Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
keajaiban


__ADS_3

Arkan sadar dan melihat tim dokter dan beberapa perawat yang berada di sekelilingnya.


dokter pun bernafas lega, tapi Arkan merasa jika tubuhnya sangat lelah dan kembali menutup mata.


"tolong pindahkan ke ruang rawat, saya akan menemui keluarga pasien," kata dokter.


"baik dokter," jawab perawat.


dokter keluar dari ruan ICU, dan langsung di hampiri oleh keluarga Raka.


"bagaimana keadaan putra kami dokter?"


"Alhamdulillah, putra bapak dan ibu selamat, ini sebuah keajaiban padahal tadi detak jantungnya sempat terhenti sejenak, tapi takdir berkehendak lain,"


"Alhamdulillah ya Allah..." ucap semua orang yang sujud syukur.


Emily kemudian berpelukan dengan Wulan, keduanya bahkan menangis bersama.


mereka bergegas ke ruang rawat, terlebih mereka tak sabar untuk bisa melihat Arkan lagi.


di rumah, Faraz sedang merasa senang terlebih tadi dia sempat mendengar jika kondisi Arkan memburuk.


Rafa tak bisa meninggalkan istrinya itu terlebih putri kecilnya juga sedang tak baik.


"mas jika ingin ke rumah sakit tak apa-apa pergilah, nanti biar aku minta bantuan dari Tante Nurul,"


"tidak sayang, aku tak ingin meninggalkan dirimu, terlebih Rania juga sedang mempersiapkan dirinya untuk masuk perguruan tinggi, takutnya tak ada yang membantu menjaga Aslan nanti," jawab Rafa menghela nafas.


Faraz datang memberikan telpon dari Raka, "assalamualaikum.. bagaimana keadaan putra mu?"


"...."


"Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah besok aku akan kesana untuk menjengguknya," kata Rafa menutup telpon.


Jasmin penasaran dengan berita yang di dapat suaminya, pasalnya Rafa tersenyum begitu bahagia.


"ada apa mas?"


"Alhamdulillah dek, Arkan sudah sadar, dan lagi kini dia sudah di pindahkan ke ruang rawat," jawab Rafa.


"Alhamdulillah mas kalau begitu, nanti kita jenguk ya," kata Jasmin.


tapi Rafa heran melihat tingkah putranya, "ada apa Faraz, kamu tak senang mendengar berita baik dari saudara mu?"

__ADS_1


"iya, kenapa Arkan dan Aryan begitu beruntung, kenapa aku tak bisa seperti mereka, apa yang kurang dariku hingga semua hanya melihat mereka," kata Faraz


"bukan seperti itu nak, bukan kamu yang tak sempurna, setiap orang memiliki takdir sendiri, lihat ayah dan om Raka, meski kami saudara kami berbeda, tapi kami tetap saling mendukung,"


"tapi kenapa mereka terus membandingkan aku dengan kedua sepupu ku itu ayah, aku lelah," kata Faraz.


"tidak nak, mereka hanya belum tau keunggulan yang kamu miliki," jawab Rafa memeluk Faraz.


dia berusaha sebaik mungkin untuk membuat putranya mengerti dan sabar.


entah Rafa kadang bingung melihat tingkah putranya yang sedikit berbanding terbalik dengan dirinya atau pun Jasmin.


Faraz memiliki emosi yang meledak-ledak dan juga sifat kasar belum lagi ucapannya yang semakin berani.


tapi kadang dia sering melihat Faraz menangis di kamar miliknya sendiri.


Jasmin pun mengusap kepala putranya, dia tau jika hidup memang tak selalu sempurna terlebih dengan semua yang dia inginkan.


Emily masuk bersama Wulan, Arkan terlihat sudah bangun dan sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


"bagaimana kondisimu nak? kamu membuat kami cemas, terlebih Aryan yang bilang kamu terluka karena membantu warga," tanya Rafa.


"tidak ayah, aku hanya melihat masa lalu om pocong gosong teman ayah, dan sekarang dia sudah pamit pergi karena sudah tau tentang kebenarannya," jawab Arkan


"dia hanya berterima kasih, dan ingin kita menjaga putri tunggalnya yang bernama Michaela Angelica Jameson."


"itu nama nenek buyut ku, dan tak ada yang mengunakan nama itu selain ayah," kata Emily yang mendengar ucapan dari Arkan.


"kamu yakin itu nama ayah mu, bukan nama ayah ratu, bukankah kamu tak ingat nama ayah mu?"


"iya itu benar, tapi tiga hari ini, aku mimpi di datangi seorang wanita cantik bernama Sekar dan seorang pria yang bernama Julio, mereka terus menemaniku di dalam mimpi,"


"ayah sudah menemukan putri mereka, jadi kita harus menjaganya sekarang," kata Arkan.


"apa?" kaget semua orang.


Arkan memberikan tangannya dan Raka menyentuhnya dan ingin membaca semuanya.


Raka membuka mata dan tersenyum melihat Emily, "semoga kamu bisa menjadi kebanggaan orang tua mu ya nak,"


Emily bingung terlebih dia tak mengerti apa yang Arkan dan ayahnya tau.


sore itu Emily masih di rumah sakit bersama Aryan, dia tak ingin meninggalkan Arkan yang masih sakit.

__ADS_1


ratu datang dengan terburu-buru, dia pulang dari Jogja, setelah dapat pesan dari Emily dia tak bisa menahan diri untuk tak pulang.


"Emily... kamar Arkan dimana? aku ingin melihatnya?" katanya sedikit panik.


"tenang non, dia masih lemah tak mungkin kabur, masuk dia di ruang Aisyah satu, kamar paling depan di sebelah kanan," terang Emily.


"terima kasih," kata ratu yang buru-buru pergi.


Aryan sudah tak memikirkan tentang perasaannya toh dia cukup berteman saja dengan gadis itu.


ratu langsung masuk dan kaget melihat Wulan sedang menyuapi Arkan, "selamat sore Tante," sapa ratu sopan.


"selamat sore, ayo masuk nak, apa ini juga teman Arkan?" Wulan tersenyum sambil ratu mencium tangannya.


"iya Tante, saya langsung kesini saat tadi Emily mengabarkan tentang kondisi Arkan," jelas ratu.


"kenapa repot ratu,aku baik-baik saja," jawab Arkan tersenyum.


"baik apanya, lihat kamu tiduran di ranjang gitu, aku juga sudah lihat foto kalian naik gunung juga, seandainya aku bisa ikut ...


"lain kali kita mendaki bareng ya, dan ratu boleh ikut kok," kata Wulan.


"tidak bisa Tante, ibu saya selalu melarang itu terlebih keluarga ibu menganut ajaran jaman dulu, jika perempuan itu harus lemah lembut, berbudi luhur bukan wanita liar tanpa tata Krama," jelas ratu.


"iya nak, memang setiap orang tua punya ajaran masing-masing,"


Arsana datang dan duduk di samping ibunya dengan senyum lebar, ratu mencium aroma kenanga yang membuatnya merinding.


tapi dia memilih diam, terlebih Arkan dan ibunya bersikap biasa saja, ratu memilih mengambil buah jeruk.


Arsana yang penasaran mendekati sosok ratu sambil melambaikan tangan di depan wajah gadis itu.


"apa yang di sukai dari gadis biasa ini, jangan-jangan Aryan sudah kena bulu perindu ya?"


"jangan berpikiran aneh-aneh, kami semua hanya berteman, tak ada yang seperti itu, dan berhenti membuatnya gemetar ketakutan," suara batin Arkan.


"kakak pelit ih," kesal Arsana yang kembali duduk di samping wulan.


Ratu mengusap tangannya yang merinding, karena tadi seperti ada angin yang bertiup pelan menerpa dirinya.


Raka sedang menemui seseorang, pasalnya dia baru tau jika pria itu ada di sini karena khusus datang untuk melakukan fisioterapi.


tapi saat berjalan di koridor rumah sakit, tak sengaja Raka menabrak seorang pria yang berjalan terburu-buru.

__ADS_1


bahkan sebuah bayangan masa lalu terlihat olehnya tanpa sadar. tubuh Raka terduduk saat melihat bayangan masa lalu itu.


__ADS_2