Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
melawan dukun pelet


__ADS_3

malam harinya, Raka sedang berdiri di tengah pelataran rumah miliknya, dia terus membaca tasbih sambil terus melihat langit malam.


pukul dua belas malam tepat, sesosok makhluk datang menghadap padanya, "ketiwasan..."


"apa maksud mu dengan ketiwasan, apa ada yang melakukan santet Sewu Dino?" tanya Raka yang melihat makhluk itu.


"bukan juragan,tapi ada empat pemuda yang ingin mendekat dan membebaskan Mbah lenggong," jawab mahluk itu.


"lakukan apapun untuk mencegah para pemuda itu, aku akan datang bersama beberapa petinggi desa," jawab Raka.


Aryan dan Faraz sudah siap, mereka juga memastikan bisa meninggalkan Wulan dengan aman baru berangkat.


pak lurah dan beberapa kepala dusun dan RT dan RW juga ikut, Raka memimpin mereka semua.


tiga pemuda itu adalah mahasiswa yang kemarin izin untuk melakukan KKN di desa itu.


dari lima belas orang itu, Raka tak suka dengan beberapa pemuda yang nampak begitu sombong.


di sebuah makam yang di pagar besi itu, para pemuda itu mengambil bayi genderuwo.


sedang sekarang mereka ingin membuat Raka marah dengan ingin melepaskan mahluk yang hampir mencelakai semua warga desa.


"Yong, kamu yakin ini batu keramat yang guru mu minta di hancurkan itu? jika bukan, sia-sia kita nantinya," kata Ibnu yang takut


"ini benar kok, guruku bilang batu besar itu dekat dengan musholla di desa ini, ya bayi ini apalagi bagi ini juga di pagar begini, jadi semakin yakin aku," jawab Inyong.


"ya wes, Ojo kakean cocot, cepet di lakokno, (sudah jangan banyak bicara, cepat di lakukan,)" kata Dulah.


Inyong membaca mantra pemberian gurunya, dan kemudian mengarahkan palu besar itu ke arah batu.


tapi tak terduga dari belakang, Aryan menendang pemuda itu hingga terbentur batu besar itu dengan keras.


"kalian bertiga ini tamu di desa ini,kenapa mengusik ketenangan di desa ini, jika ingin mati aku terima keinginan itu," kata Faraz yang sudah berdiri bersama Aryan.

__ADS_1


kedua teman Inyong takut, terlebih Inyong sudah terluka parah. "kami hanya ingin mengambil sampel bagi indah ini, apa salah?" kata Inyong yang berusaha bangkit.


"salah, karena kalian tak izin dan berbuat seenaknya sendiri, besok kalian bertiga pergi dari desa ini beserta semua kelompok kalian, dan saya sudah memberitahu dekan kalian, untuk memberikan semua nilai buruk pada kalian semua," kata Raka.


"memang anda siapa?" kata Inyong menertawakan Raka.


tak terduga ketua dari tim KKN dari salah satu universitas di kota pun datang dengan marah, dan langsung menampar ketiganya.


"kalian terus membuat ulah, dan sekarang karena sikap kalian, kita semua mendapatkan teguran dan nilai buruk dari kampus, dan kita harus pergi dan di larang menginjakkan kaki lagi di desa ini," kata pemuda yang baru datang.


"apa?" kaget Dulah dan Ibnu.


Inyong tak mengira di desa kecil pelosok seperti ini, ada orang yang begitu berkuasa.


"maaf pak Raka, saya pamit dulu, jika boleh tolong minta dekan untuk tidak memberikan kami nilai buruk, dan kami janji tak akan menginjak desa ini lagi," mohon ketua tim KKN itu.


"baiklah, sekarang pergi dari desa kami, karena kamu tak menerima pemuda-pemuda yang tak bisa menghormati tradisi kami," jawab Raka dingin.


malam itu,lima hansip dan di saksikan tim ketua RT dan RW para pemuda itu di usir keluar dari desa mereka.


Lestari, putri kepala desa yang baru menjabat, gadis muda berusia delapan belas tahun itu menemui karmanya.


gadis yang selalu bersikap congkak karena merasa paling cantik terlebih dia merasa paling berkuasa, terlebih ayahnya yang memimpin desa itu.


gadis yang selalu menghina Agus, kini bisa menurut seperti kerbau di cocok hidungnya.


"kamu harus mau menerima semua perintah ku ya," kata Agus yang sedang memainkan tubuh lestari.


"iya mas, apapun itu," jawab gadis itu.


Agus pun berteriak-teriak, sesuka hatinya, terlebih rumahnya memang jauh dari tetangga.


rumah kecil peninggalan orang tuannya menjadi saksi bagaimana kedua anak manusia yang belum terikat dengan pernikahan itu menghabiskan malam.

__ADS_1


bahkan lestari tadi juga membawakan yang sebesar dua puluh juta pada Agus.


keesokan harinya, pak lurah mendatangi rumah Raka, dia kehilangan uang dan putrinya.


"assalamualaikum mas Raka," panik pria itu.


"waalaikum salam, ada apa pak lurah, kenapa panik begitu?" tanya Raka dengan tenang.


"tolong bantu saya, uang saya hilang dan putri saya menghilang, dan aku takut jika dia di culik oleh makhluk halus," mohon pak lurah.


"pasti bukan pak, mungkin dia kabur bawa uangnya, Jan aneh jika tiba-tiba hilang," saut Aryan yang akan berangkat ke kampus bersama Faraz.


"apa maksud mu nak, kamu tau bagaimana lestari bulan, gadis sepertinya tak mungkin akan kabur," jawab pak lurah yang masih Panik.


"coba bapak tenang dulu,dan coba hubungi semua teman dan saudara, mungkin dia main tapi lupa tak memberi tahu, dan kalian berdua kenapa masih di rumah, cepat pergi berangkat," kata Raka.


"siap ayah, kami pamit dulu ya, assalamualaikum..." kata keduanya.


Faraz dan Aryan menaiki motor milik mereka masing-masing, Aryan melesat terlebih dahulu.


karena tadi Faraz sempat berhenti di sebuah warung untuk membeli rokok, dan juga air minum.


tapi saat hendak pergi, Faraz kembali membuka kaca helm full face miliknya, dia melihat lestari yang berjalan dengan penampilan yang begitu acak-acakan.


tapi yang mengganggunya bukan hanya itu, tapi tatapan gadis itu nampak kosong.


Faraz pun bergegas menghampiri lestari dan menarik lengan gadis itu, tak di duga lestari hanya menoleh dan tatapannya nampak tak fokus tak tak terkendali.


"Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīmi," kata Faraz sedikit menghentak lengan lestari.


tapi gadis itu malah tertawa dengan tatapan marah, kemudian mendorong Faraz hingga terjungkal.


pasalnya kekuatan gadis itu begitu besar terasa,bahkan Faraz yang bertubuh kekar pun jatuh dengan mudah.

__ADS_1


gadis itu pergi dengan berlari menjauh dengan sangat cepat, tapi Faraz yakin jika ada yang tak beres, karena tangannya merasakan panas saat menyentuh lengan dari lestari.


__ADS_2