
pakde Kholik dan bude pulang dengan perasaan yang tak menentu, mereka berdua takut jika harus kehilangan Nia.
terlebih gadis itu sudah sangat di sayangi oleh seluruh keluarga, meski dia hanya seorang anak angkat.
Faraz dan yang lain sudah puas bermain di wisata itu, mereka pun ingin pulang dan membeli pesanan dari Wulan.
yang sekarang jadi masalah, ketiganya membawa motor sports, dan bagaimana cara membaca Pete dan beberapa cemilan lain itu.
"bang, ya Allah itu motorku kayak pedagang sayur," protes Aryan.
"udah sih protes Mulu, mau aku suruh bayar makanan nanti," kesal Arkan.
"gak mau lah, itu kan jadwal mu yang bayar, jangan ngeselin ya," kata Aryan pada saudara kembarnya itu.
"sudah, motor ku sudah tak muat, jadi sekarang kita pulang tapi sebelum itu mampir dulu di bakso nuklir ya, karena pasti Semuanya lapar kan," kata Faraz.
"iya bang," jawab keduanya.
mereka pun bergegas pergi, tak sengaja Faraz melihat sosok ki Gondo Rekso dari kejauhan.
Faraz merasa aneh, tapi dia pun tertawa menjalankan motornya tapi kali ini lebih hati-hati.
mereka pun mulai menuju ke daerah Mojowarno, setelah sampai di tempat warung itu.
mereka pun makan terlebih dahulu, Arkan tak sengaja menyenggol Nia, tiba-tiba tubuhnya seperti terbakar.
"argh..." teriaknya pelan.
Faraz yang melihat pun kaget, dan langsung membacakan Al-fatihah, dan Arkan mulai berdzikir pelan.
perlahan rasa sakit itu berkurang, Nia dan yang lain kaget, pasalnya Arkan tiba-tiba jatuh.
"kamu kenapa Arkan?"
"gak papa bang, mungkin ada sesuatu yang menabrak diriku," jawab Arkan.
dia tak bisa mengatakan yang sejujurnya, pasalnya kekuatan yang dia rasakan begitu besar.
mereka pun mulai memesan, dan porsinya cukup besar karena permintaan Faraz.
Raka dan Wulan tak mengira mendapatkan kunjungan dari pakde Kholik dan istri.
"ada apa pakde, sepertinya pakde begitu cemas," tanya Raka melihat raut wajah keduanya.
__ADS_1
"tolong kami nak, aku butuh bantuan kalian untuk menyelamatkan Nia yang akan di jadikan tumbal," kata pakde Kholik jujur.
"kenapa bisa, bukankah persyaratan itu putus saat ari-ari bayi Nia sudah di ambilnya," kata Raka.
"tidak le, itu hanya menundanya selama dua puluh tahun, dan sekarang dia ingin menumbalkan putriku," tangis bude Kholik.
"ayah, kali ini seakan mustahil membantunya, dulu saja kita hampir meregang nyawa, dan sekarang," lirih Wulan.
"tapi Amma, selama ayah memiliki kemampuan pasti ayah bantu," Jawab Raka.
"ada satu hal yang bisa di lakukan, aku tau ini dosa besar, tapi bisa di coba, karena waktu kita hanya sampai tanggal lima belas bulan purnama yang bertepatan dengan hari Jum'at," kata pakde Kholik.
"apa itu pakde?" tanya Raka.
"yang pertama membuat Nia kehilangan keperawanan tanpa menikah, tapi konsekuensinya pria itu bisa mati terbunuh setelah melakukannya dengan Nia, dan yang kedua, aku harus mencarikan jin atau siluman yang bisa membunuh Among aji," kata pakde Kholik.
"apa.... kenapa harus menikahkan Nia dengan makhluk ghaib pakde, apa tidak ada cara lain?" tanya Wulan sedih.
"bagaimana bisa, apa kalian rela menumbalkan pria untuk menyelamatkan Nia, padahal kamu tau kondisinya," jawab pakde Kholik.
"tapi putra kita bisa sedih jika tau Nia harus menikah seperti ini..." sedih Wulan uang pasti tak akan bisa melihat kesedihan Faraz.
"tapi ayah juga tak bisa melihat putra kita mati mengenaskan, karena kasus Nia lebih bahaya di banding dirimu Amma," kata Raka.
Raka pun akan membantu mencarikan jin atau siluman yang memiliki kemampuan tinggi, tapi dia harus tau kehebatan pria itu dulu.
ketiga pemuda itu pun pulang setelah kenyang makan, selama perjalanan Ki Gondo Rekso terus mengikuti Faraz.
sesampainya di rumah, kebetulan kedua orang itu belum pulang, dan masih membahas sesuatu.
melihat kedatangan dari ketiga motor itu, mereka pun menghentikan percakapan mereka dan menyambut ketiganya.
Nia nampak begitu bahagia ikut bersama rombongan dari faraz dan yang lain.
"assalamualaikum..." sapa para gadis yang masuk terlebih dahulu.
Wulan menyapa ketiganya dan memeluk para gadis, pakde Kholik melihat sosok Niken.
"siapa gadis ini?" tanya pakde Kholik terlihat sumringah.
"dia kekasih Mbah de, jangan berani memikirkan hal gila, atau aku tak segan pada anda," kata Arkan yang masuk membawa uwi dan salak.
"tenang Arkan, ingat Mbah de lebih tua darimu," kata Faraz yang membawa Pete dua ikat besar.
__ADS_1
"ya kalian berdua menyiksaku, bagaimana aku harus bawa telo ungu ini sendiri," kesal Aryan yang ikut masuk.
Arkan sudah mengibarkan bendera perang terhadap Mbah de-nya itu, Niken mengenggam tangan kekasihnya itu.
"tenanglah," bisik Niken.
"kalian bertiga cuci wajah dan bersih-bersih, jangan lupa sholat," kata Raka memerintahkan keenamnya masuk.
"baik om," jawab Niken dan Nayla.
begitupun dengan ketiga pria muda itu, Wulan melihat gelagat mencurigakan dari sang pakde.
"jangan berani menyentuhnya jika tak ingin akan yang turun tangan untuk menyakiti anda," kata Wulan menginggatkan.
"tapi tubuh gadis itu bisa mengantikan Nia, dan dia juga memiliki hal yang besar dan bisa membuatnya selamat," kata pakde Kholik.
"Mbah de!!! jangan sampai aku lupa siapa anda, karena berani memikirkan hal busuk itu!!" teriak Arkan murka.
semuanya kaget, karena teriakan Arkan cukup keras, "Arkan yang sopan saat bicara pada orang tua," tegur Raka.
"ayah tau, aku tak pernah bisa sopan pada orang yang berani mengusik semua milik ku, terlebih Niken," jawab Arkan.
Raka pun menghela nafas, ini sudah semakin Keos, terlebih arkan yang sudah terpancing emosi.
"Arkan apa susahnya, wanita di dunia ini banyak, lagi pula gadis itu tak akan mati," kata pakde Kholik.
"kenapa tidak kamu saja yang menggantikan posisi Nia untuk jadi tumbal, asal kamu tau tubuh gadis itu sudah setengahnya sudah di kuasai ilmu dukun itu," saut Arkan keceplosan.
"apa maksud mu Arkan!" kata Faraz menarik adiknya itu.
"ya, wanita yang kau cintai itu sekarat, sekarang aku yakin jika separuh tubuhnya mulai membiru, dan asal bang Faraz tau,tadi aku kesakitan karena tak sengaja aku menyenggolnya, dan tubuh ku saja biru," kata Arkan menunjukkan lengannya yang lebam.
"apa, tidak mungkin, kenapa bisa seburuk itu?" kata pakde Kholik tak percaya.
"jika kalian tak percaya, panggil Nia dan lihat sendiri," kata Arkan yang masih kesal.
Niken sedang sholat bersama Nia dan Aryan saat semua sedang ribut, Aryan membaca beberapa surat yang bisa melindungi diri dari jin dan ilmu hitam.
Arkan melihat ada bayangan hitam yang bergerak dengan cepat menuju ke area tempat sholat.
dengan cepat dia menangkapnya, "kau ingin mati berani matik ke rumah ini, dasar mahluk rendah," geram Arkan.
dia pun membakar mahluk itu hingga menghilang, Arkan mengambil golok peninggalan dari kakek buyutnya.
__ADS_1
Wulan kaget karena Arkan sudah membawa golok itu, "kamu mau apa Arkan?"
"aku mau membunuhnya, jika tidak kita semua di bunuh oleh dukun itu, karena membantu pria bodoh ini,dia yang membuat perjanjian, kenapa keluarga kita yang kena!!" kata Arkan murka.