
malam hari, Faraz terlihat begitu tenang, Raka tau jika pemuda itu masih sedih.
tapi sepertinya dia lebih dewasa dari yang terduga, Faraz bisa menyambut para orang yang mengikuti tahlilan.
hari-hari terus berjalan biasa, terlebih selama tujuh hari tahlilan tak terjadi apa-apa.
hari ini adalah hari baru untuk Faraz dan Aryan yang harus ke kampus untuk melanjutkan penduduk mereka.
tapi yang sudah hilang dari pagi adalah Arkan, pemuda itu entah sudah pergi kemana.
"pagi Amma, aku tidak melihat Arkan dari tadi?" sapa Faraz yang duduk untuk sarapan.
"sudah pergi, entah tadi katanya mau ke rumah Juragan Aris bersama ayah kalian, Faraz hari ini kuliah sampai sore?" tanya Wulan pada putra sambungnya itu.
"tidak amma, aku kuliah sampai siang saja, memangnya ada apa?" tanya Faraz.
"sebenarnya Amma harus ke rumah pakde Amma, jika mau boleh antar Amma, karena Aryan dan Arkan selalu sulit jika di ajak ke rumah itu," kata Wulan
"baiklah Amma, tapi sekitar jam dua aku baru pulang," jawab Faraz.
"terimakasih ya," jawab Wulan.
Aryan datang dengan ransel yang cukup besar, "mau kemana sih, kok aku gak di ajak?" tanyanya dengan penasaran.
"mau ke rumah Mbah de Kholik mau ikut?" tanya Wulan.
Faraz sudah sarapan karena waktu makin mepet, "gak usah deh, bang Faraz saja yang pergi mengantar, Karena aku takut sama Nia,"
__ADS_1
"memang dia kenapa, orang gadis kalem, cantik, pintar juga," kata Wulan yang tau sepupu jauhnya itu.
"kalem apaan, aku main kesana kena lempar buku kamus bahasa Inggris yang tebalnya nauzubillah, sedang bang Arkan kena lempar minuman kaleng, itu yang Amma bilang kalem, wah ..." kata Aryan tak terima.
"kenapa bisa, jika kalian tak berbuat salah tak mungkin gadis itu memukul," tanya Faraz yang masih tak percaya
"sepertinya dia lagi berantem dengan Keponakannya, karena dia adalah putri paling kecil dan memiliki keponakan yang sudah besar-besar," jawab Aryan.
"baiklah aku juga ingin melihat gadis itu, baik Amma terima kasih atas sarapan pagi yang sangat enak ini, aku berangkat dulu dan apa aku perlu membawa sesuatu atau Amma mau di belikan apa?" tanya Faraz yang mencium tangan Wulan.
"belikan brownies pandan dan coklat ya,"jawab Wulan.
"siap Amma, kamu juga lekas sarapan dan seger berangkat, atau nanti telat, udah tau ini jadwal guru killer," kata Faraz menginggatkan.
"baiklah, duluan saja," jawab Aryan yang memang ingin menghindari kelas.
Arkan dan Raka sedang berada di sawah, setelah tadi Arkan mengantarkan Niken ke sekolah.
"jadi kenapa ini sawah jadi memburuk seperti ini, bukannya akan panen beberapa Minggu ini?" tanya Raka terheran-heran.
"aku juga tak mengerti, tapi para pekerja ku bilang tanaman rusak dalam hitungan malam, kan aneh," jawab Aris.
"sepertinya ini bukan hanya deh ayah, pasalnya hanya sawah om Aris yang rusak seperti ini,tak mungkin hana tebang pilih dong," jawab Arkan.
"ah kenapa aku bisa lupa, ini bisa ada orang yang usil, sudah sekarang cari tanah dari kotoran binatang, kamu punya dong pastinya," kata Raka pada sahabatnya itu.
"banyak, ya sudah biar Sugik yang bawa itu kesini," kata Aris yang menelpon anak buahnya.
__ADS_1
"Arkan tanam Pring petuk ini di beberapa sawah milik Aris, kamu tau kan caranya," kata Raka yang memberikan satu kresek hitam itu pada putranya.
"siap ayah," jawab Arkan.
pemuda itu melakukannya dengan sangat cepat, terlebih tak boleh ada orang yang tau, karena itu tadi semua pekerja di sawah Aris di liburkan.
tak lama datang mobil L300 yang membawa tanah yang di minta Raka. tanah itu di campur dengan bubuk hijau.
Aris tak tau bubuk apa itu, kemudian Raka tersenyum kearah Aris dan kedua anak buahnya.
"wah... perasaan ku tak enak ini jika melihat mu tersenyum begitu," kata Aris ngeri.
"gak Popo lah ya, sekarang ayo kita mulai menaburkan pupuk ini," jawab Raka.
kan firasat Aris benar, mereka pun mulai berjalan membawa tanah itu dan mulai menyebarkan.
sedang Arkan sampai di sawah milik Aris yang paling ujung diantara deretan sawah yang terhampar.
dia tak sengaja melihat seorang pria sedang menuangkan air berwarna hitam ke sawah.
"woi!!! sedang apa itu!!!" teriak Arkan yang langsung mengejarnya.
pria itu ketakutan dan langsung berlari ke area jalan raya, melihat pria yang hampir lolos itu, Arkan mengambil batu bata yang terpotong dan melemparnya.
dan beruntung batu bata itu pas mengenai kepala pria itu hingga membuatnya pingsan.
Arkan pun berhenti dan melihat cairan apa itu, ternyata ada bunga juga, sepertinya ini yang membuat sawah itu mati karena ajian penutup rezeki.
__ADS_1