
pukul sepuluh pagi, Raka bangun begitupula dua putranya karena Raka yang terus menganggu kedua remaja itu.
"sekarang mandi terus sarapan menjelang malam siang," kata Wulan tersenyum.
"masih ingin tidur Amma, tapi kali ini mau kamu yang nemenin," manja Raka pada istrinya.
"idih, udah tua banyak maunya, malu tuh sama dua jejaka kita," cubit Wulan gemas melihat suaminya itu.
"kami gak lihat kok," kata Arkan yang selesai mandi.
Raka pun bergegas mandi, Aryan dan Arkan sudah siap untuk mengisi perut lapar mereka.
keduanya begitu lahap menyantap ikan pepes dan sambel terasi itu, bahkan Raka hanya bisa geleng-geleng melihat kedua Putranya.
"Amma, semua kemana kok sepi banget?"
"bapak di sawah, sepertinya ada yang ingin melihat sawah mau di tebasno mas," jawab Wulan.
"kenapa, kan bapak tak pernah melakukan itu?" tanya Raka penasaran.
"sepertinya juragan itu terus memaksa, bahkan sempat membuat bapak kesal," jawab Wulan yang menyiapkan semuanya untuk Raka.
"kami boleh ke tempat Mbah, kami mau ambil jagung kan mumpung masih muda," kata Aryan.
"baiklah, tapi ingat jangan berbuat ulah," nasihat Raka pada putranya.
"Siap ayah," jawab Aryan.
seusai selesai sarapan, keduanya sudah berangkat ke sawah dengan berlomba lari lewat kebun belakang.
__ADS_1
wulan hanya tersenyum melihat kedua anaknya, Raka pun menarik Wulan untuk duduk menemaninya sarapan.
"kamu milikku, jangan mencoba untuk pergi dariku nyonya, mengerti," bisik Raka.
"hentikan mas,malu ih..."
Arkan sampai di area persawahan terlebih dahulu, dan melihat sang Mbah sedang berada dalam masalah.
Arkan langsung mempercepat langkahnya, "hei apa yang kalian lakukan, jangan berulah," teriak Arkan pada rombongan yang mengerumuni sang kakek.
"hei bocah jangan ikut campur," kata seorang pria ingin menghentikan Arkan.
dia pun kesal langsung menendang ******** pria itu hingga kesakitan, bahkan pria itu pun tersungkur menahan rasa sakitnya.
"hei kamu cari masalah, bereskan," kata juragan firman.
"tolong, ada maling, tolong ada yang mengeroyok kami, tolong!!!" teriak Aryan melihat Arkan di kepung.
"woi... kalian kenapa menganggu anak-anak, mau cari mati huh," marah para warga.
"sialan, dua bocah ini bikin kesal saja," marah juragan Firman.
Arkan merasa ada aura yang tak enak dari pria di depannya itu, terlebih dia sadar setelah pergerakan semalam.
pasti para penyembah dan sekutu setan pasti memiliki luka di tubuhnya.
tapi Arkan hanya diam, akhirnya rombongan pria itu pergi meninggalkan area sawah.
"tunggu dan lihat saja, apa yang bisa aku perbuat pada sawah kalian, dan ku pastikan kalian akan menyesal seumur hidup," ancam pria itu.
__ADS_1
"silahkan lakukan jika anda bisa, aku tunggu hal itu," jawab Arkan menerima tantangan.
Arkan pun langsung menyeringai, sudah di pastikan dia sudah menyinggung pria yang paling menyebalkan.
"widih juragan angkuh dan kikir, dia itu terus mencari sawah yang bagus dan membeli hasil panen dengan harga rendah dengan cara paksa," kata seorang petani.
"kenapa kalian takut, itu sawah kalian dan tak salah untuk menolak hal itu, dan lagi ada juragan Rafa yang siap menerima hasil panen apapun yang kalian dapat," kata Aryan.
"tidak semudah itu nak, kalian tak tau bagaimana mereka melakukan kecurangan, jika ada orang yang berani menolak harga yang mereka tawarkan, keesokan harinya pasti sawah itu akan di rusak atau semua tanaman mati," terang bapak yang lain.
"kenapa kalian semua bingung, di desa kita ada sebuah penjaga yang selalu melindungi desa, tapi apa kalian lupa melakukan hal yang dulu sering di lakukan, hanya karena merasa modern," kata Arkan.
"apa maksudnya? jangan bercanda dasar bocah," kesal seorang sesepuh desa.
"bukankah itu karena anda pak, anda bilang untuk apa sedekah desa, ini yang terjadi, para pelindung desa memilih diam saat kalian dalam masalah, apa kalian sadar itu, bahkan semalam saja kami tak merasakan para mahluk yang selama ini menjaga desa," kesal Aryan.
"apa Danyang desa marah?" tanya bapak khur.
"menurut bapak, jika tidak tak mungkin mudah membawa para pencuri dan pencari pesugihan mencari uang di desa ini," terang Arkan.
"sudah le, jangan bicara lagi, buat apa kalian bicara dengan para orang yang tak bisa di bilangi, buang-buang tenaga saja," kata pak Suyatno yang marah.
"ya sudah Mbah, ayo kita panen jagung, aku ingin makan dadar jagung buatan Mbah uti," kata Aryan yang langsung melompat menyebrang kali.
"Aryan jangan terlalu banyak mengambil jagungnya, kamu kebiasaan soalnya," kata Arkan mengingatkan adiknya itu.
pak Suyatno meminta semua orang bubar, dan ada satu orang yang masih melihatnya.
"kenapa? sudah tak usah di dengarkan kedua cucuku," kata pak Suyatno.
__ADS_1
"sebenarnya aku percaya dengan mereka, karena aku merasakan sendiri perbedaan desa ini, terlebih cucu ku juga mengatakan hal yang sama," kata pria itu sebelum pergi meninggalkan pak Suyatno.