Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
Ratu jangan bergerak


__ADS_3

Arkan dan Aryan baru sampai di sekolah, saat Faraz melihat mereka dengan tatapan ketus.


"kenapa melihat ku seperti itu," kata Arkan yang langsung berjalan menuju kelas mereka bersama Aryan.


"kalian tega banget sih, masak gak bilang kalau mau nginep di rumah kakek nenek kalian," kesal Faraz.


"sudah kok, ayah sudah bilang ke pakde Rafa, lagi pula tadi pagi kamu sedang tidur juga habis sholat subuh," jawab Aryan yang duduk di mejanya.


sedang Arkan mengambil buku miliknya dan mulai membacanya, "ya aku sendirian dong, terus aku main sama siapa? terus lusa kan acara aqiqah adik ku juga," kata Faraz.


"tenang saj, kami pasti pulang jika acara berlangsung," jawab Arkan yang melihat ke arah Faraz.


tak terduga geng Ratu dan Dewi yang baru datang masuk kedalam kelas, "widih, para cowok-cowok pangeran sekolah udah datang, udah mandi belom Arkan?" ledek Dewi.


"kamu mau aku jadikan mangsa ku," jawab Arkan.


"idih, ganteng-ganteng ketus, Aryan kakak mu tadi salah makan ya," tambah Dewi meledek Arkan.


"dewi, ikut ke kantin yuk mumpung belum bel masuk," ajak Faraz.


"yah maaf, aku belum mengerjakan tugas ku," jawab Dewi.


"itu tugas rumah bukan tugas sekolah, dasar kamu itu selalu pelupa," ketus Arkan.


"eh anda jika tak ingin membantu lebih baik diam," jawab Dewi tak kalah ketus.


Arkan pun menutup bukunya dan langsung berdiri dan keluar kelas, ratu, Puput dan Aini juga bergabung dengan Dewi.


ternyata hampir semua gadis di kelas itu belum mengerjakan tugas sekolah mereka.


Arkan ingat jika hari ini dia dan ratu piket, "ratu panggil guru piket kenapa belum menyalakan bel masuk,"


"iya iya, ih dasar kamu ini tukang omel deh," kata ratu yang langsung menyeret Arkan.

__ADS_1


Arkan pun hanya bisa menghela nafas karena wudhunya batal karena ratu.


tapi saat sampai di ruang guru, ternyata memang tak ada siapa pun, tapi dari arah belakang lemari ada suara-suara aneh.


ratu yang penasaran ingin melihatnya, tapi dia hampir berteriak karena melihat hal men-ji-jik-kan itu.


Arkan langsung membekapnya dan menariknya pergi, ratu masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"tadi mereka sedang-" kata ratu terhenti karena tangan Arkan.


"jangan bicara apapun yang kamu lihat tadi, ingat ratu atau kamu bisa dalam bahaya, dan aku tak ingin itu terjadi," kata arkan.


ratu hanya mengangguk karena dia tau jika dia harus menurut pada Arkan.


mereka berdua pun memutuskan ke kantin dan arkn membelikan minuman pada ratu


setelah itu Keduanya kembali ke kelas dan baru terdengar suara bel masuk, semua murid pun berlarian untuk masuk ke kelas masing-masing.


ratu pun dengan mudah melupakan hal yang baru saja dia lihat, sedang Raka hanya menyeringai karena melihat sosok yang berada di belakang guru wanita tadi.


"apa tadi ada yang ke kantor?" tanya guru Feni.


"Arkan dan ratu Bu," jawab Faraz.


"kamu yakin aku dan ratu ke kantor, orang kami ke kantin untuk membeli minum kok," bantah arkan.


"apa itu benar ratu?" tanya Bu Feni.


"iya Bu, kami membeli roti dan air minum, dan itu Arkan yang membayar," jawab ratu.


"ciye ... ratu sama Arkan, udah go publik nih," ledek teman sekelas mereka.


"sudah-sudah kalian ini masih kecil, sekarang buka buku latihan kalian, kita akan membahas tentang soal-soal yang mungkin bisa keluar saat ujian negara," kata Bu Feni yang memang guru matematika.

__ADS_1


di rumah Raka yang baru datang bersama pak Suyatno langsung menemui Wulan dan Bu mut Yang sedang memasak.


mereka ternyata sedang menghadap ayam kampung untuk di masak lodoh.


Raka datang dan langsung menaruh jambu mente yang dia bawa, Wulan pun kaget saat melihatnya.


"mas, kenapa bawa jambu mente sebanyak ini, mau buat apa?" tanya Wulan.


"gak tau, tadi bapak yang naik ke atas pohon, aku mah cuma bagian mungutin kepala mente yang sudah ada di tanah," jawab Raka jujur.


"aduh mas ini," lirih Wulan menggelengkan kepalanya pelan.


"sudah nanti tinggal ambil sarinya buat sirup, terus jambunya di buat jdi abon itu enak loh," kata Bu mut.


"siap Bu, sudah sekarang Raka bakar kepala mente itu dan ambil isinya," perintah pak Suyatno yang datang membawa satu kresek besar kepala mente.


"eh kok banyak pak, memang tak ada yang mengambil?"


"tidak ada nduk, orang sekarang itu gak mu repot, oh ya le, jangan langsung di bakar di api, lebih baik pakai pasir dan menyangrainya," kata pak Suyatno.


"iya pak, dek ini sudah selesai?" tanya Raka melihat tiga ayam yang sedang di taruh di atas pawonan dengan asap yang cukup banyak.


"sudah mas, itu ambil kuali dan ambil pasirnya di belakang, ada di kurung putih," kata Wulan.


"oke sayang," jawab Raka yang langsung mengundang tawa.


Raka melepas kaosnya yang basah karena keringat, dan memilih bertelanjang dada.


Wulan pun duduk menemani Raka agak menjauh, benar saja saat di sangrai kepala mente itu meletus dan mengenai Raka.


"panas!" kaget Raka mengusap kakinya yang terkena kepala mente itu.


Wulan hanya tertawa melihat suaminya yang begitu lucu, sudah lama mereka berdua tak menikmati suasana nyaman seperti ini.

__ADS_1


"kenapa kamu senyum-senyum sendiri, kamu tau pengorbanan suamimu demi kesukaan istrinya," kata Raka yang masih sibuk.


"iya mas ku tersayang dan suamiku tercinta, aku beruntung memiliki mu mas," kata Wulan tersenyum.


__ADS_2