Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
bersiap


__ADS_3

malam itu, semua sudah tidur karena sudah sangat malam, gadis tidur di kamar Fahri.


sedang Fahri dan dua temannya tidur di ruang tamu, Emily malam ini berdiri di balkon rumah lantai dua.


dia melihat ada sesosok mahluk yang berjalan dengan pincang, bahkan bunyi gemerincing pun terdengar dari rantai yang mengikat tubuh makhluk itu.


Emily hanya memperhatikan dari atas saja tanpa ingin mendekati makhluk itu.


pak Setyo yang terbangun kaget melihat pintu balkon terbuka dan ada Emily di sana.


"kamu tak tidur Emily, dan sedang apa disana apa tak dingin?" pak Setyo yang berjalan menghampiri Emily.


"om pernah bilang tidak tau apa yang terjadi di desa ini kan, aku akan tunjukkan, tapi setelah itu tolong jangan kabur atau bereaksi berlebihan," Emily langsung memegang tangan pak Setyo.


pria itu kaget saat melihat ada sosok kuntilanak yang terbang melewati rumahnya.


sedang di depan rumah, ada dua anjing penjaga besar dan juga sosok genderuwo yang duduk di atas pohon di depan rumah.


"ini mata om mimpi, atau bagaimana?" kaget pak Setyo.


"ini Adalah kemampuan istimewa ku om, dan inilah yang membuat kakek ku marah karena terus mengatakan hal yang mustahil," Kata Emily.


"tapi selama itu tak melukai mu, om sangat mendukung mu nak," kata pak Setyo.


pak Setyo memilih mengambil air minum, dan Emily tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"tidak, dia sudah tenang, besok aku harus tanya sama Arkan," gumam Emily yang kemudian memilih masuk kedalam rumah.


dia juga harus istirahat karena pertarungan terakhir sangat melukai dirinya.


bahkan meninggalkan bekas luka di lengan kanannya, dan luka itu berwarna merah kebiruan.


Emily pun tidur dengan menahan rasa sakit, tadi dia lupa bilang pada Arkan, saat melihat keanehan yang terjadi dengan jenazah Aini.


keesokan harinya, semua sudah selesai sholat dan sedang berkumpul untuk sarapan.


tanpa di duga Emily datang mengendarai motor matic, "selamat pagi!" panggil Emily.


"pagi non, ngapain udah disini, masuk yuk, ikut sarapan," ajak Aryan.


"terima kasih, maaf menganggu," kata Emily yang masuk dan mencium tangan Raka dan Wulan.


"sini nak, makan dulu," ajak Wulan dengan sangat welcome.


Fahri bisa melihat kalung salib yang di kenakan oleh Emily, dan juga anting gadis itu.

__ADS_1


Fahri hanya melihat Arkan yang nampak tak terganggu, wulan pun sama, dia tak pernah keberatan dengan siapa pun teman yang di pilih oleh kedua putranya.


mereka sedang berkumpul saat saat ini, Emily mengajak Aryan dan Arkan untuk bicara.


"ada apa Emily?"


"aku ingin bertanya, setelah pertarungan kemarin lusa, apa kalin mendapatkan luka? dan kenapa luka ku makin luas dan besar," kata Emily takut.


"apa maksudmu," tanya Aryan bingung.


"tunggu, aku akan panggilkan Amma dulu biar di lihat," kata Arkan yang sedikit mengerti.


Wulan sedang duduk bersama Fahri dan teman-temannya, "mbak kenapa itu anak-anak di biarin berteman dengan gadis itu, apa mbak gak takut mereka ikut-ikutan ke agama gadis itu?"


"Fahri, ini sudah jaman apa, kita itu semua cuma manusia biasa, dan jangan melihat orang dari suku, ras dan agama," tegur Wulan pelan.


"mereka sudah tau mana yang baik dan benar, jadi kamu tak perlu khawatir," jawab Raka menambahkan.


"tau nih, lagian aku juga non muslim, kamu juga mau berteman dengan ku?" gerutu Fero


"kamu kan cowok, dan tadi itu beda, takutnya mereka jatuh cinta terus terjadi sesuatu kan repot," jawab Fahri.


"pemikiran mu kejauhan om, Amma tolong kemari sebentar aku ingin bertanya sesuatu," mohon Arkan yang langsung mengajak Wulan


"jadi, Amma kenapa di ajak kumpul disini?"


"Amma, Emily terluka karena pertarungan kemarin lusa, dan tolong lihat apa lukanya tak bahaya," mohon Arkan.


Wulan tersenyum dan mengacak rambut Arkan, "tolong perlihatkan,"


Emily membuka jaket yang dia kenakan, Arkan dan Aryan berbalik badan untuk menjaga pandangan mereka.


Wulan hanya tersenyum, "apa sangat sakit Emily?"


gadis itu hanya mengangguk, pasalnya beberapa hari ini semua aktifitasnya jadi terganggu.


Wulan membaca doa, dan menekan luka itu dan akhirnya sebuah tusuk konde keluar dari lengan Emily.


Wulan mengambil sapu tangan dan menarik tusuk konde itu, darah keluar dari lengan Emily.


"AAAA ....."


suara teriakan itu mengundang Raka dan yang lain untuk masuk, melihat istrinya kuwalahan Raka menyentuh tangan Wulan membantu.


kini darah yang keluar semakin hitam dan bernanah, Emily pun pingsan, dan reflek Arkan menahan tubuh gadis itu.

__ADS_1


sedang Gadis dan yang lain baru pertama kali melihat bagaimana orang menarik benda ghaib.


kini tusuk konde itu tercabut dan darah pun juga berhenti mengalir, Gadis segera membantu untuk membersihkan lengan Emily yang masih pingsan.


"tusuk konde itu, milik hantu wanita yang marah saat kami berhasil menghancurkan ajian Aini," kata Arkan.


"iya, dua mengetahui jika dia sangat berharga, dan berharap perlahan dia bisa menguasai raga dari Emily, tapi beruntung Emily datang sebelum semua terlambat," jawab Wulan.


"tapi Amma, apa yang akan kita lakukan dengan tusuk konde itu?"


tiba-tiba tercium aroma wangi kenanga yang lembut dan terdengar suara gamelan Jawa dengan suara pelan.


Arsana datang, "boleh aku menyimpannya Amma, Nyai Nawang juga menyuruhku melakukan itu,"


Wulan memberikan tusuk konde itu pada Arsana, Gadis terheran melihat ada sosok gadis cantik yang serupa dengan Arkan dan Aryan.


"terima kasih, oh ya kata eyang nyai Nawang, kakanda harus mengajaknya masuk ke agama kita dan mulai mengajari anak itu untuk jadi orang yang bisa membantunya lain kali," kata Arsana.


"sudah pergi, kenapa kamu selalu membuatku kesal jika datang dan mengatakan yang tidak-tidak," ketus Aryan.


"itu memang benar kan?" kata Aryan dan Arsana bersamaan.


Wulan memeluk tubuh Emily yang bersandar pada Arkan, dan menidurkannya.


tak lama Emily sadar dan langsung memberikan minum agar segera merasa segar.


"bagaimana keadaan mu? apa masih terasa sakit?" tanya Wulan


"sudah sangat baik Amma, terima kasih..." lirih Emily yang kini duduk.


tapi salah satu mata Emily berubah menjadi berwarna abu-abu, "Emily mata mu?"


semua pun kaget, "maaf, ini warna mata asliku, biasanya aku memakai softlens untuk menyembunyikannya,"


"lepas saja, ini aku pinjami kebetulan kemarin baru beli dan belum sempat di pakai," terang Gadis.


"terima kasih kak," kata Emily.


"kenapa menyembunyikannya?" tanya Arkan.


"karena mereka semua bilang, mata ku itu kata terkutuk, jika aku melihat mereka dalam waktu lama, akhirnya akan meninggal dunia dalam hitungan jam," terang Emily.


"itu sebabnya kami sering mengalihkan pandangan saat berbicara dengan lawan mu," terang Aryan, Emily hanya mengangguk saja.


-----

__ADS_1


__ADS_2