pak Suyatno, Arkan tetap menyapa orang dengan ramah meski tubuh dan wajahnya penuh lumpur.
"gila ya si ganteng tak malu loh, mukanya penuh lumpur seperti ini, Jan Joss tenan," kata Aryan tertawa
"kenapa malu, orang aku tak berbuat salah, lagi pula sekali ganteng tetep ganteng," jawab Arkan pede.
"terserah kamu Arkan, aku mah memang tak bisa menang melawan mu," kata Aryan.
mereka berdua masuk kedalam rumah, ternyata semua sedang berada di dapur kotor.
"wah ayam dari mana ini?" tanya Aryan saat masuk kedalam rumah.
"di kasih oleh Randi, dan itu kenapa kamu beletokan gitu, dasar pasti habis main di sawah ya," kata Fahri kaget.
"habis nangkap burung ini untuk Amma, eh malah jatuh ke kubangan lumpur, Mbah uti tolong masang ini dong," kata arkan memberikan burung gemek yang sudah lemas itu.
"baiklah, minta mbak Nang untuk menyembelihnya dulu," perintah Bu mut.
"sini,kamu mandi dulu, kotor gitu," usir pak Suyatno.
"oke Mbah Nang," jawab Arkan.
"eh... kamu mau kemana dini bantu om dulu, nanti kita masak yang enak loh," ajak Fahri yang berhasil menarik Aryan untuk membantumu mencabuti bulu ayam.
"om..."
"jangan tega kenapa, iya-iya aku bantu," jawab Aryan pasrah.
setelah semuanya selesai, kini mereka menghadap lima ayam dan dua burung gemek berukuran besar itu.
saat sudah matang, kemudian di lanjut di masak kare dengan presto agar cepat empuk.
setelah semuanya siap, kedua pemuda itu pulang dengan di antar pak Suyatno.
sesampainya di rumah menantunya, pak Suyatno pun berhenti untuk melihat nangka mudah yang berbuah.
"Nang ini kan buah nangka yang tak ada isinya itu ya, yang dalamnya hanya ada ndami saja?" tanya pak Suyatno.
"iya pak, jika bapak mau silahkan bawa, orang-orang disini juga sering minta kok," jawab Raka.
"boleh nih buat di masak ibu mu, soalnya besok adikmu ada acara buka bersama di rumah," kata pak Suyatno.
"ih... kok kamu gak di undang?" kata Wulan yang menaruh pisang di motor tossa.
"tentu boleh ikut nak, tapi minta putra mu jangan melakukan hal aneh-aneh," kata pak Suyatno.
__ADS_1
"iya Mbah Nang kami mengerti," kata keduanya yang menyahut.
"dasar kalian ini," kata pak Suyatno.
pak Suyatno pun pamit pulang, Wulan tadi sudah memasak ikan pepes, tapi karena masakan sang ibu berkuah jadi dia memasukkan masakan itu ke kulkas.
Aryan membagi makanan yang tadi di masak Wulan, karena tadi dia memasak cukup banyak.
aryan kaget melihat Faraz yang sedang melamun di bekang rumah, "kamu ngapain bang?"
"aku sedang berfikir bagaimana bisa membedakan yang mana arwah penasaran dan mana manusia," jawabnya dengan wajah ketakutan.
...**************...
halo semuanya dalam hangat dari author. hari ini author ingin promo novel temen ku nih...
sambil nunggu aku up bisa mampir ke tempat mereka dulu yuk..
Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis : SkySal
Cuplikan...
"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.
"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.
"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.
"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.
"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.
"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.
"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.
Penasaran kisah selengkapnya?
__ADS_1
jangan lupa vote, like dan komen🤗🤗🤗🤗