
Wulan sudah selesai membungkus kue yang nanti akan di bagikan nantinya.
"Amma, ini tadi kalau menurut kreseknya ada sekitar tiga ratusan," kata Emily.
"kalau begitu cukup nak, sekarang kamu makan dulu yuk, temenin Amma," ajak Wulan.
"siap Amma," jawab Emily memeluk Wulan manja.
keduanya pun ke dapur dan beberapa berkat di tampah sudah selesai, terdengar suara dua saudara yang masuk.
"Amma, kami juga mau makan, habis laper banget," kata Aryan yang ikut duduk di meja makan.
"aku juga, Emily kamu kok makan Dikin sih, ambil lagi, gak akan kamu gemuk, dari pada kurus begini jelek tau," kata Arkan melihat temannya itu.
"kamu mana tau keinginan cewek, kami itu paling benci di sebut gemuk, terlebih oleh pria jadi jangan pernah lakukan itu," jawab Emily.
"sudah makan yang kenyang, jangan diet, kamu kurus itu jelek," kata Arkan yang langsung menambahkan nasi ke piring Emily.
"sudah mkan saja nak, Amma buatkan minuman sirup dulu ya," kata wuln yang sudah selesai duluan.
"Amma jangn repot, air dingin saja aku tak terbiasa minum air yang manis," kata Emily melarang.
"gadis pintar, gula tak bagus untukmu," jawab Aryan yang makan.
"kalau makan jangan ngomong,"kesal Arkan.
ketiganya pun selesai makan, dan kini ketiganya sedang duduk santai, karena semua kegiatan sudah usai.
sedang di tempat para bapak-bapak semuanya juga sedang menikmati kopi bersama.
__ADS_1
Emily tak mengira keluarga Arkan begitu dermawan, "sudah yuk kembali ke tempat bapak-bapak, jika tidak bisa esmosi tuh,"
"ayo," jawab Arkan.
"tunggu Arkan, bisakah kamu mengantarku pulang, karena Tante Sekar dan Ratu sedang ke Mojokerto untuk mengambil onde-onde, jadi tak ada yang kan menjemputku," kata Emily.
"tentu, ayo..."
Emily terkejut, biasanya arkn km menolak jika akan mengantar seorang wanita yang sepantaran.
tapi kali ini berbeda, dia tak keberatan, Arkan sudah menyalakan motornya, dan Emily juga sudah berpamitan pada orang tua dari Arkan.
Emily memegang pundak Arkan, dan kemudian naik ke jok belakang, "sudah Arkan," jawab Emily yang sudah siap.
Arkan pun tersenyum dan mulai mengantarkan gadis itu, "mu cari telur gulung gak? aku kok tiba-tiba pingin telur gulung ya," kata Arkan pada Emily.
"baiklah, kita ke jogoroto dulu yuk, cari cemilan lagi pula masih jam empat sore," terang Arkan.
"baiklah, aku manut yang menyetir motor saja," jawab Emily tersenyum.
keduanya pun malah menuju ke arah lain, Arkan mencari penjual langganan yang biasa.
saat sampai, Arkan memesan dan Emily di minta duduk menunggu. tapi gadis itu membeli minuman untuk mereka.
Arkan memesan cukup banyak, tak hanya telur gulung, tapi ada Sempol dan pentol bakar.
Emily terkejut melihat apa yang di beli oleh Arkan, "ayolah duduk dulu, kita makan yuk,"
"ah... kamu benar-benar ingin membuatku gemuk ya, kenapa pesan begitu banyak sih," kesal Emily.
__ADS_1
"gak papa dong, jarang-jarang duduk dulu, tenang ini asli uang yang aku hasilkan sendiri, bukan minta orang tua ku kok," jawab Arkan.
"benarkah? bagaimana bisa kamu punya uang untuk membeli semua ini?" tanya Emily kaget sambil menikmati cemilan di meja.
"aku main game, dan juga memberikan les lewat internet, mudah bukan," kata Arkan.
"kamu itu memang ya pantas jadi idaman semua wanita loh, udah ganteng, baik, dan pintar cari uang, tapi sayang mulut mu pedes dan dingin," kata Emily.
"terima kasih ya," jawab Arkan tersenyum.
"terima kasih untuk apa?" tanya Emily bingung.
"terima kasih karena kamu bilang aku ganteng, pintar dan baik, itu sudah sangat cukup," jawab Arkan yang berhasil membuat Emily tersedak mendengarnya.
mereka benar-benar tertawa bersama, meski jantung Emily seakan ingin meledak saat Arkan melakukan hal yang tak terduga.
Arkan mengusap saus di pinggir bibir Emily, "aduh hentikan, aku bisa baper dan meleleh jika kamu seperti ini," kata Emily malu.
"gak papa dong, boleh ku mohon sesuatu, tolong jika kamu bisa tunggu aku lulus dan membuktikan aku pantas untuk mu, kita harus sukses bersama, mau kan?" tanya Arkan.
"akan ku lakukan, karena aku selalu ingin bersama mu, meski hanya sebagai teman," jawab Emily tersenyum.
"baiklah, ini janji kita ya, kamu tidak boleh ingkari karena aku selalu menjunjung tinggi janji itu," kata Arkan.
"iya Arkan, aku mengerti karena aku juga sangat memegang janji yang sudah aku berikan untuk mu," jawab Emily meyakinkan pria di depannya itu.
tanpa mereka sadari ada mata yang meliht itu, dan membut gadis itu marah, geram dan kecewa.
Krena arakan yang selalu dingin pada wanita, tapi dengn Emily dia berbeda, "awas saja, aku akan merebut mu Arkan, dengan cara apapun," marah gadis itu.
__ADS_1