
Arkan dan Aryan sampai di rumah, Wulan dan Raka menyambut keduanya yang viral karena nekat membantu teman-temannya yang terjebak kecelakaan.
"apa masih ada orang yang meminta tumbal sejahat itu, mengorbankan ratusan anak demi kekayaan semu," kata Raka tak percaya.
"ayah hati dan pikiran manusia siapa yang tau, sudah sekarang ayo masuk dan mandi dulu baru boleh menjengguk Aluna," kata Wulan pada kedua putranya.
setelah mandi, mereka segera melihat adik bayi cantik, "assalamualaikum Aluna, kami datang, aku mas Arkan dan ini mas Aryan, kami saudara terbesar mu, dan kami akan menjaga mu selamanya," kata aryan.
"pasti, tak akan ku biarkan siapapun menyakitinya, jika tak ingin menyesal karena melawan ku," kata Arkan.
"aduh-aduh adek Aluna saja masih bayi, kenapa kalian begitu posesif," kata Wulan yang mengendong Aluna.
"aku mau gendong," kata Arkan yang mengambil Aluna.
meski masih kaku, dia berusaha membuat adiknya itu nyaman, Aryan membagikan semua oleh-oleh yang mereka beli.
Fahri nanti yang akan mengantarkan oleh-oleh pada semua orang, "terus ini yang ke rumah mbak Rania siapa?"
"biar nanti aku saja," kata Arkan.
"baiklah, terima kasih ya kemeja batiknya, lumayan dapat empat buat ngajar," kata Fahri.
Raka tertawa melihat adik iparnya itu, Raka susah dapat semua laporan apa yang tejadi, dia tak marah karena kedua putranya mengunakan kekuatannya demi menolong teman-temannya.
malam hari, Arkan dan Aryan bersiap ke tempat Rania. mereka berdua meminjam motor sports batu milik Fahri.
"assalamualaikum..." salam keduanya.
"waalaikum salam," jawab Rania yang bangun dari kursinya.
"loh kalian berdua datang, ayo masuk dulu, ada apa kok tumben malem-malem," kata Rania pada kedua keponakannya itu.
"kami cari pulang dari trip Jawa tengah mbak, kami bawa oleh-oleh ..." kata Arkan terdiam.
dia merasakan aura dari gadis yang sudah meninggalkan dirinya satu tahun ini.
"ayo masuk sini, lihat ini adik mas Aditya, namanya ustadz Rasyid dan juga calon istrinya, Emy," kata Aditya memperkenalkan.
"udah kenal dengan ustadz Rasyid, tapi kami baru tau jika beliau adik mas Aditya," kata Arkan.
__ADS_1
Arkan dan Aryan saling menyapa karena sudah lama tak bertemu, tapi saat melihat gadis bercadar di samping ustadz Rasyid.
Arkan membuang muka, dia berusaha sekuat tenaga menahan gejolak di hatinya karena mengenali mata itu.
"duduk dulu, mau minum apa?" tanya Rania.
"aku buat sendiri," kata Aslan yang ikut kebelakang.
"sudah lama tak bertemu ya, Emily..." kata Aryan dengan senyum yang mengembang.
"iy iya," jawab Emily tergagap
"wah ustadz Rasyid gak masalah menikahi gadis di bawah umur?" tanya Aryan yang tak suka melihat Arkan sedih.
"kebetulan Emy sudah berusia tujuh belas tahun, jadi sudah boleh menikah menurut peraturan," jawab ustadz Rasyid.
"owh begitu, nikah muda ya, selamat Emy, kebetulan kami juga juga sudah memiliki kekasih masing-masing," jelas Aryan.
"benarkah Aryan? siapa mereka itu? pasti bukan gadis sembarangan," tanya Aditya.
"Nayla Anjani Subagyo, dan Niken Munandar Ibrahim gadis yang dekat dengan Arkan," jawab Aryan.
"Karena kami juga bukan pemuda biasa, terlebih setelah menolong terus di tinggalkan dengan begitu saja, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata walau itu hanya sekedar ucapan terima kasih," kesal Aryan tajam
"sudah Aryan jangan mengatakan hal gila,minum ini es jeruk kesukaan mu," kata Arkan yang satang membawa oleh-oleh yang sudah di tata oleh Rania.
"sudah, oh ya kemarin aku di titipin sesuatu sama Niken, katanya ucapan terimakasih," Rania yang kembali lagi kedalam rumah.
Emily hanya diam, ustadz Rasyid tau jika ada sesuatu yang salah, "kaku mau pulang Emy,"
"tidak apa-apa, ustadz belum lama disini, aku juga ingin mengenal lebih keluarga ustadz," Jawab Emy.
Rania datang membawa dua kresek besar, "mbak rania mau ngusir kami?" kaget Arkan.
"aduh mulutnya masih pedes saja. ini hadiah dari Niken, untuk waktu itu mas Aditya bawa mobil jika tidak pasti aku akan membuangnya mungkin," kesal Rania yang memang sedang hamil jadi semakin sensitif.
"ingat lagi hamil, nanti anaknya kaya Arkan kan repot," kata Aryan meledek.
"mana mungkin bisa gitu, gak ada jurusannya, anakku ya harus seperti ku dong," kata Aditya tak terima.
__ADS_1
"yakin.... malah aku jadikan sana mbak Rania kalau anaknya biru mas Aditya," ledek Arkan.
"beh,minta di slepet nih anak," kesal Aditya yang hanya di tertawa kan oleh kedua bocah itu.
"ini perlengkapan naik gunung, dari sepatu, career dan juga sleeping bag," kaget Arkan yang melihat isi kresek itu.
Aryan juga tak percaya, padahal hadiah seperti itu sangat mahal, terlebih ini termasuk salah satu merek ternama.
"kalau begitu kami pulang duluan ya mbak, oh ya kata Amma, main-main mau di berikan sesuatu katanya," kata Aryan.
"iya iya,nanti kalau Mbah libur pasti main kesana," jawab Rania.
Keduanya pun pamit pulang,begitupun ustadz Rasyid yang mengantarkan Emily pulang ke rumah.
selama perjalanan keduanya hanya diam membisu, ustadz Rasyid bingung harus mulai mengajak bicara dari mana.
"dia itu pria yang menolong mu? aku mengenalnya dari dua kecil, tapi bagaimana bisa usia mu lebih darinya?" tanya ustadz Rasyid.
"itu karena kakek ku tak ingin semua mengetahui jika aku adalah anak dari ayahku, jadilah mereka memalsukan semua dokumen ku, dan beruntung kemarin aku dan mama mengajukan pengembalian dokumen dengan sidang, dan bukti kongkrit dari rumah sakit dengan beberapa tes, mulai dari gigi, tulang dan sel,"
"jika kamu belum siap, kita batalkan saja rencana ini, kaena aku merasa jamu masih sangat mencintai Arkan?" kata ustadz Rasyid.
"tidak ada, aku tak ingin membahasnya, itu masa lalu, dan masa depan ku adalah anda ustadz, jadi tolong jangan menolak ku lagi," kata Emily.
Arkan dan Aryan memilih untuk jajan di luar sebelum pulang, keduanya mampir ke tempat langganan sate keluarganya.
baru juga duduk, mereka kaget saat pemilik warung menutup warung tapi membiarkan Arkan dan Aryan menunggu sambil gelap-gelapan.
"ini kenapa lagi?" tanya aryan.
"maaf ya den, di desa kami sedang ada masalah serius, lihat saja sendiri, sudah lima orang meninggal seminggu ini" kata paklek penjual sate.
"ya Allah, ternyata teror ini lagi, kenapa sih mereka lagi, arwah gotong keranda," kesal Aryan.
"tenang pak, biasanya mereka akan meneror selama belum mencapai tujuh orang yang meninggal, setelah tujuh orang, mereka akan hilang dengan sendirinya," terang arkan.
"tapi den, yang mati itu pasti jejaka atau anak gadis, kan aneh," jawab ibu pemilik warung.
"loh heh... kok iso," kata Aryan yang kaget melihat salah satu dari pengiring keranda di depan warung penjual sate.
__ADS_1
"minggat lek gak gelem mati," usir Arkan dengan menyentilkan sesuatu yang membuat arwah itu kabur.