
mereka sampai di temani rintik hujan di pos lima, meski belum terlalu malam, mereka memilih berhenti di pos lima.
"tak perlu mendirikan tenda, Mangkutoromo adalah tempat camp favorit di sepanjang jalur pendakian Gunung Arjuno via Purwosari. Selain ada sumber air, tempat yang sangat luas dan gubuk untuk bermalam, ada beberapa tanaman yang bisa dimasak seperti paku-pakuan, jamur, dan lain sebagainya."
Aryan dan Arkan hanya mengangguk saja toh mereka memang yang paling tak berpengalaman di sini.
meski begitu Fahri dan Raka memastikan akan aman untuk ketiga wanita yang ada di rombongan mereka.
meski awalnya akan naik dengan jumlah ganjil, Raka sudah mengantisipasi agar tak terjadi hal yang tak di inginkan.
malam hari ada rombongan lain yang kebetulan juga baru datang, Wulan dan Emily baru selesai memasak, sedang Gadis juga sudah membuatkan kopi untuk semuanya.
malam hari saat semua memilih beristirahat, Raka tidur sambil duduk karena dia bisa mengawasi semua orang.
pukul dua belas malam Raka bangun dan mulai menyalakan kompor, Fahri juga bangun.
"bantu aku buat sarapan dan susu untuk semuanya, kita akan sakit sebentar lagi,"
"iya mas, apa kita perlu membangunkan rombongan dari Kediri," tanya Fahri.
"tidak perlu, semalam mereka bilang akan ke puncak saat sudah fajar," terang Raka.
Fahri hanya mengangguk, Faiz juga bangun dan membantu, Raka membangunkan Wulan.
"dek, tolong bangunkan semuanya, kita akan summit," kata Raka.
"iya mas," jawab Wulan.
dia membangunkan Emily dan Gadis, ketiganya sempat keluar untuk mencuci muka.
begitupun dengan Aryan dan Arkan, yang mengikuti ketiga wanita itu.
Emily berhenti di jalan setapak, tapi Arkan langsung menutup mata Emily dengan tangannya.
"sudah tak perlu di dengar, kita hanya perlu cuci muka dan kembali," bisik Arkan.
Aryan merinding disko saat menyentuh air, pasalnya ini masih pukul setengah satu pagi.
setelah siang dengan tas ransel kecil, mereka siap ke puncak, tak lupa mereka juga mengenakan Headlamp.
karena masih sangat gelap, dan mereka harus melewati setidaknya dua pos baru sampai di Lawangan baru puncak.
rombongan kembali terpecah menjadi dua rombongan, tapi kali ini raja menjadi navigator.
sedang Fahri jadi sweeper di belakang, Aryan membantu Emily untuk berjalan karena semak yang cukup rimbun.
"janhan bengong, Arkan terus baca tasbih Aryan tetap bantu Emily," kata Raka yang juga membantu istrinya.
perjalanan tak butuh waktu lama untuk sampai ke pos enam, tapi perjalanan mereka masih sangat panjang.
kini mereka terus berjalan menuju ke pos tujuh, dan itu adalah pos Jawa Dipa dan di sana ada tanah lapang yang setidaknya muat empat tenda.
sambil menunggu rombongan kedua mereka beristirahat, dan jam tangan mereka menunjukkan pukul setengah empat pagi.
__ADS_1
saat santai, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara benda jatuh, Raka hanya menjentikkan jari.
"hus..."
"ngusir apa ayah, gampang bener,"
"sudah, mending istirahat yang bener, karena setelah ini perjalanan kita setidaknya butuh tiga jam setengah untuk sampai di pelawangan, dan lanjut jalan satu jam baru puncak, jika tak mau ke puncak juga gak papa, kita sampai di pelawangan juga viewnya sangat bagus," terang Raka.
"saya di pelawangan saja, sepertinya tak sanggup jika harus naik ke puncak yang berbatu," kata Emily yang minum air.
"hus..." usir Wulan melempar sesuatu ke arah belakang
tiba-tiba sayup lirih terdengar suara Geraman yang bersautan dengan suara minta tolong.
"rame ya," kata Aryan tengil.
"kenapa, mau tolongin, tuh di bawah.." kesal Arkan yang menyorot lampu Headlamp ke arah jurang.
"kamu gila, diam ah..." kesal Aryan.
ternyata rombongan mereka baru datang dengan nafas yang habis, terlebih Fahri memapah Fero.
tanpa di duga Aryan mendekati pria itu, "kenapa om, kakinya masuk lobang?"
"iya nih, aku yang kurang hati-hati," jawab Fero, tapi Fahri heran karena melihat bocah itu memegang kaki Fero.
tanpa aba-aba Arkan langsung memutar kaki Fero dengan kuat, sambil membacakan doa.
"diam, ini masih pagi, sudah kita jalan lagi, Semuanya minum dulu dan jangan petakilan dan ngomong yang aneh-aneh," kata Raka mengajak Semuanya lanjut jalan.
kini Raka yang jadi sweeper karena rombongan dari Fahri sudah ada yang mengincar, mereka pun lanjut jalan.
pukul lima pagi mereka baru setengah jalan menuju ke Plawangan, karena jalur yang di lalui.
mereka sempat melihat matahari terbit, dan itu sangat indah, tadi juga sudah di sempatkan sholat berjamaah bergantian.
pukul setengah delapan pagi mereka sampai di plawangan, dan disini Emily, Fero, Aryan dan Randi memutuskan akan berhenti karena tak sanggup jalan.
sedang yang lain setelah berhenti, mereka lanjut ke puncak dan sempat foto.
setelah puas melihat pemandangan, mereka pun memutuskan untuk langsung turun.
terlebih perasaan Raka sudah tak enak, "kita harus turun sekarang,"
"tapi kaki Fero,"
"sudah tenang saja, nanti kita saling bergiliran membantu Fero turun," jawab Raka.
mereka turun saat pukul sebelas siang dari Plawangan. bukan apa karena Raka melihat sosok yang pernah menyesatkan dirinya dulu.
perjalanan sangat lambat sekarang, ternyata kaki Fero luka, dan luka itu sepertinya tak wajar.
__ADS_1
pukul setengah empat mereka baru sampai di pos lima tempat mereka bermalam.
jika di paksakan turun bisa, tapi itu akan sangat berbahaya terlebih kabut mulai turun.
"Arkan adzan di sebelah timur, dan Aryan adzan di sebelah barat," perintah Raka yang kini bersiap memimpin semua rombongan turun.
mereka berhenti sambil menunggu kedua saudara itu setelah adzan, dan kabut mulai hilang.
"kita jalan, bagaimana pun kita harus turun secepatnya," kata Raka memaksa.
career dari Fero sudah di bawakan oleh Faiz, dan semua barang di dalamnya sudah di bagi-bagi pada yang lain.
Faiz juga menghubungi basecamp untuk segera melakukan penjemputan di pos dua karena kondisi dari Fero.
saat ponsel Raka mulai terdengar suara adzan Magrib, mereka berhenti dan mencari tempat lapang untuk sholat.
rakaat pertama semua normal, tapi rakaat kedua mulai terdengar suara tawa Kunti di atas mereka.
tapi mereka fokus dan menyelesaikan sholat, dan kembali melanjutkan jalan, Fero sedikit bisa berjalan karena kakinya tak merasakan sakit lagi.
akhirnya pukul sepuluh malam mereka sampai di pos dua, dan disana mereka bisa melihat ada beberapa penduduk.
Gadis merasa jika tubuhnya tak nyaman, tiba-tiba hujan mulai turun, Raka terus nampak khawatir.
"mas jika tak memungkinkan, biar aku yang menemani Fero disini," kata Fahri.
"tidak boleh, kita harus turun bersama, tidak ada yang boleh saling meninggalkan," kata Wulan yang nampak marah.
Fahri kaget pasalnya baru kali ini dia melihat Wulan yang begitu marah, dan Arkan terus berdiri sambil terus membaca sesuatu.
Emily tiba-tiba terjatuh sambil terduduk, "turun segera, jangan disini, pergi!!!"
semua pun kaget mendengar ucapan dari Emily yang terdengar seperti suara laki-laki dewasa.
"baik eyang, kami akan turun," jawab Arkan yang menghentakkan kakinya tiga kali.
Raka memapah Fero di bantu Fahri, jalan mulai licin tapi beruntung jalan setapak batu, bukan tanah yang bisa menyulitkan mereka.
sesampainya di pos satu mereka di jemput, dan benar Gadis mendapatkan tamu haid saat sudah di basecamp.
Fero sudah di obati oleh seorang warga sekitar yang biasa melakukan pengobatan alternatif.
"ayah selama turun lihat apa, kenapa seperti ketakutan begitu?" tanya Aryan yang masih bingung.
"sudah tak perlu di bahas, mereka hanya tak suka jika ada orang yang ingin berbuat buruk di sana, terlebih jalur ini melewati beberapa petilasan yang memiliki aura mistis,"
Wulan dan Arkan tau apa yang di alami Raka, tapi mereka memilih diam.
"sudah setelah ini kita bisa liburan di sini, dan lagi Arkan katanya ingin melihat pondok terbaik di kabupaten ini," kata Wulan mengalihkan pembicaraan.
"wah... kalau kamu mondok di sana, aku juga ikut, aku gak mau di tinggal di rumah sendiri," mohon Aryan
"baiklah, sekarang tidurlah, aku pusing karena kurang tidur," kesal Arkan yang langsung terlelap.
__ADS_1