
"Niken, mau gak kalau nanti sore ikut pengajian di masjid di dekat rumah Mbah ku, nanti biar Arkan yang jamin kamu selamat pulang pergi," kata Aryan yang ingat ada acara itu.
"aku mau, tapi ayah apa mengizinkan," kata Niken takut pada Aris.
"kenapa sih nduk, kita semua akan berangkat, tenang saja," jawab Aris yang memang ingin mengunjungi Wulan sekaligus.
siang itu mereka pulang, Arkan masih merasa ada yang janggal, terlebih Emily yang tak memiliki aura dendam itu lagi.
"ayah... apa ayah menyembunyikan sesuatu saat aku terluka pada pertarungan di rumah keluarga Emily, kenapa sekarang aku tak bisa merasakan aura kuat, dan gadis itu juga sepertinya sangat lemah sekarang," tanya Arkan yang duduk di kursi penumpang.
"tidak kok," jawab Raka yang tau segalanya.
"ayah jangan bohong, atau aku bisa mengunakan cara ku untuk melakukan hal yang aku inginkan, dan kamu tak mau itu bukan," kata Arkan sudah menutup satu matanya.
"huh... akhirnya kamu harus tau juga, Emily mengalami sakit keras saat terus bersama Sekar, dan opa dari Emily mencarikan orang untuk menyembuhkan gadis itu, kebetulan ustadz Rasyid sedang tugas di desa itu dan berhasil menyembuhkan Emily," jawab Raka yang masih merahasiakan sesuatu.
"memang ayah pikir aku bocah Lima tahun, aku yang memiliki begitu banyak bala bantuan saja tak bisa menghapus dendam itu, tapi bagaimana ustadz Rasyid bisa, itu sungguh mustahil," jawab Arkan yang kemudian turun dari mobil.
"ayah ... cukup kaki kecewa dengan kejadian itu, aku awalnya berharap ayah tak menyembunyikan sesuatu dari kami," tambah Aryan yang juga masih terluka dengan kematian Ratu yang begitu tragis.
"terus kalian ingin ayah jujur dan membuat kalian semua terluka, bagaimana bisa, terlebih Amma klian juga merelakan kekuatannya," gumam Raka yang belum turun dari mobil.
Wulan yang tak melihat suaminya pun mengetuk kaca mobil, Raka keluar dan menghapus air matanya.
dia langsung memeluk tubuh istrinya itu, "ada apa ayah," tanya Wulan yang tau suaminya sedang sangat sedih.
"aku tak ingin kehilangan lagi, cukup semuanya pergi, jika kedua putra kita mengorek kisah dari Emily, mereka akan dalam bahaya..." lirih Raka.
"tenang mas, kedua putra mu lebih kuat dan hebat dari yang kita bayangkan," kata Wulan menepuk pelan punggung Raka.
suaminya pun perlahan tenang, keduanya pun masuk bersama, Arkan dan Aryan sedang main dengan Aluna.
bayi itu seperti cahaya di saat keluarga itu terpuruk, sore hari seluruh anak didik ustadz Arifin datang ke rumah orang tua Wulan.
pasalnya rumah itu menjadi titik kumpul dari semua pengisi pengajian, Arkan dan Aryan di minta jadi salah satu panitia keamanan.
Arkan menghampiri ustadz Rasyid, "ustadz Rasyid boleh bicara bicara berdua," ajak Arkan.
__ADS_1
"Monggo Arkan," jawab ustadz Rasyid dengan tenang.
Emily ingin bangun, tapi ustadz Rasyid memberikan kode untuk dia tetap duduk.
"assalamualaikum Arkan," sapa Niken yang baru datang bersama keluarganya.
"waalaikum salam Niken, aku ada urusan sebentar, kamu masuk saja ya," kata Arkan begitu lembut.
"baiklah, tapi nanti cari aku ya, karena aku ada hadiah untuk mu," jawab Niken dengan senyum yang mengembang indah.
ustadz Rasyid menundukkan kepalanya saat Niken berdiri depannya.
sedang dari jauh Emily bisa melihat perlakuan dari Arkan yang begitu berbeda pada gadis itu.
Keduanya pun sampai di sudut yang cukup sepi, "langsung saja ustadz, aku hanya ingin tau bagaimana anda bisa bertemu dengan Emily, dan kenapa kalian harus menikah seperti tergesa-gesa,"
"kenapa harus melakukan dosa saat kami bisa menjadi yang halal, dan untuk masalah bertemu, aku kebetulan kenal dengan opa Emily yang seorang pimpinan kelompok agama di Manado, beliau meminta ku untuk menjaga cucunya," jawab ustadz Rasyid berusaha tetap tenang.
"tapi gadis itu bukan gadis biasa, kemana kekuatan hitam nya, bukankah itu tak bisa di hilangkan, meski sudah membunuh semua pelaku kejahatan itu," tanya Arkan yang mulai mengusik ustadz Rasyid.
"tapi Rabah pribadimu itu hampir merenggut nyawa ku, dan juga kebahagiaan dari adikku!!" bentak akan yang berakhir membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"kamu tak bisa di ajak bicara sekarang, lebih baik kita bicara nanti," jawab ustadz Rasyid yang tak ingin merusak suasana.
"ha-ha-ha, kamu tak tau apa yang bisa aku lakukan, karena kamu belum tau sepenuhnya tentang siapa aku," kata Arkan langsung berjongkok dan mengusap gelang miliknya.
"innailaihiilaihi wa Inna ilaihi Raji'un..." gumam ustadz Rasyid mundur.
pasalnya sosok Arkan langsung di selimuti aura hitam, bahkan mata itu berubah jadi merah seperti darah.
"kamu tak ingin mengatakannya, maka aku bisa mencari tahu sendiri," kata Arkan yang memiringkan kepalanya sambil menyeringai.
Wulan dan Raka kaget melihat kemajuan Arkan yang begitu pesat, ustadz Rasyid ingin mundur, tapi di belakangnya sudah ada Aryan yang ternyata memiliki aura yang sama.
"maaf ustadz. sepertinya kamu harus ikut kami pergi, dan melihat segalanya lagi dengan paksa, dan maaf jika kamu harus mati," kata Aryan yang langsung menekan tubuh ustadz Rasyid.
ketiganya pun pingsan setelah itu, saat semua ingin menolong, ketiganya seperti di lindungi oleh cangkang yang tak bisa di tembus.
__ADS_1
Nayla Anjani Subagyo datang atas undangan dari keluarga Raka yang memang memiliki hubungan baik dengan keluarga itu.
"ada apa ini?" tanya pak Hanafi Subagyo yang bingung melihat keadaan tiga pria yang terkapar di tanah itu.
Emily ingin menolong ustadz Rasyid, karena pria itu bisa mati karena berurusan dengan kedua saudara itu.
Raka juga tak bisa melakukan apapun untuk menolong ustadz Rasyid, Niken ingin membantu, tapi Ayu menahan anaknya itu.
ketiganya pun berada di tempat sebuah lorong gelap, mereka berdua menyeret ustadz Rasyid dengan kasar.
"kamu tak ingin mengatakannya, maka kita akan lihat bersama, apa yang kalian semua sembunyikan dari kami," kata Arkan yang menarik ustadz Rasyid ke sebuah cahaya.
itu adalah sebuah desa di mana Emily tinggal, ustadz Rasyid yang sudah menyelesaikan kuliahnya memilih mengajar di desa terpencil itu.
seorang pria yang begitu berwibawa menghampiri rumah Emily dan Sekar, "kalian benar-benar melakukan hal yang melanggar ketetapan Tuhan, Emily ibu mu itu bukan manusia, jadi berhenti membuatnya terus bersama mu," kata opa Emily dingin.
"jangan ganggu hidup Emily dan mama, opa selama ini jahat menyembunyikan semuanya," kata gadis itu tak terima.
"itu opa lakukan demi dirimu, terlebih ayah mu mati juga karena wanita itu," tunjuk opa Emily.
"bukan, itu karena orang-orang yang punya iri hati pada keluarga kami, dan kesuksesan ayah," jawab Emily.
"tolong jangan do lanjutkan..." mohon ustadz Rasyid.
"diamlah..." kata Aryan yang masih ingin melihat potongan ingatan masa lalu itu.
tiba-tiba Emily muntah darah, dan langsung kejang, ternyata kelopak kenanga itu sudah berubah warna dari merah menjadi hitam.
deg... jantung Arkan sakit, rasa tusukan terakhir kali teras kembali, jingga membuat pria itu tersungkur.
"Arkan,"
"itu yang aku katakan, nyawamu hampir hilang saat itu, dan Emily juga merasakannya, dan kalian akan lihat pengorbanan terbesar dalam hidup kalian berdua," kata ustadz Rasyid yang tetap tenang.
sedang Aryan membantu Arkan untuk berdiri, dan memapahnya. bahkan ustadz Rasyid bisa memutuskan tali ghaib Arkan saat ini.
"sekarang aku tunjukkan yang sesungguhnya..." kata ustadz Rasyid yang membawa mereka menuju ke tempat lain.
__ADS_1