Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kejadian tak terduga.


__ADS_3

tiga bus menuju ke pantai Parangtritis untuk melanjutkan wisata mereka, Arkan dan Aryan juga sudah memesan beberapa homestay di sekitar sana.


mereka tentu butuh tempat istirahat, meski itu homestay tapi lebih tepat di sebut hotel melati.


Arkan sengaja memilih kamar yang dekat dengan kamar Nayla,bukan apa karena gadis itu sudah di incar oleh sesuatu.


Aryan sedang berbincang dengan Nyai Ageng tri mustika yang merasa senang bisa pulang.


Aryan melepaskan ikat itu, kemudian dia kembali kedalam kamar, dan tenyata pak Jhoni sedang istirahat sedang Arkan memilih membaca buku.


"mau cari makanan gak? lapar nih, keluar yuk," ajak Aryan.


"baiklah, kebetulan aku juga lapar, karena tadi nasi ku di minta Wawan," jawab Arkan yang mengikuti adiknya.


Keduanya keluar menuju ke daerah sekitar penginapan, mereka menemukan beberapa warung.


tapi mereka memilih tidak makan di mana pun, "terus ini kita mau makan apa? batu? aku lapar..."


"diamlah, itu ada bapak-bapak penjual bakso atau nasi goreng, kesana yuk,"ajak Arkan.


mereka berdua menghampiri penjual itu, ternyata bapak itu menjual nasi goreng.


"bapak nasi goreng dua, mie goreng satu makan di sini ya pak," pesan Aryan.


"Monggo, di rantos ngeh mas, (di tunggu ya mas)" kata penjual itu yang mulai memasak nasi goreng.


setelah matang, penjual memberikan pada kedua pria muda itu, tak lama mie juga siap.


"ngapunten mas, Ten mriki wonten e mubg tuyo puteh, (maaf mas, di sini cuma ada air putih)," kata penjual itu pada Arkan dan Aryan.


"mboten nopo-nopo Mbah, niku mawon pun cekap, (tidak apa-apa, itu juga sudah sangat cukup)" jawab Arkan.


"Mbah pesen maleh kaleh doso bungkus ngeh, saget Mbah? mie goreng kale sekul goreng?" tanya Aryan.


"Alhamdulillah, saget mas," jawab Mbah itu dengan senang hati.


Arkan dan Aryan tau jika Mbah itu belum memiliki pembeli satu pun, terlihat dari dagangan yang masih sangat banyak.


Arkan bahkan sempat melakukan live di Instagram miliknya, dan mempromosikan nasi goreng itu.


terlebih Aryan yang makan begitu lahap menjadi tontonan terbaik, karena pria itu bisa menunjukkan ekspresi yang begitu jujur.


setelah membungkus makanan, Arkan membayar semua makanannya, bahkan keduanya juga melebihi uang itu untuk rezeki kakek itu.


saat sampai penginapan, ternyata masih banyak anak-anak yang belum tidur, "ada yang mau nasi goreng atau mie goreng?"


"kami mau," jawab semuanya.


Aryan dan Arkan membagikan semua makanan yang mereka bungkus, setelah itu keduanya duduk di teras homestay.


dan tak terduga empat bus yang baru datang padahal sudah pukul sembilan malam.


mereka pun terlihat begitu lelah, Arkan menghampiri para guru dan membantu untuk membawakan barang-barang.

__ADS_1


"pak Yosi kesasar bersama rombongan, kok bisa setelat ini untuk sampai?" tanya Arkan.


"tidak kok, memang tadi beberapa kali ban bus meletus dan kempis, jadi kami berhenti beberapa kali, jadilah makin lama sampainya," jawab guru bahasa Inggris itu.


"oleh begitu, padahal pak Jhoni sudah tepat dari sampai tadi," jawab Aryan tertawa.


mereka pun segera masuk ke penginapan, dan semua murid yang bayar full kaget karena rombongan yang ikut dua kembar itu bisa tinggal di kamar yang sana seperti mereka.


terlebih mereka hanya ikut wisata tapi dengan bantuan dari dua pria itu, Aryan pun segera masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


Deni yang penasaran tentang siapa Arkan dan Aryan, memilih bertanya pada pak Yosi.


"pak, sebenarnya dua kembar sombong itu siapa? kenapa bisa menanggung seratus delapan puluh orang di home stay seperti ini?"


"kamu tak tau, coba cari di Google, Rakasa family, di sana akan di terangkan siapa mereka, dan kamu akan tau, sudah jangan ganggu bapak, karena bapak lelah," jawab Yosi yang sudah sangat mengantuk.


karena sangat penasaran, Deni pun mencari sesuai penjelasan gurunya itu, Deni yang terkenal sebagai anak DPR itu merasa tak sebanding saat tau.


pasalnya keluarga Rakasa ternyata begitu kaya dalam kesederhanaan, meski memiliki sawah dan perkebunan berhektar-hektar, bahkan ada beberapa yayasan yang juga sangat terkenal.


tak hanya itu, belum lagi usaha waralaba yang juga sukses, Deni yang merasa paling kaya,kini tak ada apa-apa di banding keduanya.


bahkan di jelaskan jika kedua putra dari pasangan itu memiliki IQ tertinggi, dan jenius.


"woi ... kenapa lu, sudah ayo tidur," ajak temannya.


Deni pun segera mematikan ponselnya dan merasa bodoh, saat menyombongkan diri pada orang yang kaya sesungguhnya.


"waalaikum salam anak ganteng Amma, bisa belikan daster gak mas Lina saja, oh ya beli gudeg ya, yang khas oke," kata Wulan.


"siap Amma, sebenarnya mas Telpon mau minta si transfer uang, karena sepertinya uang dari ayah menipis," terang Arkan.


"baiklah Amma kirimi seratus juta ya mas, ingat mas Arkan dan mas Aryan harus bagi-bagi sana temannya, dan ingat lindungi mereka semua ya mas," perintah Wulan.


"baik Amma, terima kasih ya, ngomong-ngomong ayah kemana?" tanya Arkan.


"itu ayah mu sedang ada di rumah pak RT untuk mengikuti rapat dadakan, ini Amma di rumah bareng on Fahri dan Mbah uti, mau bicara mas?" tanya Wulan pada putranya itu


"Arkan minta oleh-oleh baju batik tiga, dan kain batik keris emas juga ya," kata Fahri yang melihat Keponakannya itu


"iya om aku mengerti, kalau Ngah uti minta apa?" tanya Arkan.


"Mbah minta pulang dengan selamat tanpa luka, ingat sopan le, jangan sembrono saat di tempat asing," kata Bu mut menginggatkan.


"inggeh Mbah uti, ini lihat cucu Mbah, sudah tepat kekenyangan, setelah habis nasi goreng dan mie goreng," kata Arkan mengadukan adiknya itu.


"ya Allah, kesayangan Mbah uti, mas Arkan juga istirahat ya le, jangan begadang nanti sakit," kata Bu mut.


"siap Mbah uti," jawab Arkan yang kemudian mematikan ponselnya dan mulai tidur setelah membuka kaosnya.


pukul tiga pagi, dia terbangun untuk sholat malam, setelah mandi dia membangunkan Aryan agar sholat juga.


setelah itu Arkan keluar dari kamar melihat semua orang masih terlelap, tapi Arkan menuju ke ruang tamu homestay itu, terlihat ada sesosok wanita berpakaian gaun berwarna merah di sana sedang duduk di kursi goyang.

__ADS_1


"halo nona, apa aku menganggu anda?" tanya Arkan dengan sopan.


"tidak, kamu bisa melihat ku dan tak takut?" tanya arwah itu.


"tidak nona, aku hanya takut pada Tuhan, kalau begitu saya duduk untuk membaca buku ya," kata Arkan yang mulai membaca buku hadis yang sengaja di bawanya.


melihat Arkan yang begitu sopan dan baik, arwah itu mendekati Arkan dan membisikkan sesuatu, "jaga dia, gadis itu di incar mahluk jahat untuk menariknya ke dunia ghaib, jadi jangan pernah biarkan dia cuma berdua dengan temannya itu,"


Arkan kaget dan menoleh, tapi tak mengira jika arwah itu sudah menghilang.


...*******************...


halo semua... sambil nunggu up, tok kepoin novel baru otor, cerita sederhana dari gadis desa yang mulai mencintai seorang juragan.


meski awal mereka saling mencintai, tapi lika-liku kehidupan rumah tangga harus mereka hadapi


mampir yuk....



seorang pria bangun saat mendengar suara adzan subuh berkumandang, dia pun meregangkan otot tubuhnya sebelum bangun dari ranjang.


pria berbadan tegap, memiliki tubuh begitu indah dengan kulit sawo matang ciri khas Indonesia, dan tak lupa ada tato yang menghiasi bagian lengan dan punggung.


dia pun memilih mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu mengambil kaos dan juga jam tangan khusus untuk berolahraga.


dia pun keluar dari kamarnya, ternyata pak Mun sudah datang sambil membawa sarapan untuknya.


"mas, mau sarapan sekarang atau nanti?" tanya pria sepuh itu dengan senyuman khasnya.


"nanti saja pak, oh ya kemarin saya minta bapak cari rewang untuk bersihin rumah apa sudah dapat?" tanya Aris.


"sudah mas, biar cucu saya saja yang bantu, karena tak mudah mencari orang yang jujur," jawab pak Mun.


"baiklah terserah pak Mun saja, saya ingin lari pagi dulu," katanya pergi.


Aris Munandar Ibrahim, seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, seorang lajang dan belum pernah menikah karna baginya cinta itu hanya membuat sengsara.


pria dengan tinggi seratus tujuh puluh lima itu terkenal sebagai dermawan di desa sumber wangi.


pria yang di kenal sebagai juragan kolam ikan, dan pemilik berhektar-hektar sawah, belum lagi usahanya yang lain.


pria yang selalu memakai baju panjang dan celana panjang itu akan setiap pagi lari keliling desa beberapa putaran.


"pagi mas Aris," sapa ibu-ibu yang sedang belanja di tukang sayur.


"pagi Bu," jawab Aris dengan sopan sambil tersenyum kearah ibu-ibu itu.


Aris pun lanjut berlari, sedang para ibu di buat girang sendiri, "ya tuhan. kok ada pria seganteng mas Aris ya, seandainya aku belum nikah aku mau loh jadi istrinya," kata seorang ibu muda yang sedang hamil.


"aduh inget tuh perut udah besar gitu, tapi kalau iya sayangnya mas Aris yang gak mau, ya kalo juragan kaya raya mau sama buruh kayak kita ini, sudah ayo pulang jika tidak nanti telat," saut ibu yang lain.


mereka pun kembali tertawa, Aris selalu melewati rumah pak Mun yang begitu sederhana.

__ADS_1


__ADS_2