Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
sudah aku peringatkan


__ADS_3

Aira merasa sangat kecewa, dia sudah berkali-kali mengingatkan pada kedua adiknya itu.


tapi tak pernah di gubris atau didengarkan, Aira pun mengusap air matanya dengan kasar.


"kamu puas Raka, puas melihat saudaramu mati, sudah puas bukan, dari dulu aku sudah bilang jangan mencampuri urusan mereka, tapi kalian tak pernah mau dengar, sekarang apa!!" bentak Aira di depan semua orang.


"kenapa kamu tak ikut mati juga, kenapa," dorong Aira dengan marah.


Raka hanya diam mendengar semua ucapan dari kakaknya itu, Wulan ingin mendekat tapi Raka menahan istrinya.


"seandainya bisa mbak, aku memilih aku yang pergi, setidaknya keluarga ku akan lebih kuat di banding keluarga Rafa, seandainya aku bisa memilih, aku akan melarangnya, tapi dia tak pernah mau mendengarkan ucapan dari ku," bela Raka.


Aira pun menatap tajam kearah Raka, "apa kamu bilang, kenapa dari awal kalian tak membunuhnya jika dia mengancam keluarga kita, aku lelah harus mendengar satu persatu keluarga ayah mengincar kalian bertiga hanya karena harta!! hari ini Rafa pergi, besok bisa saja kamu atau Rania!!" bentak Aira yang semakin menjadi.


melihat hal itu Adri langsung menghampiri Aira dan menenangkan wanita itu, "tolong bilang padanya om, kenapa mereka selalu membahayakan nyawa demi orang lain, sekarang Rafa sudah pergi, dan dengan mudahnya Raka bilang seperti itu, aku gagal sebagai kakak om," tangis Aira yang pecah di pelukan Adri.


"tenang Aira, ingat kita semua berduka di sini, tolong jangan begini karena ada seseorang yang membutuhkan kamu dan kita semua untuk menguatkannya," kata Adri.


tanpa di duga, Jasmin berlari keluar dari rumah, Arkan langsung memeluk budenya itu.


"bude.... tolong tenang bude, kami semua disini bude, tolong jangan seperti ini," kata Arkan.


"lepaskan, aku ingin menemui suamiku, pergi dari sini!!" bentak Jasmin yang histeris.


mental wanita itu sedang terguncang akibat kematian Rafa, Wulan menepuk bahu suaminya.


"tidak dek, jangan menyuruhku...." mohon Raka.


"tapi hanya dengan mas yang bisa membantunya," jawab Wulan yang tersenyum.


Raka pun menghampiri Jasmin dan memeluknya, karena wajah Raka yang mirip dengan Rafa.


"kenapa kamu menangis, aku disini..." kata Raka di depan Jasmin.


"mas Rafa!!" kata Jasmin langsung memeluk Raka dengan erat.


akhirnya wanita itu bisa perlahan tenang, "mereka bohong kan, katanya mas yang sudah meninggal, tapi mas di depan ku saat ini, itu bukan mas Rafa kan tapi mas Raka iya kan," kata Jasmin yang menyentuh wajah Raka dengan senang.


"iya mbak, yang meninggal mas Raka, mbak sedang memeluk mas Rafa bukan," jawab Wulan.


Jasmin pun sangat bahagia mendengar ucapan Wulan, sedang Wulan memilih pergi dari sana.

__ADS_1


Arkan dan Aryan mengikuti sang Amma pergi, Rizal tau ini tidak benar, tapi mental Jasmin sangat terpengaruh akan hal ini.


Raka ingin sekali mendorong Jasmin dan mengejar istrinya, tapi dia hanya bisa menahannya.


bahkan wajah Raka sudah berubah merah, kepalan tangannya semakin erat menahan semuanya.


Wulan menangis di belakang rumah, Aryan dan Arkan duduk menaruh kepala mereka di paha Wulan.


"Amma jangan sedih, kami bersama Amma disini ...." kata keduanya.


"Amma tidak sedih nak, Amma hanya berusaha menguatkan diri dan hati, karena bude kalian sedang dalam keadaan yang tak sehat," kata wulan berusaha tersenyum.


"tolong jangan berbohong Amma..." kata Arkan melihat wajah Wulan.


"Amma harus bagaimana..." jawab Wulan yang tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.


ketiganya pun berpelukan dengan erat, pak Suyatno dan bu mut pun merasa sedih karena harus melihat semua ini.


"nduk... ayo pulang Yo," ajak pak Suyatno.


"tapi pak," jawab Wulan yang ingin menolak.


tapi pak Suyatno langsung merangkul putrinya itu, dia pun tau jika sekarang putrinya sedang sangat terluka.


Arkan pun menemani sang ibu, Aryan mencari Fahri untuk mengajaknya pulang ke rumah sang kakek.


baru juga beberapa langkah, tubuh Wulan limbung dan jatuh pingsan. "Amma!!" teriak Arkan.


"Bu cepat minta anak-anak menyiapkan mobil segera, kita pulang," panik pak Suyatno.


Bu mut berlari sebisanya, karena tau jika putrinya sekarang sedang hamil dan takut terjadi sesuatu pada keduanya.


"Aryan,Fahri tolong siapkan mobil, Wulan pingsan," kata Bu mut cukup keras.


Arkan pun sekuat tenaga mengendong ibunya, beruntung Arkan memiliki tubuh besar karena rutin olahraga.


pak Suyatno membuka jalan di depan keduanya, "tolong minggir!!" teriak pria sepuh itu.


Raka yang melihat pun reflek, melepaskan pelukan Jasmin dan menghampiri Putranya.


dia langsung mengambil alih Wulan dari gendongan Arkan, "siapkan mobil, kita kerumah sakit!!!" teriak Raka yang panik.

__ADS_1


Jasmin pun merasa buruk, "mas Rafa dia itu istri dari adikmu yang mati," kata Jasmin yang masih belum sadar.


"aku bukan Rafa, aku Raka, hanya karena permintaan istriku, aku mau menyamar menjadi kakakku yang sudah mati!!" bentak Raka.


Jasmin kembali syok, dia pun terpuruk, Aira langsung memeluk adik iparnya itu.


"kenapa kamu tak membantunya," kata Aira yang sedih.


"hentikan, bunda harus sadar ayah sudah meninggal, itu adalah om Raka, dan dia berhak bahagia dengan keluarganya, dan bude tolong jangan hasut lagi, bunda harus sadar jika suaminya sudah meninggal dunia!!" teriak Faraz.


Raka sudah pergi bersama keluarga istrinya, semua pun merasa iba pada Jasmin, tapi tak benar jika harus menyuruh Raka mengantikan Rafa.


"ayo bunda, aku tunjukkan makam suami mu, bunda harus kuat demi aku dan adek Husna, tolong jangan seperti ini bunda," mohon Faraz pada Jasmin.


"maafkan bunda..." kata Jasmin yang memeluk Faraz.


Adri menarik Aira dan menatapnya tajam, "cukup Aira, kamu tak boleh mencampuri urusan mereka, kamu tak tau apa yang tejadi di sini, Wulan sedang hamil jadi pantas jika Raka panik karena dia itu istrinya, dan semua bukan salah Raka, karena kecerobohan Rafa sendiri dia harus meregang nyawa, bahkan kamu tau, Raka menyumbangkan darahnya untuk keselamatan Rafa, dia terus berdoa untuk keselamatan Rafa, bahkan terus mengatakan jika seharusnya dia yang di posisi Rafa, tapi apa, kamu terus menyalahkannya, ingat Aira jaga sikap mu, atau lebih baik pergi dari sini, atau kembalilah pada keluarga mu di Jepang," kata Adri tegas.


Aira pun menundukkan kepalanya, Rania memilih mengajak suaminya untuk ke rumah sakit.


Rania bahkan tak ingin menyapa Aira yang begitu kejam menyalahkan Raka, padahal Raka selalu datang menolong keluarga ini.


tapi Aira yang selama ini di Jepang seakan menutup mata dan tak perduli dengan keluarga besar Novian.


Raka terus memeluk Wulan yang tak sadarkan diri, sesampainya di rumah sakit, Wulan langsung di masukkan ke ruang UGD.


Wulan hanya terlalu lelah, Rania datang untuk menemani Wulan, agar para pria bisa istirahat.


"mas Raka lebih baik pulang ya," mohon Rania


"tidak bisa nduk, aku tak ingin meninggalkan istriku, dia sedang sakit," jawab Raka yang begitu sedih.


"mas jika seperti ini, mbak Wulan juga akan sedih, terlebih mas Raka juga belum istirahat begitupun mas Aditya, lebih baik pulang bersama yang lain, biar aku dan Mbah mut yang disini," kata Rania membujuk Raka


"baiklah, aku memang tak pernah bisa membantah mu, Arkan bawa ayah ke rumah kakek kalian," kata Raka sudah dengan wajah pucat.


"iya ayah, Aryan temani mas Aditya," kata Arkan pada saudaranya.


"siap bos," jawab Aryan.


mereka pun bubar, Rania pun merasa jika Wulan tak perlu melakukan pengorbanan sebesar itu pada Jasmin, toh selama ini Jasmin selalu merepotkan kakak iparnya itu.

__ADS_1


"kamu sedang memikirkan apa nduk?" tanya Bu mut pada Rania.


"kenapa ada wanita sebaik ini, dia rela bahkan meminta suaminya menjadi pria lain hanya untuk ipar yang sedang syok, padahal dia sendiri sedang sangat lemah," jawab Rania sedih.


__ADS_2