Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
tukang gombal


__ADS_3

Niken tersipu malu mendengar ucapan dari Arkan, pasalnya dia sudah di buat melayang ke langit tujuh oleh pemuda itu.


"sudah jangan bicara omong kosong, sekarang kita mau kemana? dari tadi gak nyampek-nyampek Lo," tanya Niken.


"sudah ikut saja," jawab Arkan yang membelokkan mobilnya ke pasar legi atau pasar citra niaga Jombang.


mereka pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, Arkan bergegas turun dan membukakan pintu untuk Niken.


"awas kepala..." lirih Arkan.


"ah terima kasih..." jawab Niken.


meski mereka seumuran, tapi karena bentuk tubuh yang besar dan berotot Arkan jadi nampak sedikit dewasa.


Keduanya masuk kedalam sebuah toko emas, Arkan mengambil pesanannya tadi pagi.


"kamu beli hadiah untuk Amma ya?" tanya Niken.


"iya dong, sekarang kita jalan-jalan ke toko di dalam yuk, cari baju atau apalah itu," jawab arkan.


"ya Allah kamu gak jelas sekali..." kata Niken tak percaya.


Arkan hanya tertawa, keduanya pun berjalan sambil terus bergandengan, bahkan saat Niken berhenti dan tak sengaja melepas pegangan tangan Arkan.


pemuda itu akan menoleh dan mencarinya, "jangan jauh-jauh," Setu Arkan yang sudah membuat Niken begitu tersentuh.


"malu itu di lihatin orang-orang,", bisik Niken.


"kenapa, orang aku gak malu kok," jawab Arkan.


gadis itu pun tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Arkan berhenti di salah satu toko langganan Wulan


"assalamualaikum Bu haji, persenan saya sudah siap kan, yang kemarin pesen busana muslim keluarga?" tanya Arkan.

__ADS_1


"sudah mas, ini juga sudah di pisah-pisah kok," jawab pemilik toko.


Arkan membayar dengan kartu debit, "ini baju kenapa banyak sekali, aoa akan ada acara?" tanya Niken


"ya, di tunggu saja, nanti beda acara beda baju," jawab Arkan.


setelah itu, mereka ke area belakang yang menjual nasi dan lauk matang, Arkan sedang pingin burung dara bakar, dan kebetulan ada.


tanpa mereka duga, seseorang menepuk bahu Arkan, "wah... calon menantu disini, kok gandeng Niken sih, bukannya tadi izin ajak Nayla ya," kata Bu Marlina.


"apa kamu jahat banget," kata Niken yang menggoda Arkan.


"bukan aku, itu Aryan, ya Allah Tante salah orang..." kata Arkan panik.


pasalnya Niken tipe orang yang mudah cemburu, tapi tak terduga Niken malah tertawa.


"ha-ha-ha maaf ya, Tante cuma bercanda, kalian beli apa, kebetulan Tante juga lagi beli sesuatu untuk acara besok dan lusa, ya sedikit bantuan untuk calon besan," terang Marlina.


"wah terima kasih Tante," jawab Niken dan Arkan.


"berisik, oh ya Tante ini baju untuk keluarga Tante, ya nanti biar Aryan yang jelasin," kata Arkan memberikan tas plastik pada Marlina.


"terimakasih ya, pantes tadi aku ke tokonya di bilang sudah di ambil," saut Aryan.


"ya sudah aku mau pulang dulu, oh ya ada buah apa yang belum di beli?" tanya Arkan pada Aryan.


"tinggal apel dan jeruk," jawab saudaranya itu.


"tidak usah beli, nanti jam tiga, anak buah ayah datang bawa keduanya langsung dari kebun di malang," jawab Niken.


"enak ya jadi calon mantu orang kaya, yang satu juragan peternakan, kolam ikan dan kebun sayur yang luas, dan kamu malah dapat yang lebih lagi," kata Aryan.


"yey... meski begitu kamu harus tetep kerja, jangan ngandelin harta orang tua," kesal Nayla mendengar ucapan Aryan.

__ADS_1


"ha-ha-ha ya iya lah nay, ya kali aku cuma minta-minta, tenang aku sudah terbiasa nabung untuk menafkahi mu kok," jawab Aryan.


"gombal..." seru Nayla sambil tersipu malu.


"kamu kenapa, mau di gombalin juga?" tanya Arkan.


"tidak kok, aku cuma mau bilang jika ayah pernah bilang kalau punya menantu harus pintar ngatur semua usahanya," jawab Niken.


"maaf saya sibuk, saya mau jadi pengusaha kota," jawab Arkan tertawa.


"Arkan ... menyebalkan," kata Niken yang kemudian pergi.


melihat hal itu, Arkan pun tersenyum, "sayang jangan lari, nanti Dede bayinya terluka," teriak pemuda itu.


mendengar ucapan itu,Niken malah malu dan melotot pada pria itu, Arkan pun menghampirinya dan langsung mengajaknya pulang.


"dasar pasangan aneh, kadang berantem,kadang mesra, kadang gak jelas dua-duanya," gumam Aryan.


"ya sama, kayak kamu gak jelas, sudah bunda, ayo pulang kita sudah beli apa yang kita butuhkan," ajak Nayla.


"ayolah calon istri Sholehah ku, jangan cemberut ke arah mas dong," kata Aryan dengan keras.


"pria gila!" kesal Nayla yang malah membuat ibu Marlina dan Aryan tertawa.


akhirnya mereka pun memutuskan pulang, sedang Arkan mengajak Niken untuk mengunjungi makam keluarga di daerah Tembelang.


disana mereka sempat bertemu dengan beberapa warga, Arkan menyapa dengan sopan.


siang itu, keduanya pulang dan tak lupa membelikan nasi untuk semua orang.


sore hari ada tahlilan yang di ikuti oleh para ibu-ibu di sekitar desa, Niken dan Nayla seta kedua ibu mereka juga ikut pengajian.


mereka juga terlihat begitu akrab satu sama lain, bahkan Husna tak mau lepas dari Niken.

__ADS_1


acara berjalan lancar, setelah tahlilan besek pun di bagikan. setelah itu giliran menata besek untuk tahlilan selanjutnya.


__ADS_2