
malam itu, suasana benar-benar begitu sepi, Arkan dan Aryan sedang bermain karambol di teras sambil di temani oleh Raka dan Wulan yang sedang nderes Al-Qur'an di ruang tamu.
"mas jangan curang ya, aku kalah terus nih," kesal Aryan.
"aku gak curang loh, kmu saja yang gak bisa main," ledek Arkan pada adiknya itu.
"ih nyebelin mas ih, kamu juga ngapain duduk di situ, kesini," panggil aryan pada seekor kucing berwarna belang putih Hitam.
sebenarnya itu adalah Suni yang mengubah bentuknya agar bisa dekat dengan Aryan.
sedang Sesnag tidur di pangkuan Arkan dari tadi dengan nyaman. "baru kali ini aku melihat ada remaja mainnya sama hal ghaib begini, belum lagi tuh pocong kenapa juga ikut nimbrung di situ," kata Raka.
"ya mu bagaimana lagi, kita memiliki kekuatan yang menurun pada mereka, belum lagi mereka juga memiliki tanda orang pilihan," kata Wulan tersenyum pada Raka.
di rumah sebelah, Faraz sedang begitu bahagia memiliki seorang adik perempuan.
tapi Rafa masih tak habis pikir bagaimana bisa lengan dan kaki putrinya itu gosong.
tapi tak merengut nyawa bayi itu, tapi malah Wulan yang keguguran, padahal selama ini dia terkenal sebagai wanita kuat.
"ada apa ayah?" tanya Jasmin yang duduk di samping Rafa.
"aku heran, jika melihat putri kita, seharusnya jika dia terkena kiriman ilmu hitam, seharusnya dia meninggal dunia, lihat luka di tangan dan kakinya," kata Rafa yang masih belum paham.
"ayah ini ngomong apa, Allah yang berkehendak hingga putri kita selamat," jawab Jasmin yang tak jujur.
"iya aku tau jika ini kehendak-Nya, tapi apa aku melewatkan sesuatu, terlebih guna-guna itu tak sepele dan tak mudah di hilangkan, kecuali di pindahkan," gumam Rafa.
Jasmin pun langsung diam dan senyumnya hilang dari wajah cantiknya.
Rafa pun melihat perubahan dari wajah istrinya, dan benar sepertinya tebakannya benar.
__ADS_1
"ayah ... bunda ... kita panggil adik ku siapa?" tany Faraz.
"Husna," jawab Rafa.
"tapi bukankah nama yang ayah pilih Nisa?" tanya Faraz yang tak sengaja pernah mendengar nama itu.
"tidak, ayah berubah pikiran kita panggil dia Husna," jawab Rafa.
Jasmin pun hny dim, dia masih kaget mendengar perkataan dari Rafa tadi, tentang ilmu hitam yang hanya bisa di pindahkan.
Aryan tak sengaja melihat ada sesuatu yang lewat, "mas ad bola api, itu pulung atau hanya banaspati?" tanya Aryan.
Arkan yang mendengar pun melonggokkan kepalanya melihat hal itu.
dan ternyata itu bukan banaspati tapi pulung penyakit, dan *** api itu melesat menuju ke are rumah Rizal.
tapi bila api itu tak bisa masuk dan mental kembali tapi sayangnya *** api itu malah mengarah ke depan rumah Raka.
"iya ayah, penyakit kiriman itu kembali pada pengirimnya sepertinya, karena pagar ghaib yang melindungi keluarga Mbahde," jawab Aryan.
"kali begitu ayo masuk semuanya, kita istirahat," ajak wulan.
Di depan rumah Raka adalah sebuah rumah bangunan baru, dia di kenal sebagai orang yang sangat kaya.
terlebih keluarga itu sering membanggakan semua harta yang di miliki.
sekarang di rumah itu, sang istri sedang kesakitan, dia merasa jika kepalanya seperti di tusuk ribuan jarum.
bahkan perutnya mulai membesar, sang suami pun memanggil guru spiritual mereka dan hanya bisa geleng-geleng.
pasalnya teluh yang di kirim oleh wanita itu sudah kembali dan sangat buruk saat mengenai pengirimnya.
__ADS_1
"kalian ini salah pilih musuh,kenapa teluh yang begitu kuat bisa kembali seperti ini," marah dukun itu.
"tidak Mbah, dia hanya pemilik pengilinggan biasa, aku juga tak tau kenapa bisa mengenai istriku," jawab sang suami.
"sudah lain kali tak usah di coba lagi, jika kalian nekat berarti kalian mau mati," geram dukun itu
dari luar terdengar suara kucing yang ternyata adalah Suni yang mengawasi rumah itu.
bahkan Ki item sempat melemparkan sesuatu pada dukun itu untuk menunjukkan siapa penguasa tempat ini.
Arkan dan Aryan sudah tidur, begitupun Raka dan Wulan, mereka ternyata ngrogo Sukmo.
mereka kini sedang melihat suasana desa dari sisi lain, yaitu dari sisi ghaib.
ternyata di desa sedang terjadi kekacauan besar, bahkan Ki item dan ku Adhiyaksa sedang membereskan semua.
bahkan sosok sakti yang dulu sering membantu Raka juga ada, seekor burung elang besar yang mencabik beberapa mahluk halus.
"kenapa kalian disini, pulang!" teriak tumenggung Wira Sanjaya.
keempatnya pun di dorong kembali ke tubuh mereka, dan nyai Nawang melindungi dengan mengirim bala tentaranya pada keluarga Raka.
malam itu semua orang seperti terkena sirep, bahkan ada hewan jadi-jadian yang sedang beraksi pun tak ada yang tau.
belum lagi dengan biadab, pak Doni bisa mengagahi beberapa gadis yang masih sekolah di rumah mereka tanpa takut ketahuan.
bahkan mahluk hang di sembah pak Doni sangat senang, karena malam ini para penjaga desa ini sibuk.
sedang pengikutnya sedang mencari mangsa untuk menjadikannya kuat untuk melawan dua punggawa penjaga desa itu.
"bagus Doni, kamu berhasil dan cari terus jika perlu, semua wanita bisa kau berikan benih mu, dan itu akan jadi makanan ku, ha-ha-ha," kata mahluk itu dengan suara tawa yang mengerikan.
__ADS_1