
Fahri bahkan merasakan tubuhnya begitu remuk redam, bahkan kakinya juga sangat sakit.
Wulan memberikan air khusus pada keempat orang itu, "minum dan baca basmalah terlebih dahulu,"
keempatnya pun minum dan perlahan tubuh mereka mulai segar, Arkan dan Aryan baru sadar setelah beberapa menit.
"haduh... kalian ini katanya cuma lihat-lihat kenapa malah menganggu penunggu terkuat di desa itu," kesal Raka.
"bukan kami, dia yang datang ingin membunuh kami karena ingin mustika kami," jelas Arkan
"ayah tau semuanya, sudah minum air dulu, dan kalian berempat sudah tak penasaran lagi," kata Raka yang mengambil daun kelor dan menepuk kearah tubuh keempatnya.
"kapok aku mas, lebih baik baik gunung Lawu sekalian, setidaknya disana tidak seram-seram amat pemandangannya, belum lagi tingkah dia putra mu beh... bikin orang jantungan," kesal Fahri.
"kan aku bilang, jika om penasaran di kerubutin pocong, aku bisa bantu," kata Aryan tertawa.
Wulan langsung menjewer pelan kuping putranya itu, "kamu tau Keponakan mu ini suka bercanda juga langsung di masukkan hati,"
"ya gak gitu mbak,habis mau marah tapi itu tempat serem," kata Fahri yang kini tiduran.
"tapi aku merasa aneh, bukannya kita tadi naik mobil terus jalan kaki ya, kenapa kita bisa dengan cepat di rumah," kata Randi.
"sebenarnya yang tadi berjalan adalah roh kalian, dan tubuh kalian kami bawa pulang untuk menyamarkan dari para hansip yang ronda," jawab Raka.
"apa!!" kaget ketiga pria muda itu.
"sekarang aku baru sadar, kenapa kami bisa melihat semua mahluk dan mahluk pun tak terganggu dengan kami," kata Gadis.
"itu benar, kalian lapar gak, mau makan ini?" tanya Wulan mengeluarkan ubi rebus, jagung rebus dan kopi pahit.
Arkan, Aryan, Fahri dan Fero memuntahkan kopi pahit itu, tapi tidak dengan Randi dan Gadis.
Wulan tak melihat hal yang aneh pada keduanya, "kalian penyuka kopi pahit ya?"
"iya mbak, lagi pula kopi mbak enak banget gak pahit dan manis tapi pas, beber gak dia?"
"iya mbak, boleh minta jenis kopinya gak, biar bisa buat di kos," tanya gadis.
"kalian ngekost?" tanya Wulan.
"iya mbak, kami kos di daerah belakang UNDAR, ya lumayan murah lah di tambah ada makan pagi dan bebas jam," jawab gadis
"owh..."
__ADS_1
malam itu, mereka semua menginap pasalnya sudah jam dua belas malam.
bahkan para hansip yang meronda juga sudah menginggatkan untuk mengunci pintu.
arkan pun mulai menutup mata, tapi mimpi bagaimana dia menyaksikan seseorang mati di tangannya pun kembali hadir.
bahkan senyum gadis itu seakan membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Raka yang sadar pun mencoba untuk menyegel kenangan itu dan membuangnya.
kini Arkan pun kembali tidur dengan tenang, meski begitu itu mungkin akan membuat Arkan memiliki tingkat kepekaan tinggi.
keesokan harinya, Raka sudah bersiap untuk melayat ke rumah dari Aini.
"ayah mau kemana? ini masih pagi?" tanya Aryan yang melihat Raka.
"tenan kalian Aini meninggal dunia, jadi ayah harus melayat kesana," jawab Raka.
"aku ikut ayah, setidaknya untuk mengucapkan selamat jalan padanya, terlebih semalam ayah mencoba membuatku lupa bukan," kata Arkan.
"maafkan ayah nak, ayah hanya takut kamu terus menerus menginggatnya dan akan mengganggumu,"
"tidak apa-apa ayah, karena aku yakin ayah melakukannya untuk ku," jawab Arkan.
beruntung saat Raka, Wulan dan dua putranya akan pergi, Bu mut dan pak Suyatno pulang dari kondangan.
"loh mau kemana? masak sudah mau pergi?" tanya Bu mut.
"tidak Mbah, kami ingin melayat teman kami," kata Aryan
"innalilahi wa ilaihi Raji'un," kata Bu mut dan pak Suyatno bersamaan
"ya sudah Bu kami pamit, permisi ..." kata Raka yang mencium tangan kedua mertuanya itu.
akhirnya mereka pergi, Fahri langsung memeluk sang ibu karena rindu, "alah... di tinggal sehari kayak di tinggal berapa tahun saja, tadi malam mbak mu juga bilang katanya teman-teman mu menginap, apa sudah bangun?" tanya pak Suyatno.
"belum pak, mereka masih tidur, karena semalam kami main bareng Arkan dan Aryan,"
pak Suyatno yang mendengar pun langsung menjewer kuping Fahri, "sudah di bilangin jangan ajak keponakan mu main hal aneh-aneh lagi, ingat kejadian kecil mereka, bapak masih tak sanggup jika harus kehilangan mereka ..."
"bapak ini ngomong apa, orang cucu kita sudah besar, mereka pasti sudah bisa jaga diri dengan baik, lagi pula dulu itu bukan murni kesalahan mereka," kata Bu mut menepuk bahu suaminya.
"maaf Bu, bapak hanya teringat hal buruk itu, bagaimana tidak, kita sempat kehilangan Wulan dan Raka, dan hidup ku serasa hancur saat me dengar cucu-cucu kita hilang di dunia ghaib," kata pak Suyatno yang menghapus air matanya.
__ADS_1
"maafkan Fahri ya pak, ini terakhir kalinya,"janji Fahri.
"iya le, maaf tadi bapak juga lepas kendali dan menyalahkan mu," kata pak Suyatno.
gadis yang mendengar pun tak mengira jika keluarga Fahri pernah kehilangan semacam itu.
Gadis bahkan ingat ucapan sang kakek jika bukan orang sembarangan yang bisa hidup berdampingan di alam ghaib.
mobil Raka berhenti di kejauhan, Arkan terus menunduk sambil terus menekan dadanya yang tiba-tiba nyeri.
"kamu tak apa-apa nak, jika tak enak badan kita pulang," kata Wulan
"tidak Bu, aku baik-baik saja, sekarang ayo kita kedalam," ajak Arkan.
saat mereka datang, para warga sedang bergunjing, "pak jenazahnya Aini tak bisa di angkat meski dengan enam orang, apa dia punya dosa ya, padahal gadis itu selama ini sangat baik,"
deg... Arkan kembali ingat kejadian semalam, Aini tersenyum sambil melihat Arkan.
"aku sudah mengecewakan dirimu,maaf ... karena cinta dan keserakahan ku ingin memiliki mas Setyo aku melakukan ini, tolong bantu aku untuk menyelesaikan semua prosesi terakhirku bersamanya," kata Aini yang sebelum terbakar hangus.
"ayah tolong panggilkan lurah Setyo, karena hanya dia, aku dan Aryan yang akan bisa membantu semua prosesi terakhir dari Aini," kata Arkan mengejutkan semua orang.
"aku disini nak, mari kita bantu Aini, karena ini sudah sangat terlambat," kata pak Setyo.
"tapi anda berbeda agama tuan dan lagi kalian bertiga laki-laki," kata seorang ibu yang menghalangi ketiganya.
"apa anda mau melihat gadis baik ini terus seperti ini, di biarkan begitu saja, padahal dalam agama kita menyegerakan pemakaman itu hukumnya Sunnah," kata Wulan menegur wanita itu.
wanita itu pun malu dan mempersilahkan, Arkan, Aryan dan pak Setyo memakai sarung tangan bahkan memakai jaket dan sebisa mungkin tidak bersentuhan langsung.
"tunggu nak, jika bisa tolong bantu Aini untuk menutup mata dan mulutnya," tangis seorang wanita yang sudah sepuh.
"iya Mbah," jawab Arkan yang kini membisikkan sesuatu.
kemudian menutup mata dan mulut Aini dengan mudah, dan itu sungguh mengejutkan bagi yang melihatnya.
saat mengangkat tubuh Aini, Arkan menyembunyikan sesuatu di tangannya, dia tak ingin jenazah Aini menjadi gunjingan lagi.
dia terus menahan sakit di tangannya, tapi dia sebisa mungkin bersikap biasa.
"Amma tolong mandikan sahabat kami ini," mohon Arkan sambil menunjukkan sebuah kalajengking di tangannya.
"mas Raka!" panggil Wulan.
__ADS_1