Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
giliran kami


__ADS_3

Rafa dan kedua keponakannya kini sudah beriringan menuju ke rumahnya, sesampainya di sana ternyata Faraz sedang duduk sambil bermain ponsel.


"loh kalian disini, tadi ketemu ayah?" tanya remaja itu.


"iya, kami tadi juga beli rujak, kita makan bareng yuk mas," kata Arkan sopan.


"boleh juga, sekalian bantu aku main game online ya, aku masih belum bisa," kata Faraz.


"itu gampang," jawab Aryan.


kini ketiga remaja pria itu makan rujak di teras sambil main game, Arkan juga sudah sangat ahli sebenarnya.


tapi dia memilih diam karena tak ingin merasa jika Aryan tersaingi dalam segala bidang olehnya.


tak lama mobil Raka datang mengantar keluarga Aira, Wulan turun dari mobil kaget melihat kedua putranya saling berlomba mencium tangan sang Amma.


"kalian main disini?" tanya Wulan.


"iya Amma, kebetulan tadi ketemu pakde waktu beli rujak, terus di ajakin main ya sudah kami disini," jelas Arkan.


"wah ... pasti rujak mbok dah itu ya," kata Aira yang baru turun.


"iya bude, gak ada lawan," tambah Aryan.


keduanya pun tertawa melihat tingkah Aryan dan Arkan, Ayana memberikan oleh-oleh tadi pada semua saudara di temani oleh Abidzar.


saat ke rumah Rizal, kebetulan mereka bertemu dengan ustadz Rasyid yang sedang bersama anak-anak kecil.


Ayana pun tak mengira ada seorang pemuda yang begitu telaten mengajar anak-anak di mushola.


"sudah Napa lihatinnya, sampai begitu banget," goda Abidzar.

__ADS_1


"apaan sih, sudah ayo pulang," kata Ayana menarik tangan Abidzar.


sedang di sebuah ruangan sholat di sebuah rumah, ada seseorang yang menyembur nama seorang pria dalam setiap doanya.


dia tak pernah lupa menyebut nama pria itu sekalipun saat sholat, bahkan dia meminta pada sang pencipta agar pria itu menjadi miliknya.


hari pun makin sore, "kami pulang dulu ya mas dan mbak, woi Rafa, nanti malam ke rumah ada hal penting," kata Raka pada Rafa yang sedang mengendong putri kecilnya.


"bengak-bengok koyok Nok alas, koyok gak tau di sekolahnya!" marah pria itu.


"maaf Abang ku tersayang, sudah kami pamit," kata Raka yang sudah mengajak anak dan istrinya pulang.


Aryan ikut mobil Raka, sedang Arkan naik motor sendiri dan terlihat jika remaja itu cukup baik dalam berkendara.


setelah sholat isya, Rafa datang ke rumah mertua dari Raka, dalam perjalanan ke sana dia merasa hawa malam ini begitu dingin dan sepi.


terlebih sudah hampir sebulan ini dia juga tak keluar saat malam, jadi jarang tau apa yang sedang terjadi.


"baru datang Rafa?"


"Allahuakbar, bikin kaget, iya terus kenapa kamu ajak kedua putra mu juga," tanya Rafa heran.


"sekarang giliran kami pakde, kami tak ingin Amma yang harus berjuang melindungi semua orang dan mengorbankan dirinya, biar kami dan para punggawa yang melanjutkan perjuangannya," jawab Arkan.


"sudah-sudah, kita mulai jalan saja, karena sebentar lagi, adalah waktu pas saat para mahluk jadi-jadian itu keluar," kata Raka


"baiklah, ayo," jawab Rafa yang kini mengenakan Hoodie hitam begitupun dengan ketiga pria lainnya.


kini keempat orang itu berpencar, Arkan pergi bersama Rafa, sedang Aryan bersama Aryan.


mereka kini mencari titik paling vital di desa, mereka berdua kini berada di dua tempat berbeda tapi masih satu aliran.

__ADS_1


Arkan hanya melihat Rafa yang duduk bersila di sebuah putukan di tengah sawah dan di samping pohon besar yang di ikat kain putih.


langkah kakinya berat saat mendekat, itulah kenapa Arkan tak melanjutkan langkahnya.


tiba-tiba Arkan mencium aroma ubi bakar yang sangat kencang, "widih.... udah mau nunjukin diri om, takut deh," kata Arkan saat melihat sosok ki item yang berdiri besar di belakang Rafa.


"Halah ... ketemu bocah ini lagi, kamu dan khodam mu itu bikin pusing saja," kata ki item.


"gak kok om, tenang kita datang demi bantuan kok, he-he-he," kata Arkan yang tiba-tiba merasakan kehadiran sesuatu yang lewat dengan cepat.


Arkan melemparkan bambu kuning yang dari tadi dia pegang, dan berhasil mengenai sesosok makhluk yang langsung jatuh ke area sawah berlumpur.


Arkan dengan santai mengambil bambu kuning yang menancap di galengan sawah, dan menunjuk ke arah makhluk ghaib itu.


"katakan siapa kamu, apa urusan mu datang kedua ini, karena aku tau kau bukan asli dari daerah disini," kata Arkan terdengar marah


makhluk itu melirik dan langsung menyeringai, Arkan tak gentar, tak terduga remaja itu malah menancapkan bambu itu ke kaki hewan berwujud kera itu.


"dasar manusia bodoh, aku tak ingin menyakiti kalian, aku hanya datang ingin bertemu kekasih ku," marah makhluk itu menunjukkan sosok mengerikan tinggi besar.


tanpa di duga Arkan mengeluarkan keris pusaka, dan sosok Ki Adhiyaksa juga keluar untuk melindungi Arkan.


"ternyata kamu belum mati, cepat pergi atau aku benar-benar membinasakan mu," marah Ki Adhiyaksa.


"kau hanya makhluk lemah yang tak berguna," ejek siluman kera itu.


setelah membaca mantra, keris milik Arkan langsung menembus dada dan mengenai makhluk itu dan kemudian membakarnya.


"kamu terlalu banyak bicara dan bertingkah, aku tak suka itu," kata Arkan yang kemudian pergi untuk berjalan-jalan.


karena dia tau jika sang pakde sedang semedi meminta petunjuk tentang apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2