
Emily sampai di rumah, meski dia sudah menerima pinangan dari ustadz Rasyid, tapi di sudut lain hatinya masih begitu berharap pada Arkan.
tapi ini sudah jadi janjinya, terlebih ustadz Rasyid yang bisa menutup dan menghilangkan semua kekuatan yang di miliki oleh Emily.
sekarang dia hany gadis normal yang mungkin tak pantas berdiri di samping Arkan.
terlebih sekarang ada Niken, putri cantik dari keluarga kaya dan terpandang yang sudah menemani Arkan.
di sebuah rumah, seorang pria sedang meluapkan amarahnya pada wanita yang memintanya menyantet keluarga Aris.
pria itu menyiksa wanita itu dengan kasar, bahkan wanita itu sudah seperti bintang di tangannya.
dia memaksakan dirinyalah pada wanita itu, yang kini parah di gagahi oleh dukun cabul itu.
"lihat saja Aris kamu akan mati, keluarga mu akan hancur, aku janji itu pasti akan terjadi," batin wanita itu.
malam itu akan jadi malam yang panjang untuknya, karena ki Broto benar-benar menyukai wanita yang sedang dia nikmati itu.
keesokan harinya, Aris dan Raka sedang duduk di teras rumah, tadi setelah sholat subuh Aris juga memanggil beberapa orang untuk memperbaiki kaca di kamarnya.
Niken datang sambil menyuguhkan kopi dan gorengan, "wah putrimu tau saja kalau kopi itu cocoknya sama ote-ote," kata Raka tersenyum.
"ini buatan Niken loh om, meski masih belajar, jadi kalau keasinan maaf ya," kata Niken tersenyum.
"gak apa-apa kok nak, ini sudah enak, tapi sebenarnya kamu tidak bisa masak juga gak papa, karena tinggal cari pria yang bisa masak," kata Raka tertawa.
"heleh... cari di mana pemuda jaman sekarang yang bisa masak dan mau membantu istrinya," kata Aris tak percaya dengn ucapan Raka.
"ada loh, yang Pati bukn kamu juragan menyebalkan, contohnya saja putra ku Arkan, dia itu sudah pintar, bisa masak, ganteng, suka kebersihan yang pasti juga mau bersih-bersih, dan untuk agama nomor satu loh," kata Arkan sombong.
"aduh promosiin putra mu ternyata," kata Aris tertawa melihat tingkah kawannya itu.
"di bilangin gak percaya," saut Raka.
sedang Niken sudah malu sendiri mendengar ucapan Raka yang begitu membanggakan arkan, pasalnya pria itu juga begitu sempurna sebagai lelaki.
"bagaimana Niken?" tanya Raka yang menoleh ke arah gadis di sampingnya.
"ah om..." Jawab Niken yang langsung berlari masuk.
"lah... anak mu malu bro, padahal dia itu cantik dan juga sempurna loh, persis seperti istriku dulu, malu-malu dan tak banyak bicara," puji Raka.
__ADS_1
"tapi dia pernah di katakan memiliki takdir buruk oleh seorang dukun beranak, terlebih di bahunya ada tanda hitam, yang di percaya sebagai wanita bahu Laweyan," jawab Aris sedih.
"jangan sedih, kamu tak percaya takdir Allah ya ris, menurut mu aku menjauhi istri ku juga dengn mudah, aku juga harus melakukan segalanya agar bisa bersamanya, terlebih di juga mempunyai tanda yang sama, tapi lihatlah sekarang kami bahagia bukan," kata Raka.
"benarkah? ya Allah berarti Niken bisa hidup dan berkeluarga dengan baik," kata Aris yang begitu senang mendengar ucapan itu.
"jika Arkan dan Niken berjodoh, maka jalan mereka tak akan semudah perjalanan cintaku dan wulan," batin Raka.
saat ini Arkan sedang membantu sang Amma untuk menyiapkan nasi yang akan di bagikan pada semua orang.
"ada apa Arkan? kenapa kamu begitu pendiam? apa kamu sakit nak?" tanya wulan.
"tidak ada Amma, Arkan hanya merasa sedih saat ingat semua kejadian saat kami pulang dari Jawa tengah kemarin," jawab Arkan.
"le... jodoh, maut dan rezeki sudah di atur oleh Allah, jadi kita sebagai manusia hanya bisa berdoa saja, jadi do'akan saja semua teman-teman mu yang sudah tiada ya le," kata Wulan menenangkan Putranya.
"Amma, sekarang tinggal yang di bawa ke tempat box-box yang di sediakan di sekitar kota kan?" tanya Aryan yang baru pulang.
"iya Aryan, cepat di tata, karena nanti siang Amma harus menemui bude kalian," kata Wulan
"heh Abang yang ganteng... kamu yang menyetir ya, karena aku lelah, capek dan lesu," mohon Aryan.
"boleh saja, asal jangan ngomel nanti, soalnya mulut mu persis ibu-ibu komplek, kalau sedang ngomel," saut kakaknya itu.
"geli .." kata Arkan yang langsung mundur beberapa langkah.
merasa pun segera berangkat ke taman kota, meski hari Jum'at terlihat banyak orang yang main.
merak berdua menata nasi bungkus di tempat yang sudah di sediakan, dan tak lupa juga memberikan pda orang yang membutuhkan.
"istirahat dulu yuk, sekalian jajan," ajak Aryan.
Arkan pun tak bisa menolak karena langsung di tarik paksa oleh adiknya itu.
mereka pun langsung menuju ke area pusat penjual makanan, setelh membeli yang di inginkan.
keduanya duduk santai di kursi yang sudah tersedia, terlihat ada beberapa orang yang sedang berkerumun.
"maaf permisi... disana ada apa ya?" tanya Aryan yang penasaran.
"oh itu pengajian yang di adakan oleh ustadz muda bersama calon istrinya, mereka sering kesini kalau Jum'at, dan jamaah mereka cukup banyak dari kalangan muda," kata ibu yang di tanya oleh Aryan.
__ADS_1
"wah... hebat ya, ustadz muda yang menyasar kaum muda agar tak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah," kata aryan.
Arkan pun tak peduli, dia fokus makan es krim yang di belinya, "ini mahal ya,"
"apanya, orang cuma lima ribu aja mahal, pelit nih..." kesal Aryan.
"lima ribu kalau beli sendiri, lah ini aku harus membelikan mu beserta jajanan yang lain juga," jawab arkan.
"idih seramnya Abang ku ini, ya gak papa lah bang, sekali-kali jajanin adek ku yang tampan ini," kata Aryan.
"mau mati huh, sudah ayo pulang panas ini," kata Arkan
"tunggu, setidaknya kita bisa menyapa mereka, dan memintanya mengisi pengajian di masjid dekat rumah Mbah," ajak Aryan menarik tangan Arkan.
terpaksa dia ikut kemana adiknya itu pergi, tapi Aryan langsung diam saat tau siapa yang mengisi pengajian.
Arkan pun melihatnya, "sudah kebal dan tau, kamu bisa mengunjunginya di rumah, karena sekarang aku mau pulang," kata Aslan yang sudah terlanjur makin kesal.
bahkan pria itu membuang es krim yang ada di tangannya, Aryan pun juga langsung mengejar arkan.
sedang Emily yang tau pun hanya melirik sekilas, dia tau benar jika Arkan masih nampak marah padanya.
sedang ustadz Rasyid masih fokus memberikan penjelasan dan sedikit wejangan pada semua pemuda yang ada di majlis itu.
Arkan menuju ke rumah Aris untuk menjemput Raka, karena tadi saat pulang raja menelpon ingin di jemput.
sesampainya di rumah Aris, rumah itu nampah begitu terang tanpa ada asap hitam yang menutupinya lagi.
ada beberapa pekerja yang di tugaskan untuk membereskan semua tanaman.
di samping pagar juga ditanam daun Bidara, dan di area belakang ada bambu kuning dan pohon kelor.
keduanya masuk kedalam rumah, Raka yang melihat kedua Putranya reflek langsung menggeplak kepala Arkan.
"sakit ayah ..."
"dasar bocah mesum, masih bocah sudah berani kamu ya," gumam Raka yang membuat arkan malu.
sedang Niken datang membawa minuman juga dengan wajah malu, bila teringat mimpinya.
Arkan bukan datang mengendarai kuda putih seperti dongeng pangeran, tapi harimau putih yang begitu besar.
__ADS_1
bahkan pria itu nampak begitu gagah di mimpi Niken itu, "kamu melihat apa Niken?" tanya Aris yang mengejutkan putrinya itu
"tidak kok ayah, ini aku cuma mau menaruh minuman saja," jawab Niken yang kemudian berlari pergi.