
ketiganya pun makan, setelah itu mereka memutuskan untuk mulai melakukan beberapa permainan untuk tetap menjaga mereka agar tetap terjaga.
tak terasa menjelang subuh wulan melihat ke kamar Faraz, ternyata Raka sudah tak ada di sana.
Wulan pun mencari suaminya itu, ternyata Raka sedang berada di belakang rumah.
"kenapa ayah duduk sendirian disini?" tanya Wulan lembut.
dia menyentuh bahu suaminya itu, Raka hanya menoleh kearahnya sebentar saja.
Wulan melihat cincin yang kemarin dia lepaskan berada di tangan Raka, "ayah marah ya, aku minta maaf ya ayah..."
"untuk apa, aku tak mungkin marah pada istriku yang baik dan selalu memikirkan kepentingan orang lain, meski tak pernah berfikir apa itu melukai dirinya sendiri atau bahkan pasangannya," jawab Raka dingin.
"maafkan aku ... aku memang tak bisa menjadi istri yang sempurna, aku hanya istri yang bodoh dan tidak bisa merasakan rasa sakit pasangannya...."
Raka tetap tak bergeming sedikit pun, Wulan yang sadar akan hal itu, kemudian bangkit.
tapi saat dia akan pergi, Raka menahan tangannya, Raka memasangkan cincin itu kembali ke tangan Wulan.
"ini milik mu, sampai kapan pun akan seperti itu, aku hanya marah sesaat, tapi bagaimana aku bisa marah pada wanita yang begitu aku cintai ini," kata Raka memeluk Wulan.
keduanya pun menangis bersama, mereka sudah merasakan semua rasa sakit dan ujian bersama.
cinta mereka kuat menghadapi semua cobaan itu, Arkan yang ingin bertanya mau belanja apa mengurungkan niatnya.
pasalnya dia tak mau menganggu kedua pasangan itu, "Arkan jadi belanja dengan Mbah lek gak?" tanya nurul yang menghampiri pemuda itu.
"ih... Mbah lek mah ganggu adegan romantis saja," protes pemuda itu.
Wulan dan Raka pun melepaskan pelukan keduanya, "ada apa sih?" tanya Wulan yang menghapus air matanya.
"ini loh Amma, kami mau belanja tapi tak tau mau beli apa? Mbah lek juga tak membantu sekali," kesal pemuda itu.
"beh... lek ngomong enteng Yo," kata Nurul menjewer telinga Arkan gemas.
"maaf mbah lek," jawab Arkan tersenyum memohon.
"sudah-sudah, belanja untuk acara tiga harian saja Tante, oh ya Arkan jangan lupa beli sembako yang semalam Amma sudah katakan, sebentar Amma ambilkan uangnya dulu," kata Wulan yang masuk kedalam rumah.
ternyata Aryan sudah tidur sambil memeluk Alena yang tidur di dadanya, dan tidur di samping Husna.
"ya Allah.. semoga kebahagiaan ini terus bisa aku rasakan," gumam Wulan.
setelah mengambil uang dan memberikannya pada Nurul dan Arkan, kedua orang itu berangkat ke pasar legi.
keduanya langsung membeli ayam, dan semua jenis bumbu, dan kebutuhan yang lain.
sedang Arkan membeli besek di tempat langganan, karena itu harus perintah Raka.
__ADS_1
setelah itu, dia juga membeli beberapa jenis bunga, tak lupa ada beberapa sembako yang di beli.
Nurul pun langsung mengajak akan pulang karena semua di beli, benar saja, di rumah sudah sangat ramai oleh para tetangga yang membantu.
karena saat hari ketiga tahlilan orang meninggal, biasanya akan di bagikan besek.
dan isi dari besek itu tergantung oleh pemilik rumah, tapi yang pasti harus menyembelih ayam jago.
Raka mengajak kelima anaknya untuk ziarah ke makam. mereka memanjatkan doa di sana untuk ketenangan semua anggota keluarga.
Faraz pun juga sudah mulai bisa ikhlas, terlebih dia juga sudah melihat kedua orang tuanya bahagia.
setelah berziarah, semua bergegas pulang, Faraz memilih berjalan bersama Raka.
sedang Arkan mengendong adiknya Alena dan Aryan mengendong Husna. keduanya terus saling menggoda hingga membuat kedua balita itu tertawa tanpa henti.
sesampainya di rumah, Arkan bergegas mandi dan bersiap untuk menjemput seseorang.
"Amma,aku pergi sebentar ya, ada urusan," pamit Arkan.
"baiklah, hati-hati tak perlu menjemput Niken, dia akan datang bersama Ayu kesini," kata Wulan pada putranya itu.
"ah.. tapi kami harus pergi ke suatu tempat," jawab Arkan yang memanaskan motornya
ternyata benar, keluarga juragan Aris datang, Niken cantik dengan baju tunik selutut berwarna biru.
"Masyaallah.... nikmat mana lagi yang kau dustakan," kata Arkan yang melihat gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.
"siap ayah mertua," Jawab Arkan.
Raka juga membantu keduanya, Aris membawa sedikit kebutuhan untuk acara pengajian seminggu kedepannya.
Ayu akan membantu di dapur bersama ibu-ibu yang lain, sedang Arkan sudah mengajak Niken pergi setelah izin pada Aris.
awalnya mereka akan naik motor, tapi Aris melarangnya, dan meminta Arkan membawa mobil miliknya.
"kita mau kemana?" tanya Niken penasaran.
"kita mau pergi untuk membantu arwah penasaran, kamu harus tau kegiatan ku, jadi setidaknya nanti kamu tak akan terkejut," jawab Arkan.
"ku kira kira akan kencan tapi ternyata mau bantu arwah to," jawab Niken lirih.
"tenang dong cantik, setelah kita menolong arwah itu, kita akan pergi untuk makan berdua," jawab arkan.
mereka berdua sampai, di sebuah perumahan yang cukup sepi, tapi ada selebaran yang tertiup angin.
ternyata bocah itu belum di ketemukan, Arkan menghubungi nomor yang tertera di kertas itu.
tak lama ada dua orang datang sepertinya pasangan suami istri, "kalian yang menghubungi kami, kalian tau dimana anak kami?" tanya pria muda yang begitu nampak sedih itu.
__ADS_1
"tunggu Sebentar pak Bu, sebentar lagi kalian akan tau," kata Arkan yang berdiri di samping Niken.
pria pengantar makanan itu datang sambil menangis histeris, "tolong jangan mengangguku, aku salah, aku yang menabrak mu hingga tewas," kata pria itu dengan suara keras
"lihat pria itu, tanya padanya, karena dia yang tau dimana anak kalian," kata Arkan.
"mas kamu tau di mana Gita?" tanya kedua orang itu yang terlihat senang.
"maafkan aku... aku tak sengaja... tolong jangan menghantuiku," teriak pria itu makin histeris.
"namanya Gita," lirih Niken.
sosok arwah anak kecil itu menoleh ke arah Niken, dan berlari kearah gadis itu.
"tidak boleh, jangan masuk atau aku akan membakar mu sampai hangus," bentak arkan yang merangkul Niken dan menghantamkan tangannya yang memegang tasbih kayu stigi.
arwah anak kecil itu terjungkal, pria pengantar makanan itu pun ingin kabur tapi sosok genderuwo menunjukkan dirinya.
Arkan yang tak sabar lagi pun langsung menyeret pria itu, "akui atau perlu aku membuat mu mengakuinya sendiri!"
"maafkan saya, saya cuma butuh uang dan tak bisa masuk penjara, itulah kenapa aku membuangnya," jawab pria itu ketakutan.
"apa maksudnya?" tanya dari mama
Gita.
pria itu membuka tutup gorong-gorong, dan kemudian mengangkat sebuah tubuh kecil penuh dengan lumpur.
kedua orang itu terduduk lemah, pasalnya dari pita rambut dan juga baju, itu adalah baju Putri mereka Gita.
semua warga pun ingin menghajar pria itu, tapi Arkan menghentikan perbuatan main hakim sendiri.
"jangan ada yang berani memukulnya, atau aku akan menjebloskan kalian semua ke penjara, ini negara hukum," kata Arkan.
ayah dari gadis kecil itu pun langsung memukuli penabrak putrinya itu, dan polisi datang dan mengamankan pria itu.
arwah Gita memeluk tubuh mamanya, wanita itu nampak kaget karena merasakan hawa panas.
"dia sedang menekuk anda, dia ketakutan, dia sedih karena anda terus menyiksa diri dan tak mau makan," kata Arkan yang kemudian memegang kedua tangan orang tua Gita.
keduanya pun histeris melihat arwah putri mereka yang begitu buruk, tapi seketika berubah menjadi sangat cantik.
"maafkan Gita mama...Gita tak mendengarkan mama, sekarang Gita mau pergi, mama dan ayah jangan sedih, karena Gita sudah tak kedinginan lagi," kata gadis kecil sebelum pergi.
Arkan melepaskan pegangan dari keduanya, "kalau begitu saya harus pergi, karena tugas saya selesai," kata arkan.
dia mengajak niken untuk pergi, dan meninggalkan tempat itu, Niken pun semakin terpesona pada arkan.
"kenapa ada pria seperti mu, meski terlihat dingin, tapi nyatanya kamu pria paling hangat dan baik hati," pujinya.
__ADS_1
Arkan hanya menoleh dan tersenyum sekilas, "karena aku memiliki mu di sisiku," jawabnya.