
"apa kamu baik-baik saja Emily, atau kita kembali saja ya nak?" ajak Sekar.
"tidak Bu, kita disini saja, lagi pula kita sudah hidup baik disini," kata Emily.
"baiklah," jawab Sekar pasrah.
hari ini Aryan di minta untuk mengantarkan makanan ke rumah Aditya.
selama perjalanan, dia merasa harus berubah seperti halnya Arkan kakaknya.
pasalnya dia juga sedih karena kematian dari ratu, tapi semua juga sudah berakhir dan tak mungkin wanita yang sudah mati akan bisa bangun.
sesampainya di rumah Aditya, terlihat cukup sepi, "aduh ini pasangan baru nikah, sepi-sepi saja rumahnya," gumam Aryan.
dia pun mengetuk pintu dan di buka oleh Aditya, "eh Aryan, ada apa kok tumben?" tanya Aditya.
"mau nganter makanan di suruh Amma, ini masih sore loh mas, kenapa sudah sepi saja ini rumah," tanya Aryan yang ingin melihat kedalam rumah.
"kamu belum mengerti, sudah pulang sana, dan terima kasih ya makanannya, tau saja jika kami sedang lapar," kata Aditya.
"siap mas, aku pamit ya," kata Aryan yang kemudian pergi.
Aditya pun masuk dan menaruh makanan di meja, kemudian mengendong istrinya masuk kedalam kamar.
ya mereka habis melakukan hal yang menyenangkan, saat di perjalanan pulang, Aryan melihat penjual sate nol dua atau sate bekicot.
"pak beli!!" teriak Aryan cukup keras karena takut penjual itu akan pergi.
penjual itu berhenti, dan terkejut melihat Aryan yang berhenti di belakang sepedanya.
"iya nak," jawab penjual itu.
"pak satenya berapa satu bungkusnya?" tanya Aryan yang melihat masih begitu banyak dalam box penjual itu.
"kalau sate bekicot satu bungkus lima ribu, kalau sate ayam sepuluh ribu satu bungkusnya." jawab penjual itu.
"aku beli tiga-tiga ya pak," kata Aryan yang memberikan uang lima puluh ribu.
"aduh mas, tolong pakai uang pas saja, saya tidak punya kembalian," kata penjual itu.
"aduh aku juga tidak punya pak, ya sudah kembaliannya ambil saja pak, gak papa kok, kalau begitu saya permisi," kata Aryan yang pergi membawa sate.
penjual itu sangat bersyukur, terlebih Aryan adalah pembeli pertamanya. karena sudah tak banyak orang yang suka dengan sate bekicot seperti dulu.
saat akan memasuki desanya, Aryan tak sengaja melihat ada seorang ibu-ibu setengah tua dan anak gadisnya yang sedang menuntun sepeda motor mereka.
Aryan pun berhenti, dan ingin membantu, "ada apa ya Bu? apa motornya rusak, jika iya saya boleh bantu?" tanya Aryan
"Alhamdulillah ya dek, ini motornya kehabisan bahan bakar, terus di desa ini juga tak ada yang jual bensin eceran," jawab ibu itu.
"ya sudah tolong buka joknya Bu, biar saya pindahkan bensin dari motor milik saya, kebetulan masih full," jawab Aryan yang memundurkan motor sport milik Arkan.
Aryan pun dengan mudah memindahkan bensin, karena memang selalu di simpan Alang kecil di bawah jok motor yang kecil itu.
setelah berpindah separuh, Aryan pun pamit dan kedua wanita itu bisa pergi, saat Aryan pergi gadis itu seperti mengingat sesuatu.
"ada apa Naima?" tanya ibu itu
"tidak ada Bu, sepertinya aku mengenal mas tadi," jawab Naima.
"owalah, sangat baik ya, pasti orang tuanya sangat hebat bisa mengajari Putranya hingga bisa sampai sesantun dan sebaik itu, jadi kalau mencari suami cari yang begitu ya Naima," kata ibu Nana.
"ah ibu, Naima kan cuma bilang pernah melihat, kenapa jadi bahas menikah sih," kesal gadis itu ngambek
sedang ibu Nana tertawa saja, pasalnya anaknya itu terlalu serius, dan jarang mau mengatakan apa yang di rasakan.
__ADS_1
sesampainya di rumah, Aryan memarkirkan motor Arkan, dan segera makan sate yang di bawanya.
Arkan sedang belajar untuk mengikuti kelas akselerasi pasalnya dia ingin kuliah ke universitas terbaik di Surabaya.
ya Arkan bukan tak ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya.
tapi makin cepat dia lulus maka makin cepat dia kuliah dan membanggakan kedua orang tuanya.
sedang Aryan ingin menjalani semua dengan normal, dia juga tak terburu-buru untuk lulus.
"beli apa lagi kamu? ya Allah gak ada kenyangnya ya kamu itu," kata Arkan yang fokus membaca.
"memang kenapa, aku juga tak meminta dan membeli uang darimu," jawab Aryan enteng.
"terserah ...."
mereka berdua pun asik dengan kegiatan masing-masing, Raka dan Wulan sepakat untuk tidak mencampuri urusan arwah maupun orang lain.
terlebih setelah kejadian di keluarga Emily yang langsung mempengaruhi kedua putranya.
terutama Wulan yang sedang hamil harus menjaga kesehatan tubuh, dan tak boleh lelah.
dia pun sudah memilih akan pergi dari desa jika terus akan ada yang menganggu keluarganya.
"ayah apa kita harus pergi dari desa ini?" tanya Wulan yang masih belum mau pergi.
"aku ingin cari suasana baru Amma, cukup dengan kalian semua yang terus membahayakan nyawa kalian, Aryan dan Arkan butuh keluarga yang normal untuk tumbuh meski mereka spesial, di rumah ini mereka terlalu bersikap dewasa dan ikut campur urusan orang, aku tak ingin putra ku menjadi orang yang tidak memiliki masa depan," kata Raka.
"tidak ayah, kenapa bilang begitu, mereka sangat pintar dan dewasa, kecemasan ayah terlalu berlebihannya," bantah Wulan.
"tidak dek, desa ini sudah sangat tak nyaman untuk ku, apa kamu mau ikut pergi atau kita tetap tinggal di sini?" tanya Raka yang nampak benar-benar serius.
ternyata kedua Putranya juga mendengar ucapan dari Raka. Arkan yang tau maksud dari Raka pun paham.
"aku setuju juga Amma, terlebih kadang aku juga merasa lelah," tambah Aryan.
Wulan yang baru mendengar perkataan kedua putranya pun pasrah dan mengangguk menurut pada ketiganya.
Raka pun mulai berkemas, begitupun dengan kedua Putranya, begitupun dengan Wulan.
mereka tak butuh membawa banyak barang, melainkan hanya baju dan semua yang penting.
sedang untuk keluarga dari Wulan sudah tau jika mereka akan pergi, dan meninggalkan desa itu.
tapi tidak dengan keluarga dari Rafa dan yang lain, pasalnya kejadian dengan Vera tak akan semudah itu di hadapi.
itulah dia memilih pergi bukan untuk menjauhi dan meninggalkan ibu kecilnya yang sedang terluka.
tapi dia melakukan ini untuk melindungi istri dan dua putranya, terlebih dia tak ingin lagi kehilangan orang yang dia cintai lagi.
mereka akan tinggal di sebuah rumah sederhana di desa yang cukup asri, dan berada di kota sebelah.
terlebih Raka di bantu temannya untuk menemukan rumah yang tenang untuk keluarganya.
mereka akan berangkat nanti malam menuju ke desa itu, sedang di rumah Rafa.
Vera sedang ketakutan di dalam kamarnya, dia mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
Raka sudah memberi tahu pada Rafa untuk mengantar Vera berobat ke rumah sakit jiwa.
terlebih wanita itu kini bukan ketempelan tapi memang kondisi kejiwaannya yang mulai terganggu.
"kamu ternyata tega ya, dia itu saudara ayah kita Raka," bentak Rafa.
"aku tau dan aku tak buta, tapi dia bukan ketempelan tapi dia itu susah gila, jadi dia tak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak," kata Raka menginggatkan.
__ADS_1
"kamu keterlaluan, jika tak ingin menjaganya, biar aku saja, kamu sekarang berubah Raka," kata Rafa yang tampak kecewa.
"terserah padamu, aku akan pergi dan tak ingin berada disini, aku tak bisa lagi menghadapi semuanya, aku lelah dan tak mau kehilangan keluarga ku," kata Raka yang tanpa sadar mengungkapkan segalanya.
"kamu pengecut Raka," kata Rafa yang kecewa.
"setidaknya aku ingin melindungi keluargaku, jika tak ingin mati konyol, bawa ibu Vera ke rumah sakit, ingat kamu punya keluarga yang harus kamu lindungi," kata Raka yang kemudian pergi.
Rafa tak menyangka jika ucapan Raka semalam benar-benar di wujudkan, Rafa pun tak menyangka jika Raka benar-benar pergi tanpa pamit lagi pada dirinya.
Rafa sebenarnya merasa aneh, pria yang selalu tenang dan berpikiran terbuka bisa memilih untuk pergi setelah apa yang terjadi.
...**********...
halo semua pembaca hari ini author mau promosi novel baru nih,di jamin bagus loh, baca yuk sambil nunggu author up...
Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan.
“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya.
“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot.
Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas.
“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati.
“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan.
“Dasar jorok! Mandi lah!”
Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai.
“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.
“Iya...!” jawab Adip terus terang.
“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga.
Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga.
“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.
“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian.
“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.
"Ish!" desis Jingga manyun.
Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.
Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.
Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.
“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin.
Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah.
"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.
Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya.
jangan lupa vote, like dan komen ya🤗🤗🤗🤗
__ADS_1