Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
aku belajar ikhlas


__ADS_3

"Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd."


suara takbir itu terus berkumandang saling bersahutan, di seluruh penjuru desa.


hari ini adalah hari terakhir puasa, Raka dan Aryan sedang di Mushola untuk membaca takbir sambil bergantian dengan para warga.


sedang Arkan di rumah membantu Wulan, dia duduk termenung sambil menjaga api.


"sayang kamu kenapa? apa masih memikirkan Emily?" tanya Wulan yang duduk di sebelah putranya itu.


"tidak Amma, aku hanya tak mengira setelah semua yang aku lewati, aku masih bisa mendengar suara takbir ini berkumandang tahun ini," jawab Arkan


"kamu ini ngomong apa, Amma berharap dan berdoa agar kalian berdua bahagia dan berumur panjang," kata Wulan mengusap kepala Arkan.


"amiin... dan Arkan mohon maaf jika selama ini pernah berbuat dosa dan sering membuat Amma marah, Arkan hanya pria biasa dan anak yang tak sempurna," kata Arkan sedih.


"iya nak, sama-sama, Amma juga minta maaf jika Amma punya salah," jawab Wulan mencium kening putranya.


"maafkan Arkan Amma," tangis Arkan yang langsung memeluk Wulan.


Wulan pun menepuk punggung Arkan lemah, di bagian lain seseorang sedang menangis karena harus melewati lebaran pertamanya jauh dari pria yang dia sukai.


Sekar pun memeluk Emily, "maafkan Emily ya mama, maafkan Emily ..." tangis gadis itu.


"iya nak, mama juga minta maaf jika selama ini mama punya dosa padamu," kata Sekar.


Emily menganggukkan kepalanya, karena sekarang dia hanya memiliki Sekar sebagai keluarganya.


akhirnya lontong yang di buat pun matang, Aryan datang dan langsung menekuk Arkan dari belakang.


"Aryan lepas, ih... jijik!!!" teriak Arkan


"ya Allah mas, kamu begitu banget sih, masak jijik sama orang ganteng seperti aku ini," kata Aryan yang ingin mengambil lepet yang baru matang.


"celamitan ah, jangan suka nyomot sembarangan, ini pesenan mbak Rania, sudah ayo kita antar, jika tidak bisa resek tuh orang satu," ajak Arkan yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


"iya iya, sadis amat sih," kesal Aryan.


mereka berdua pun pergi, tapi Faraz ikut karena harus mengantarkan jeruk juga Rania.


mereka pun menuju ke rumah Aditya yang berjarak sekitar dua puluh menit dari desa mereka.


sesampainya di rumah paling mewah itu pun, mereka langsung turun sambil membawa semua buah tangan.

__ADS_1


"mbak Rania!! assalamualaikum!!" kata ketiganya berteriak.


"waalaikum salam, masuk yuk ... wah ada apa ini?" kata Aditya yang sedikit kaget.


"ini ada lepet, lontong dan sayur dari Amma," kata Aryan.


"ini juga ada jeruk dan kue sagon dari bunda, soalnya biasanya mbak Rania begitu suka buah ini saat lebaran," kata Faraz menaruh Semuanya di meja.


"kalian makan aja dulu yuk, mbak tadi buat ayam lodoh kesukaan dari mas Aditya," kata Rania mengajak ketiganya.


"siap," jawab mereka ke belakang.


Aditya pun melihat istrinya itu, "terima kasih dek, setidaknya aku tidak lebaran sendirian tahun ini," kata Aditya.


"iya mas, dan besok kamu akan tau kehebohan dari semua keluarga Noviant," kata Rania tersenyum.


Aditya pun mencium pipi Rania, "terima kasih, aku mencintaimu, dan aku selalu sabar menunggu mu," bisik Aditya yang berhasil membuat Rania malu.


"aduh masih di sini, katanya nyuruh kamu makan, ayo dong," kata Aryan memanggil keduanya.


"baiklah aku datang, janhan di habiskan ayamnya," kata Aditya yang berjalan masuk.


Rania pun menyentuh pipi yang di kecup oleh Aditya, "aku juga mencintaimu mas, aku juga mencintaimu," batin Rania begitu bahagia.


"tunggu aku," kata Rania berlari mengikuti keempatnya.


sedang di rumah Raka, semua kursi sedang di keluarkan dari ruang tamu, karena besok ada acara open house.


bahkan di rumah Wulan begitu sibuk dengan para ibu yang memasak, karena besok ada pertemuan Keluarga sekalian kumpul bersama.


setelah mengeluarkan kursi, Raka dan Rafa menata kue yang sudah rapi di dalam toples.


Husna pun di biarkan tidur di kamar Wulan karena tak ada yang menjaga di rumah.


"besok om Fandi jadi datang ya?" tanya Jasmin pada Wulan.


"loh kok tanya saya, kan anda menantunya," jawab Wulan tertawa.


"kamu nyebelin ih, kita kan sama-sama menantunya," kata Jasmin


"iya-iya uluh-uluh gitu aja ngambek kakak ipar ku yang cantik ini," kata Wulan memeluk Jasmin.


meski keduanya saudara ipar, tapi sudah seperti pasangan kakak beradik kandung.

__ADS_1


mereka membuat beraneka ragam masakan, bahkan mulai rendang, kare dan yang tak lupa sayur lodeh kesukaan semua orang.


ketiga pemuda itu sedang duduk di teras rumah Aditya sambil bermain karambol.


"bagaimana Arkan jadi naik gunung, kebetulan hari ketiga lebaran aku dan teman ku akan berangkat naik," tanya Aditya.


"boleh tuh kak, mbak Rania gak ikut?" tanya Arkan.


"tidak kasihan jika harus naik begitu tinggi, nanti kalau yang dekat-dekat saja," jawab Aditya.


"aku boleh ikut?" tanya Aryan.


"boleh, Faraz jika mau ikut juga boleh kok," kata Aditya.


"tidak mas, aku masih belum siap jika harus melihat hal ghaib di gunung, terlebih dua pemuda ini sangat menyebalkan karena sering menyakitiku," kata Faraz.


"ikut saja, toh ini pengalaman paling adik loh, jarang-jarang kita naik gunung di kawal kuntilanak satu kompi," kata Aryan.


"mulut ember," kesal Aryan memukul adiknya itu.


"bener kan, tapi kamu yakin bisa naik gunung tanpa ayang, nanti lemes kalau tidak di semangati ayang," ledek Aryan.


"kamu mau mati, aku sudah ikhlas melepaskan Emily, aku yakin jika dia jodohku pasti bertemu, tapi jika tidak maka dia akan bertemu orang yang lebih baik dariku," jawab Arkan.


"aduh kasihan di buang ayang ..." kata Aryan yang sudah di usapi tepung kanji oleh Arkan karena kesal.


akhirnya membuat semuanya tertawa melihat Aryan yang cemong, terlebih pria itu terus mengomel tanpa henti.


Aditya pun menghubungi Fahri yang kemarin sudah saling tukar informasi bersamanya.


awalnya Fahri mengajak naik ke gunung gede-via putri, tapi Aditya tak mau karena puncak disana akan sangat ramai.


jadilah mereka memutuskan ke gunung Slamet sekalian pulangnya bisa jalan-jalan karena naik mobil pribadi.


terlebih Rania ada acara kampus bersama teman-temannya juga, jadi kebetulan sekali.


malam itu, semua mushola dan masjid bahkan rumah terus mengumandangkan takbir.


suasana hati Arkan mulai bisa berkompromi, toh dia tak bisa memaksakan takdirnya dan Emily.


dia sudah ikhlas melepaskan gadis itu, karena ini pasti jalan terbaik untuk mereka berdua.


"aku yakin ini yang terbaik, meski kita jauh tapi kita masih berada di bawah langit yang sama, dan negara yang sama, hanya raga kita yang berjauhan," batin Arkan yang memandang keindahan langit malam.

__ADS_1


__ADS_2