Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
berakhir dan kalah


__ADS_3

tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di rumah dukun pelet itu, sedang Agus masih memadu kasih dengan lestari.


pasalnya wanita itu benar-benar tergila-gila pada pria yang hanya seorang buruh tani itu.


bahkan lestari memberikan uang yang di ambilnya dari kamar sang ayah. mereka pun langsung turun dari mobil.


saat akan masuk, mereka melihat ada dua sosok besar yang menjaga rumah itu, tapi sayangnya penjaga itu, masih lebih kecil di banding dengan Ki Adhiyaksa dan Ki item.


kedua makhluk itu langsung menyeret penjaga itu dan memusnahkannya, merasakan kedatangan dari tamu tak di undang.


dukun Warno keluar sambil menyirih, pria itu tertawa dan menunjukkan giginya yang berubah kecoklatan.


"idih.... jorok," kata Aryan bergidik jijik


"diam dulu Aryan, kita ajak berdialog dulu dukun itu," kata Raka.


ketiganya pun masuk, baru juga menginjak tanah rumah itu, puluhan mahluk aneh berdatangan.


tapi bukannya takut, Aryan malah dengan iseng menendang salah satu kepala yang terbang kearah mereka.


"goll!!!" teriaknya senang


"ya Allah," kata Raka tak habis pikir melihat tingkah anaknya itu.


sedang Faraz tak mengira jika Arkan bisa segokil itu, pasalnya dulu dia penakut tapi sekarang dia berubah setelah bertarung bersama dirinya.


sedang ada sebuah kuntilanak yang terbang kearah Faraz, dan karena reflek, kuntilanak itu di pukul dengan dahan pohon Bidara yang di bawanya.


"ya... maaf miss kun, salah sendiri terbang rambutnya nutupin, jadi kena geplak kan," jawab Faraz tertawa.


Raka tak habis pikir, Kenapa bisa para arwah ini di buat mainan oleh kedua pemuda itu.


sedang dukun di rumah itu marah melihat kelakuan dari dua pemuda itu yang seakan meremehkan ilmunya.


dukun itu ingin melempar bekas sirihnya, tanpa di duga sebuah bambu kuning melesat cepat kearahnya.


dan langsung mengenai jantungnya, dia pun terpental masuk kedalam rumah, dan Raka hanya tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"sepertinya tak sehebat yang di katakan," jawab Raka yang kini berjalan masuk.


para mahkluk itu mundur perlahan, ketiganya kini masuk kedalam rumah, dan langsung membawa Semua sesajen itu keluar dan membakarnya.


sedang Rafa mengancam sosok dukun tua yang sudah terluka itu, "diamlah, setidaknya kamu tak akan membunuh mu, sudah ku katakan pada semua dukun ilmu hitam, berani mengganggu salah satu saja warga di desa ku, akan ku buat kalian mati dengan ilmu kalian sendiri," ancam Raka.


"kamu tak akan bisa, karena aku adalah pengendali yang sesungguhnya, tak mungkin semua perewangan ku melawan ku," kata dukun Warno masih bisa menghina Raka.


"kamu yakin, dan sayangnya kedua putra ku bisa melepaskan semua perjanjian nyawa dan roh dari para mahkluk itu," jawab Raka yang kini bisa menyaksikan wajah pucat dari dukun itu.


"Mbah dukun, nih kepala mau ikut," kata Aryan melempar sebuah kepala tanpa tubuh.


kepala itu menyeringai kejam, kini para makhluk itu berpesta pora, bahkan semua ajian yang di berikan dukun itu juga hilang tiba-tiba.


Agus belum sadar, dan masih menikmati waktunya bersama lestari.


karena kaget, lestari menendang Agus hingga terjungkal, dia pun melihat di antara pahanya ada cairan kental.


"tolong!!!! dia melecehkan mu!!! tolong!!!" teriak lestari saat melihat hal itu.


"ah goblok, kenapa dia bisa sadar, ini juga kenapa si dukun Warno ini bisa hilang mendadak ajiannya, bukannya bertahan empat puluh hari kedepan," bingung Agus.


arwah yang menjadi media pelet pun menunjukkan dirinya, mahluk bergaun putih panjang.


dengan kuku panjang dan juga rambut seperti ijuk yang menyapu tanah.


makhluk itu langsung mencekik leher Agus, "matek.... koen kudu mati, Melu aku ngger.... ayo Melu... awak mu wes ngekek no nyowo mu Nang aku, dadi koe kudu Melu aku... (mati... kamu harus mati... ikut aku nak... ayo ikut... kamu sudah memberikan nyawamu padaku, jadi kamu harus ikut aku...)"


makhluk itu langsung menghisap darah dan kehidupan Agus hingga pemuda itu tewas kering.


sedang lestari masih terkapar tak sadarkan diri karena ulah Agus, mahluk wanita itu tak jadi pergi.


dia juga mulai menjilati darah yang keluar dari dahi lestari, dan beberapa mahluk yang lain ikut datang dan berkerumun.


Aryan, Faraz menuju ke rumah Agus bersama warga kampung yang mereka pimpin.


sesampainya di rumah sederhana itu, mereka semua langsung mendobrak masuk.

__ADS_1


tapi mereka kaget karena melihat yang mengerikan, begitupun dengan Faraz dan Aryan.


"pergi!!!" teriak mahluk kuntilanak yang sedang memakan sesuatu di antara kaki lestari.


"kamu yang pergi!" kata Faraz mengayunkan bambu kuning yang di pegang ya.


itu bambu kuning istimewa yang tumbuh di apit oleh tumbuhan merambat dan di antara ruasnya ada Pring petuk.


bahkan milik Aryan juga bambu yang mirip, cuma milik Aryan patil lele, Aryan segera menutupi tubuh lestari dengan kain putih yang di bawanya.


"pergi dari sini, kalian semua sudah membunuh sekutu kalian,kenapa masih ingin mencelakai orang itu," kata Faraz menantang mahluk itu


"karena dia sedang hamil bayi ghaib, dan itu bisa di jadikan pusat kekuatan ku, jadi aku akan memakannya sampai habis," kata makhluk itu.


tidak bisa begitu, Faraz tak boleh membiarkan semua terjadi, dia langsung melawan mahluk itu.


sedang Aryan memberikan lestari pada ketua RW yang kebetulan adalah pamannya untuk di bawa pulang.


kini dia bangkit dan membantu saudaranya itu mulai melawan semua mahluk halus itu.


Keduanya pun terluka, tapi tak menghentikan mereka. sampai akhirnya keduanya menyatukan kekuatan dan bisa mengalahkan mahluk itu.


lestari di bawa ke rumah dan segera di periksa oleh dokter, dan ayu mengalami pendarahan parah.


Raka mengusapkan sebuah ramuan ke kaki lestari dan beruntung pendarahan itu berhenti.


dokter pun meminta lestari di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut.


terlebih dokter takut jika lestari akan ada dalam bahaya terlebih darah yang keluar seperti air yang mengalir.


lestari di bawa pergi, sedang Raka dan kedua putranya pulang, di rumah sebelum masuk rumah ketiganya harus mandi terlebih dahulu.


Wulan sudah menyiapkan makanan kesukaan ketiganya, "loh Amma sendiri, dua gadis cantik ayah mana?"


"mereka baru saja tidur, jangan di ganggu jika tidak ingin kena pukul rotan, karena Dati tadi Husna sedikit rewel, tapi beruntung dia bisa tenang setelah minum air zamzam," kata Wulan.


"iya Amma, kalau begitu selamat makan...."

__ADS_1


__ADS_2