Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
nama bayi Rafa


__ADS_3

Arkan dan Aryan baru pulang sekolah dan melihat rumah pakde mereka begitu ramai.


keduanya langsung berlari masuk kedalam rumah dan mencari sang Amma, keduanya bahkan langsung memeluk Wulan yang sedang duduk bersandar di ranjang.


"aduh-aduh ini kenapa para pria tampan Amma, kalian belum cuci kaki," tegur Wulan sambil tersenyum memeluk Putranya.


"Amma baik-baik saja, Amma kenapa?" tanya Arkan yang sudah menangis sesenggukan.


"karena ini pilihan Amma, pasti ruang kalian yang mengatakan Semuanya bukan," tebak Wulan.


"Amma kenapa ... Hua ... ayah," tangis Aryan yang cukup keras.


Raka pun menenangkan putra keduanya itu, sedang Wulan masih memeluk Arkan.


"ingat sayang semua ini pilihan, dan Amma tak ingin melihat bunda kalian sedih, toh bagaimana pun mereka juga saudara kita," kata Wulan.


"tapi aku tidak suka-"


"Aryan!" teriak Arkan menghentikan ucapan adiknya.


karena bentakan dari Arkan, Aryan malah makin menangis karena hal itu, bahkan Raka dan Wulan bingung melihat kedua putranya.


"ada apa Arkan? ayo jujur," tegur Wulan.


"kami ingin liburan, tapi Aryan tak tau kondisi Amma, terlebih kami akan segera ujian nasional," bohong Arkan.


Raka tau jika putranya itu tak jujur, terlebih Arkan tak berani menatap mata Wulan.


"kalau begitu, kita liburan ke malang saat kalian sudah selesai ujian, kita naik gunung mau? itu pun menunggu Amma sehat total," usul Raka.


"benar ayah, terima kasih," kata aryan yang sudah lupa kesedihannya.


Raka dan Wulan tersenyum, Aryan memang paling mudah di bujuk tapi berbeda dengan Arkan yang akan menyimpan semua masalahnya sendiri.


pak Doni marah kepada sang istri, pasalnya waktunya hampir habis dan kemungkinan besar istri dan anaknya yang akan menjadi tumbal terakhir.


"Bu, kamu ini gimana sih, orang begitu saja kok gak bisa, kamu tau jika kamu gagal maka kamu jadi tumbalnya," kata pak Doni marah.

__ADS_1


"sudah pak, ibu lelah, aku pasrah jika harus jadi tumbal karena ini pilihan bapak, bapak tak bisa harus membunuh bayi yang tak berdosa," kata Bu Mirna yang tak tahan lagi.


di sudut ruangan khusus itu mahluk hitam tertawa menyeringai, pasalnya dia hanya membohongi pak Doni.


meski kekuatan bayi itu murni, tapi mengambil dua jiwa itu juga menyenangkan.


mahluk orok itu kini merangkak di atas plafon rumah, dia menyeringai menunjukkan gigi tajamnya.


"Doni .... aku ingin merebut nyawa istri dan anak mu, waktumu tak banyak ..." kata mahluk itu.


"tolong jangan melakukan itu, aku akan membunuh bayi itu untuk mu," kata pak Doni yang tak ingin melihat istrinya mati.


Bu Mirna tak mengerti kenapa suaminya yang ketakutan, dia tak bisa mendengar dan melihat apapun.


pak Doni pun bergegas pergi untuk merencanakan pembunuhan bayi dari Rafa.


saat di luar rumah, pak Doni begitu suntuk, bahkan dia memilih merokok di pinggir sungai.


"aku harus bagaimana," gumamnya.


tanpa dia sadari, ada sosok terbungkus kain putih di sampingnya, pocong itu hanya diam sambil menemani pria itu.


"hentikan, jangan terus membuatku pusing!" marah pak Doni.


"dasar manusia rendahan, ingat jika kamu tak bisa lebih baik relakan istrimu, lagi pula kamu bisa memilih wanita muda dan lebih cantik untuk jadi budak mu, kau mengerti, tapi kamu harus ingat perjanjian kita, makin banyak perempuan yang hamil darimu maka kamu akan semakin kaya, ha-ha-ha-ha," kata orok.


pak Doni mulai di buatkan oleh rayuan setan itu, dan dia pun memutuskan untuk diam menunggu waktu saja.


"kalau begitu aku jemput mereka ya, ha-ha-ha kamu lebih baik menikmati waktu mencari wanita cantik," kata mahluk itu.


"ya kamu benar, makin banyak wanita yang hamil dengan ku, maka akan semakin kaya aku, ha-ha-ha," kata pak Doni yang bergegas pergi.


"dasar manusia," kata pocong yang dari tadi hanya memperhatikan keduanya.


"hi-hi-hi-hi, sayang ayo kita pacaran, lompat gih, hi-hi-hi-hi," panggil kuntilanak di atas pohon.


"oke sayang," jawab pocong itu yang melompat terbang.

__ADS_1


pak Doni mulai mencari sasaran untuk pelampiasan hasratnya, sedang di rumah Bu Mirna sedang membuatkan susu untuk putranya.


tapi hal yang tak terduga, dia kaget saat melihat putranya di makan mahluk hitam seperti bayi seram.


bahkan mahluk itu sedang mengunyah kepala putranya itu, "AAA.... anak ku!" teriak Bu Mirna yang menjatuhkan gelas susu itu.


krauk ... krauk ... suara kunyahan dari kepala putra Bu Mirna, Bu Mirna sudah terduduk lemas menyaksikan hal itu.


setelah puas menikmati bocah itu, orok itu melompat dan langsung mengigit leher Bu Mirna.


bahkan darahnya muncrat ke seluruh ruangan, Bu Mirna mari begitu saja, dan mahluk orok itu menikmati semua isi jerohan dari Bu Mirna.


bahkan mahluk itu memanggil semua anak buahnya untuk bersama-sama menikmati hidangan istimewa itu.


Arkan merasa ada aura buruk yang menyelimuti desa itu, bahkan Ki Adhiyaksa sudah dalam mode sangar.


"ada apa mas?" tanya Aryan


"entahlah Aryan, aku merasa ada sesuatu yang sedang buruk terjadi, lihat saja bahkan Ki Adhiyaksa berubah dalam bentuk pelindung sesungguhnya," kata Arkan


"tapi aku tak merasakan apapun, hachiu..."


seekor ular kobra muncul dengan kepala yang bermahkota, Aryan mengulurkan tangannya ke arah ular itu.


ular itu mematuk tangan Aryan, "idih nih ular kini kesel ya, di bantu malah masuk, mau di sate huh," kata Aryan kesal.


tapi tiba-tiba ular itu berubah menjadi manusia setengah ular, dia ternyata seorang wanita cantik.


"terima kasih tuan sudah membebaskan aku dari segel yang mengetikan itu," kata siluman ular itu menangkupkan tangannya.


"siapa nama mu?" tanya Arkan dingin dengan tatapan tajam.


"nama ku nyai Ageng tri mustika," jawab siluman itu.


"jika kamu ingin jadi pelindung Aryan, boleh tapi jangan berani mengatur atau berusaha melukainya, jika tidak aku yang akan membunuhmu," ancam Arkan.


"baik prabu agung," jawab siluman ular itu yang kembali ke bentuk awalnya.

__ADS_1


Aryan begitu senang memiliki hewan miliknya sendiri, terlebih sosok nyai Ageng tri mustika adalah jenis ular paling besar dan berbisa.


__ADS_2