Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
cerita yang tersembunyi


__ADS_3

Fahri yang dari tadi berdiri di depan ruangan rawat Gadis pun tak mengira jika kakak iparnya bisa melamar gadis yang dia cintai begitu mudah.


sedang Randi pun hanya bisa tersenyum dan ikhlas untuk kebahagiaan dari kedua temannya, terlebih setelah dia pindah keyakinan menjadikan dia sangat jauh untuk bisa mendapatkan Gadis.


"selamat bro," kata Randi menepuk bahu Fahri.


"hah... iya terima kasih," kata Fahri yang masih tak percaya.


Fahri pun menitipkan makanan dan pamit pergi ke suatu tempat untuk menelpon seseorang.


tapi sebelum menelpon seseorang itu, dia pun memilih menutup matanya karena belum yakin sepenuhnya.


"aku memang menyukainya, tapi untuk menikah aku sepertinya belum siap," gumam Fahri.


dia pun segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, "assalamualaikum mbak," sapa Fahri pada Wulan.


"waalaikum salam dek, ada apa? kamu sudah tau keputusan keluarga bukan?" tanya Wulan dari sebrang telpon


"kenapa buru-buru bukankah seharusnya kita bahas dulu sebelum aku menyetujuinya," jawab Fahri dengan suara lesu.


"sebenarnya dek, kondisi gadis masih membahayakan, mas Raka baru sadar saat dia melihat aura yang melekat di tubuh Gadis, dan aura itu bisa hilang jika dia menikah," kata Wulan menjelaskan.


"baiklah mbak," jawab Fahri.


sedang di Jombang, rania sudah mulai beraktivitas kembali, saat dia sedang di pasar Peterongan.


tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikutinya, pria itu masih ingin menjadikan Rania timbal untuk kesempurnaan dari ilmunya.


Rania mengirimkan pesan pada Aditya yang berada di luar pasar, mendapat pesan itu Aditya langsung berlari meninggalkan sepeda motornya.


"brengsek," gumam Aditya yang mencari istrinya lewat GPS.


dia bahkan berlari di tengah keramaian pasar, dan melihat sosok Rania yang di ikuti seseorang.


tanpa basa-basi Aditya langsung menyeret pria itu sambil menodongkan pisau di punggung pria itu.


"ikut bersama ku jika tidak kamu mati," ancam Aditya.

__ADS_1


tapi saat pergi, Aditya melihat ada pria bertudung lain yang juga masih mengikuti istrinya.


karena marah, Aditya menendang kaki pria itu hingga kesleo, "berani berdiri dan mengikutiku, aku akan membungkam mu selamanya," ancam Aditya yang langsung pergi mengikuti istrinya.


dia pun melewati pria bertudung itu sambil melukai paha pria itu dengan pisau lipat miliknya.


Rania pun langsung memeluk Aditya yang datang menghampirinya, sedang Aditya menatap tajam pada pria yang mengikuti istrinya.


"kita pulang sayang, sudah belanjanya," kata Aditya langsung menuju ke parkiran.


kedua pria itu tak bisa berteriak karena Aditya nyatanya bukan pria sembarangan.


bahkan pria itu bisa melukai dengan parah dalam diam dengan tetap bersikap biasa saja.


Aditya pun menyetir motornya untuk pulang, dia pun kembali ingat dengan pesan dari keluarga Raka.


Rania akan terus dalam bahaya jika dia masih virgin, dia pun mulai sadar jika ini akan sangat merepotkan karena mereka berdua menikah berlandaskan janji, jadi tak mungkin dia memaksa Rania untuk melayani dirinya.


"mas sedang memikirkan apa?" tanya Rania yang sedang menata belanjaan.


"aku ingat pesan dari mas Raka, kamu akan terus berada dalam musibah dan masalah kecuali kita jadi suami istri seutuhnya, tapi aku tak ingin memaksamu karena itu tak adil jika kamu harus terluka karena hal ini, karena aku yakin akan selalu bisa menjaga keselamatan mu," kata Aditya yang ingin pergi.


Aditya pun menoleh dan melihat Rania dengan tatapan mata yang tajam, "jangan bicara omong kosong dek,"


"aku tidak bohong mas, sebenarnya aku sudah jatuh cinta setelah kita menikah, dengan semua sikap lembut dan yang begitu melindungi ku," kata Rania yang langsung memeluk Aditya.


"aku takut kamu menyes-" kata Aditya yang terhenti karena ciuman yang di berikan oleh Rania.


"tolong berikan aku nafkah batin ku mas," kata Rania menatap dalam ke mata Aditya.


Aditya pun langsung mencium bibir istrinya dengan penuh hasrat, Rania pun tak tau jika suaminya bisa seganas ini.


baju mereka berserakan di mana-mana, meski masih pagi, mereka pun tak ada gangguan saat melakukannya.


Rania pun di buat berteriak merasakan sesuatu yang membelah dirinya.


"tahan sayang, ini akan sakit sebentar," kata Aditya dengan lembut.

__ADS_1


"iya mas ... mmhh..."


pagi menjelang siang itu menjadi saksi dari kegiatan panas kedua sejoli ini, bahkan Aditya tak memberikan waktu pada istrinya yang sudah beberapa kali mengalami puncak.


setelah itu keduanya tidur untuk memulihkan tenaganya, sedang Rania berada di pelukan Aditya dengan sangat erat.


"terima kasih telah memberikan hal terindah ini untuk ku, aku akan melindungi mu selama nafas ini di tubuhku," kata Aditya dengan lembut.


"iya mas," jawab Rania yang malu.


terlebih sekarang keduanya hanya menutup tubuhnya dengan selimut saja.


sedang di rumah, Aryan sedang melihat foto kenang-kenangan terakhirnya bersama ratu dan Emily.


"lusa kami sudah masuk sekolah, pasti di sana tak akan sama karena kepergian kalian berdua," gumam Aryan.


"meski kamu menangis darah pun semua yang sudah pergi tak mungkin bisa kembali lagi, terlebih semuanya tak bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan," kata Arkan yang duduk di depan Aryan.


"kamu memang dingin dan berhati batu, tapi bisakah jangan mengatakan itu, bagaimana pun kita harus tetap hidup bersosialisasi," tegur Aryan pada saudaranya.


"aku lelah dengan urusan wanita, aku percaya jika kita berjodoh kami pasti bertemu jika tidak, ia sudahlah," kesal arkan.


"dasar kamu ini selalu pesimis, kejar dong," ledek Aryan.


"hak minat, aku mau fokus sekolah dan kemudian kuliah di luar negri, dan cukup dengan semua dunia ghaib ini, aku ingin hidup normal," kata arkan jujur.


"kamu tau kan kita tak bisa dengan mudah memilih, karena itu adalah anugerah yang di berikan tuhan pada kita untuk membantu sesama, tapi kenapa karena satu wanita kamu rela mundur dari kelebihan kita," tanya Aryan.


"tidak seperti itu, aku hanya lelah dan ingin berhenti sejenak, dan pergi mencari impian ku, apa salah," jawab Arkan melirik saudaranya itu.


"baiklah kalau itu keinginan mu, aku akan ada di sini membantu ayah, dan aku yakin suatu saat jodoh dari Tuhan pun akan datang segera," kata Aryan dengan optimis.


"kasihan ya calon istrimu itu punya suami model beginian," ledek arkan.


"apa maksudmu model beginian!!!"teriak Aryan.


sedang Arkan tertawa mendengar teriakan dari saudaranya itu, karena dia selalu sedang menggoda Aryan.

__ADS_1


sedang dari kejauhan Wulan yang mendengar semuanya merasa sedih, karena Arkan adalah kekuatan terbesar dalam keluarga ini, jika dia pergi maka Aryan akan seperti kehilangan arah.


"ya Allah tolong bolak-balikkan hati putraku, tolong jangan buat dia pergi jauh dan tetap membantu setiap orang yang membutuhkan bantuan," doa Wulan.


__ADS_2