
siang itu, mereka memilih menginap di sebuah hotel melati, karena masih ingin jalan-jalan di kota itu.
"bagaimana jadi ke pondok untuk melihat-lihat?" tanya Wulan yang keluar dari kamar.
"iya Amma, tapi bagaimana yang lain?" tanya Aryan.
"tenang saja, biar aku yang jaga mereka, lagipula mereka masih tidur karena lelah, sudah kalian berangkat dan jangan lupa untuk membeli makan siang ya kalau pulang," pesan Fahri.
"gampang, sudah ayo nanti keburu sore," ajak Raka.
mereka menuju ke sebuah sekolah dengan asrama yang sangat terkenal di kota itu.
tapi aneh bagi keluarga itu, mereka bukan melihat pondok tapi sesuatu yang di naungi aura hitam.
"Sudah masuk saja,kita nanti pasti akan tau,"
mereka berempat masuk dan benar saja, cara ajaran sedikit berbeda, dan Arkan bisa melihat kitab yang di ajarkan adalah sebuah kitab lama yaitu ajaran syekh Siti Jenar.
"emm... sepertinya aku sekolah di Jombang saja,kita keluar yuk," ajak Aryan.
"aku setuju," kata Arkan.
mereka pun tak jadi masuk, Raka juga tak ingin terjadi apa-apa nanti jika nekat masuk.
terlebih dia semalam sudah sedikit kehabisan tenaga karena ulah mahluk yang ingin mengambil kedua Putranya.
"baiklah, kita pulang tapi sebelum itu kita cari makan siang untuk semuanya," kata Raka yang mulai menjalankan mobilnya.
Ki Adhiyaksa ternyata sudah mengalahkan seorang penjaga tempat itu.
bukan apa, mahluk itu berusaha menghalangi kepergian dari keluarga Raka.
"kau salah mencari musuh," Geraman dari Ki Adhiyaksa sebelum pergi.
mereka berhenti di sebuah warung Padang, Wulan ingin sekali tertawa, pasalnya suaminya itu tidak dimana pun yang di cari adalah nasi padang.
mereka kembali ke hotel, ternyata semua sedang bermain di saung pendopo yang memang tersedia di hotel itu.
__ADS_1
aryan datang dengan membawa nasi yang tadi di beli, dan Arkan datang membawa minum.
"widih... jauh-jauh ke Pasuruan, makannya nasi Padang dong," goda Fahri.
"diem dek, kamu tau jika aku tak bisa makan makanan yang tak aku kenal," kesal Raka.
"tak masalah, yang penting kenyang, kamu gak beli cemilan Aryan?" tanya Gadis.
"tentu, tapi di sini itu terkenalnya dengan bipang dan keciput mini, jadi aku beli itu saja, itu..." tunjuk di kresek depan Wulan.
Fero juga sudah mulai membaik, mereka kini benar-benar menikmati suasana karena nanti malam akan memutuskan pulang.
Emily juga tak keberatan toh Dia sudah puas nik gunung lagi, terlebih pengalamannya cukup di uji kemarin.
"lain kali kita ke kelud yuk, soalnya di sana puncaknya lebih menantang, atau mau ke gede, sekalian liburan di sana," kata Gadis menawarkan.
"boleh saja sih, karena kami akan banyak waktu luang, tapi kalian bertiga tak boleh karena harus sekolah," kata Raka.
"boleh dong ayah, jika libur panjang ya, kami juga butuh liburan dan naik gunung itu enak, terlebih suasana dan udara yang begitu sejuk," jawab Aryan memohon.
"baiklah, tapi lain kali saja," kata Wulan menyetujui.
perjalanan pulang cukup aman, tapi sayangnya kedamaian itu terusik saat mobil Raka yang di Supiri oleh Fahri memasuki desa.
terlihat banyak orang yang membawa obor di jalan desa sambil membunyikan semua alat dapur membuat keributan.
"Fahri, bawa mobil pulang, kami turun di sini," kata Raka.
"siap kak," jawab Fahri yang langsung pergi saat keempat orang itu turun.
"assalamualaikum pak, ini ada apa?" tanya Raka.
"waalaikum salam, pak Raka tolong putra-putra kami pak, mereka hilang dari tadi sore, mereka tadi main di daerah kebun bambu, dan saat surup para ibu tak menemukan mereka tapi hanya sandalnya saja," kata seorang bapak dengan air mata yang menetes deras.
"tenang pak Udin, insyaallah jika bisa kamu.akan bantu ya," kata Raka.
Arkan mengeluarkan seruling miliknya yang di berikan oleh penjaga desa.
__ADS_1
alunan seruling itu mengalun lembut, tanpa sadar Wulan mulai menari mengikuti alunan musik itu.
"ada apa nak?" Suara Wulan yang terdengar sangat lemah lembut.
"assalamualaikum Nyai, saya mau tanya apa anak-anak ini di sembunyikan mahluk astral, atau mereka mengalami musibah," kata Arkan yang bersimpuh di depan Wulan yang masih memainkan tangannya seperti orang menari.
"cah kae le, he eh.... nyi linting... tulung diuculake kabeh bocah-bocah sing dijupuk nalika dolanan, aja gawe susahe wong tuwa. ( nyi linting ... tolong lepaskan semua anak yang kamu ambil saat main, jangan membuat susah orang tuannya.)"
suara itu terdengar lembut, tiba-tiba angin bertiup cukup kencang, bahkan malam itu tercium aroma melati yang begitu kuat.
"Aja kuwatir anak putu, wis mulih, kabeh wis aman, mbesuk aja nganti sore, amarga iki minangka transisi bangsa kita sing ora katon. (jangan khawatir cucuku, mereka sudah pulang Semuanya dengan selamat, lain kali jangan biarkan mereka main sampai petang, karena itu peralihan untuk bangsa ghaib kami keluar.)"
"matur sembah nuwun Mbah Putri," jawab Arkan menangkupkan tangannya dan tiba-tiba tubuh Wulan limbung.
Raka buru-buru menangkap istrinya itu agar tak jatuh, semua warga pun bingung, pasalnya ini sudah jam setengah sebelas malam.
"sekarang, kita berangkat ke kebun bambu, tolong terus bunyikan semua alat yang kalian bawa," pesan Aryan yang memimpin para warga.
Raka di antar seorang warga untuk membawa Wulan pulang, pasalnya wanita itu benar-benar butuh istirahat.
mereka pun menuju ke kebun bambu, dari jauh terdengar suara tangisan, para warga pun berlarian menghampiri suara itu.
ternyata benar saja tujuh anak yang tadi hilang sedang menangis disana, Aryan dan Arkan bisa melihat sosok nyi linting.
sosok wanita berkebaya merah dengan rambut panjang, dan kuku panjang berwarna hitam.
wanita itu menatap marah melihat para orang tua itu memeluk anak mereka.
"terima kasih nyi linting, sudah mengembalikan semua anak pada orang tuanya," suara batin Arkan.
"tulung matur marang wong tuwa kabeh, aja nganti anak-anake dolanan telat, yen ora bisa ngopeni, ayo dakurusi. (tolong bilang pada semua orang tua mereka, jangan terlalu membiarkan anak merka bermain lupa waktu, joka tidak bisa menjaga, biar aku yang menjaga mereka.)"
"baik nyi..." jawab Arkan dan Aryan bersamaan.
mereka pun ingin pulang, tapi sayang saat ingin pergi, ada puluhan pocong yang menghadang semua warga.
"mati ... mati ... mati..."
__ADS_1
"nak Arkan, nak Aryan apa itu? kenapa mereka terus bilang mati..." kata pak RT ketakutan.
"tenang pak, derajat kita lebih tinggi dari mereka, bismillah biar kami yang menghadapi mereka dulu, dan tolong bantu kami dengan doa,"