Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
bertemu dengan Rafa dan Rania


__ADS_3

Raka bersama Fahri memutuskan untuk mengantar Aira ke rumah Raka, setelah puas bertemu dengan Wulan dan keluarga.


"besok kita ketemu lagi, uh ... rasanya aku ingin berpisah dengan mu deh," kata Aira yang begitu sayang dengan Wulan.


"iya mbak, besok aku akan datang dan membawakan sarapan kesukaan mbak dan anak-anak sebelumnya kita ziarah," kata Wulan.


"iya Wulan, susah dek, itu lihat kedua putra mu yang sudah masang wajah kesel begitu," kata Alfin merangkul istrinya yang dari tadi tak ingin pisah dengan Wulan.


Wulan pun tersenyum sambil melambaikan tangan pada Aira dan keluarganya.


Rafa dan yang lain belum tau tentang kepulangan dari Aira, karena hanya Raka yang di beritahu oleh Alfin.


mobil Raka memasuki halaman rumah miliknya, Rafa dan Adri yang kebetulan sedang duduk santai di teras kaget.


pasalnya tadi siang Raka bilang akan menginap beberapa hari lagi di rumah mertuanya sampai kondisi istrinya benar-benar membaik.


Aira turun terlebih dahulu, setelah pintu mobil di buka oleh Raka, kemudian Ayana dan Alfin.


"mbak Aira!" kaget Rafa yang langsung bergegas menghampiri Aira.


dia pun langsung mencium tangan Aira dan juga tak lupa memeluknya dengan erat.


Adri menyapa Alfin juga dengan hangat, Jasmin keluar dan menyambut keluarga suaminya dengan hangat.


"wah Rania sudah besar ya," puji Alfin pada gadis muda itu.


"gadis tersayang dan tercantik ayah Adri," kata Adri merangkul Rania.

__ADS_1


"ayah selalu membuatku malu," kata Rania yang memeluk Adri erat.


"ini pasti Aslan, ganteng ya om putramu," puji Aira.


"mbak belum tau putri kecil kami," kata Rafa yang menyahut.


"benarkah, tapi mana putra mu Faraz Rafa, kenapa aku tak melihatnya?" tanya Aira.


"dia sedang keluar untuk membelikan sesuatu, karena saya belum bisa keluar," kata Jasmin.


"ow baiklah, kalau begitu boleh aku masuk, ya Tuhan aku begitu lelah," kata Al-Fath.


mendengar ucapan dari Al-Fath, Alfin menatap tajam kearah Putranya itu, pasalnya Al-Fath memang jarang bisa menyembunyikan perasaannya.


"baiklah, om ajak ke dalem, biar om Rafa ngobrol dengan om Rafa, ayo kita ke dalem," ajak Raka pada ketiga keponakannya itu.


Rania pun terlihat begitu senang, dan Raka menunjukkan kamar yang akan mereka tempati.


Al-Fath dan Abidzar tidur di kamar Aryan, sedang Ayana dan Rania akan tinggal di kamar milik Arkan.


"apa om yakin, ini kamar Arkan,ini begitu rapi dan juga sangat adem," kata Ayana.


"ya dia memang pria yang sangat perfeksionis, jadi jangan kaget, terlebih dia menyukai tanaman," kata Rania.


"baiklah, tapi bagaimana dengan lemarinya?" tanya Ayana.


Raka membuka pintu lemari yang tadi sudah di beritahu oleh Arkan, "ini bisa di pakai Aya, jadi kamu bisa tenang menyimpan semua barang mu," kata Raka.

__ADS_1


"wah terima kasih om, siapapun nanti yang jadi istri Arkan pasti bahagia seperti Tante," kata Ayana.


Raka hanya tersenyum mendengar ucapan keponakannya itu, dan saat Raka keluar dia melihat Alfin dan Aira sudah masuk ke kamar mereka juga.


"bagaimana sih bung, kenapa kamu tak memberitahu aku tentang mereka yang datang, mau bikin surprise?" ledek Rafa


"aku saja baru kemarin tahu juga, makanya aku langsung menyuruh adik ipar ku menjemputnya, sudahlah kita besok akan mengunjungi semua makam orang tua kita," kata Raka.


"baiklah, aku akan ikut, dan ajak istrimu karena Jasmin belum bisa keluar jadi kita bertiga saja yang berangkat," kata Rafa.


"kamu yakin bisa mendadak, bukankah besok jadwal mu untuk mengajak Husna dan Jasmin kontrol ke dokter?" tanya Raka.


"ya kamu benar aku lupa, jadi aku pasrahkan pada mu saja, karena setelah dari dokter aku harus mengunjungi kebun di wonosalam juga," kata Rafa menepuk dahinya.


"yang sabar bro, itu kan kamu yang memilih, bukan aku, ha-ha-ha," kata Raka yang menertawakan saudaranya.


raga yang kesal memukul lengan Raka, pukul sebelas malam Raka memutuskan pulang bersama Fahri.


"awas saat di jalan, jangan sampai bertemu anjing yang bisa berbicara," kata Rafa menggoda saudaranya itu.


"kalau ketemu tinggal ambil batu bata, dan langsung melemparnya dengan keras, atau jika perlu tinggal menabraknya dengan mobil, selesai, kenapa bingung," jawab Raka dengan asal.


"yakin, ya susah pulang sana, kalau tidak istrimu pasti mulai khawatir, dan takutnya dia akan mengomeli dirimu,"


"tapi sayangnya, istriku bukan tipe yang suka mengomel tanpa alasan, dan yang pasti dia itu sangat lemah lembut dan membal," kata Raka dengan senyum.


"bola bekel kali membal, sudah pulang sana," usir Rafa kesal.

__ADS_1


sedang Fahri tak menggubris obrolan dua saudara yang aneh itu, pasalnya Raka dan Rafa jika bicara pasti tak pernah ada yang benar.


__ADS_2