
Suni pun terus mengelilingi Arkan sambil menunjukkan sikap waspada, sedang di tempat lain sen-sen juga tiba-tiba datang.
macan hitam itu juga melakukan hal yang sama dengan Suni, Aryan pun bergegas keluar untuk bertanya pada arkan.
tapi saat di depan kamar Nayla, Sela dan Vina. dia merasa aura kamar itu begitu hitam pekat.
"Arkan," panggil Aryan yang merasa tak enak.
Arkan pun menoleh dan sempat meliht sesosok hitam sekelebat, Suni langsung mengejar sosok itu.
benar saja tak lama, Nayla berteriak kesakitan, "argh.... sakit!!!" teriaknya.
Arkan langsung membuka kamar dan kaget melihat begitu banyak darah yang mengalir dari sela paha Nayla.
"ada apa?" tanya Arkan panik juga.
"aku juga tak tau, tiba-tiba dia bilang perutnya sakit, dan keluar darah segar seperti ini...." tangis Sela menjelaskan.
"kenapa dim, Vina ambil apapun untuk menutupinya, bir aku coba menyembuhkannya," bentak Arkan.
Aryan menyentuh tangan sela dengan erat, dia melihat kilasan sepotong-sepotong tentang batu berwarna ungu.
"batu ungu, dimana batu itu!!" bentak Aryan
"batu apa?" kata Sela menangis.
"batu yang kmu ambil dari pantai Parangtritis, kamu tau di larang mengambil apapun dari panti itu, apalagi Nayla sedang berhalangan," marah Aryan.
Arkan pun terpaksa memanggil Arkana, untuk menariknya ke alam ghaib.
__ADS_1
"gawat arkn ngrogo Sukmo lagi," kata Aryan yang panik, dan tanpa sadar mendorong Sela.
"sakit!!" kata Sela.
Aryan membuat dinding ghaib agar tak ada yang bisa mendekati Arkan dan Nayla.
kemudian dia duduk bersila di belakang Arkan dan mulai menyalurkan kekuatannya.
tiba-tiba tubuh Nayla terguncang, Vina memanggil beberapa guru dan sudah membuat kehebohan.
terlebih darah terus keluar entah dari mana, tubuh Nayla memucat. seorang pria sepuh datang dengan membawa sapu ijuk dari aren.
"kenapa kamu lancang mengambil barang bukan milikmu, seakrng teman-teman mu dalam bahaya, cah geblek," marah pria itu memukul Sela dengan sapu yang di bawanya.
"maaf Mbah, saya cuma iseng dan menaruhnya di kantong Nayla," jawab Sela yang akhirnya jujur.
dia pun ikut bersila untuk membantu Arkan dana Aryan, pak Jhoni menarik Sela dan memintanya untuk menganggu, begitupun dengan murid yang lain.
Arkan dan kedua adiknya sampai di sebuah pinggir Lin, ada seorang wanita berkemben ungu yang sedang duduk sambil menangis.
"Nyai maaf... saya ingin mengembalikan ini, tapi tolong jangn buat teman saya terluka seperti ini, di bisa mati," mohon arkn menunjukkan permata berwarna ungu yang di temukan di saku celana panjang Nayla.
"lancang!!! sinten ingkang wantun mendhet mustika gadhahipun kula, puniku gadhah artos piyambakipun mencurinipun, lan hukumanipun inggih punika pejah. (Siapa yang berani mengambil mustika milikku, itu berarti dia mencurinya, dan hukumannya adalah mati.)" kata wanita itu dengan suara lembut tapi penuh ketegasan.
"kula ngertos[sumerep] ngengingi bab puniku nyai, nanging puniku sanes ulah kanca kula puniki, nanging puniki amargi keisengan saking kanca kula ingkang sanes, lan denhan sengaja sukakakenipun ing sak nayla, tamtu nyai ugi ngertos. (Saya mengerti akan hal itu Nyai, tapi itu bukan ulah teman saya ini, tapi ini karena keisengan dari kawan saya yang lain, dan denhan sengaja menaruhnya di saku Nayla, tentu nyai juga tau.)" saut Arkan dengan suara memohon karena tak ingin terjadi peperangan.
"menawi kados puniku lintu kalih[kaliyan] salah setunggal nyawa sampeyan-sampeyan kangge dados pengantinipun kula, enggal kula ajeng[badhe] nguculi prawan puniku. (Kalau begitu tukar dengan salah satu nyawa kalian untuk jadi pengantinku, baru aku akan melepaskan gadis itu.)" kata Nyai Sedah Wungu.
"loh loh loh.... sampeyan ajeng[badhe] menarik piyambakipun sedaya ingkang taksih ing ngandhap umur kangge dados budak sampeyan, kados pundi bilih kula mawon ingkang nggantosaken piyambakipun sedaya, langkung-langkung nyai nawang ugi siap bilih ing betahaken. (Loh loh loh.... Kamu mau menarik mereka yang masih di bawah umur untuk jadi budak mu, bagaimana jika aku saja yang menggantikan mereka, terlebih Nyai Nawang juga siap jika di perlukan.)" saut prabu Wira Sanjaya yang batu datang.
__ADS_1
"raka prabu dugi, kenging punapa mboten sanjang ing sedah, menawi nyai nawang dumugi dugi puniku urusan ajeng[badhe] dados panjang. nanging kenging punapa raka prabu saged manggihi kula satebih puniki namung demi ngrencangi piyambakipun sedaya? (Kakang prabu datang, kenapa tidak bilang pada Sedah, kalau Nyai Nawang sampai datang itu urusan akan jadi panjang. Tapi kenapa kakang prabu bisa menemui ku sejauh ini hanya demi membantu mereka?)" tanya nyai Sedah Wungu dengan bahagia.
"nduk... cah ayu, sampeyan mboten nepangi piyambakipun sedaya bertiga, malah sampun kantenan sanget ketingal. (nak... anak cantik, kamu tak mengenali mereka bertiga, padahal sangat jelas terlihat,)" kata prabu Wira Sanjaya.
Nyai Sedah pun menajamkan matanya dan kaget melihat wujud dari ketiga pemuda dan pemudi di depannya.
"kula nedha pangapunten[nuwun sewu] saageng-agengipun, amargi mboten nepangi titisan saking nyai nawang lan kakang prabu, menawi kados puniku sampeyan-sampeyan kembalilah, urusan manah puniki kula ngapuntenaken, nanging sanjang ing kanca sampeyan-sampeyan kangge dugi mangsulaken watu puniku dhateng asalipun. (Saya minta maaf sebesar-besarnya, karena tidak mengenali titisan dari nyai Nawang dan kakang prabu, kalau begitu kalian kembalilah, urusan hati ini aku maafkan, tapi bilang pada teman kalian untuk datang mengembalikan batu itu ke asalnya.)" perintah nyai Sedah Wungu.
"inggeh nyai, Kulo pamit...." kata Aryan, Arkan dan Arkana yang meninggalkan alam ghaib itu.
setelah bangun, Aryan melempar selimut yang menyelimuti tubuh Nayla, dan Arkan mengeluarkan air yang entah datang dari mana.
setelah itu dia memercikkan ke tubuh Nayla, dan meminumkan sedikit agar membantu penyembuhan dari dalam.
pria sepuh itu juga sudah menghilang dari kamar, tapi sapu ijuk yang tertinggal menginggatkan Arkan tentang sesuatu.
pak Jhoni masuk setelah Arkan memanggilnya, mereka pun segera membawa Nayla ke rumah sakit karena gadis itu butuh penanganan.
sedang untuk sela, Aryan menarik gadis itu dan menyeretnya ke pantai tempat dia mengambil batu mustika itu.
meski sudah malam, Aryan tak peduli karena pemilik batu itu meminta untuk di kembalikan.
saat akan pergi, tiba-tiba sela merasa perutnya begitu panas seperti terbakar, kedua guru yang mengantar keduanya pun bingung.
tapi Aryan hanya melihat sela, pasalnya ada nyai Sedah Wungu yang sedang memainkan selendang miliknya.
"tata krama kedah ing jagi, puniki nembe pengetan , benten kali bilih kedados malih, sampeyan ajeng[badhe] dados abdi ing keraton kula. ( Tata Krama harus di jaga, ini baru peringatan, lain kali jika terjadi lagi, kamu akan jadi abdi di keraton ku.)" kata nyai Sedah Wungu.
Aryan memberikan salam terakhir, dan nyai itu pun pergi, dia adalah salah satu abdi kepercayaan dari penguasa pantai selatan.
__ADS_1