
sedang di rumah arkan, pagi itu ratu dan Emily sudah datang membawa makanan.
kemarin Sekar dan Ratu batu pulng dari Mojokerto, mereka membawa oleh-oleh bandeng otak-otak dan bandeng presto.
jadilah pagi ini dua gadis itu harus mengantarkan oleh-oleh itu, terlebih Emily juga sudah membuatkan nugget untuk Arkan.
ratu sedang di belakang bersama Wulan, saat Emily masih di depan bersama dua saudara itu.
"ini ambil, ini janjiku, makan ya, semoga suka," kata Emily menyodorkan kotak susun itu
"sudah matang?" tanya Arkan.
"ya belum lah, di goreng dulu, kalau dimsumnya di kukus," jawab Emily.
"oke, aku lakukan," jawab Arkan yang langsung masuk kedalam rumah.
pemuda itu langsung membuka airfyer untuk memasak nugget, sedang dia langsung mengukus dimsum yang di maksud Emily.
"owalah ini toh yang dia buat pagi-pagi, tenyata kalian punya janji ini, so sweet..."
"kenapa cemburu ya, kasian deh," ledek Arkan pada saudaranya itu.
"Aryan ini bandengnya sudah di goreng, kata Amma kamu suka bandeng goreng dan sambal mentah, kebetulan aku tadi belajar buat sambil dari Amma," kata Ratu keluar dengan cobek plus lalapan dan ikan.
"wih... menantu dan istri idaman," kata Aryan melihat ratu.
"tadi di kotak terakhir itu ada nasi salmon saus menthai, aku sengaja minta ajari Tante Sekar siapa tau kamu suka," sahut Emily yang masuk bersama Raka.
"terus ini Amma masak percuma dong, kalau dua putra Amma sudah makan gini," kata Wulan pura-pura sedih.
"kan ada kami Amma, dan ayah Raka juga," sakit ratu.
"ya sudah ayo kita sarapan, dan Arkan mana nugget calon menantu, dan sambel juga sepertinya mengiurkan," kata Raka.
"kalau mereka calon menantu dari siapa saja, kasihan loh kalau sampai salah pilih," goda Wulan.
__ADS_1
"kami masih belum mau menikah!" teriak kedua putranya.
"iya iya... Amma cuma bercanda, sudah ayo makan," kata Wulan.
setelah makan, mereka pun duduk di teras sambil berbincang, tak di duga Dewi datang bersama orang tuanya.
tapi tujuan mereka ke rumah Rafa, karena orang tua Dewi memang bekerja untuk Rafa.
Dewi menghampiri semua orang, "assalamualaikum semuanya... maaf apa saya boleh ikut kumpul?"
"tentu Dewi, oh ya bawa apa tadi?" tanya ratu.
"oh itu, tadi bapak bawa sayur, kalian tumben masih pagi sudah disini?" tanya Dewi lembut
"kenapa iri bos, mereka mah kesayangan Amma kami," jawab Aryan.
"Aryan.... mereka hanya mengantar oleh-oleh, dan main. Dewi sekolah dimana?" tanya Wulan lembut.
"saya mondok di daerah Bulurejo Amma, saya ingin jadi manusia yang mengerti agama, setidaknya nanti aku bisa menjadi istri yang Sholehah," jawab Dewi tersenyum malu sambil melirik Arkan.
"sayangnya aku suka gadis yang nakal, jadi tak perlu kamu meriang dirimu, karena perubahan yang bukan karena Allah itu tak baik," kata arkan yang berdiri.
"memang Kenapa? kamu tak tahu jika jiwa kepedean ku memang tinggi, maklum keturunan, sudah tunggu disini kalian berdua, aku mau mandi dan ada beberapa buku yang harus kalian bawa nanti," kata Arkan yang pergi.
Dewi yang merasa tak di lihat oleh Arkan makin merasa cemburu, terlebih pria hanya melihat Emily dan Ratu.
"aduh Dewi maaf ya, Arkan lagi kambuh penyakit ngeselinnya, ya maklum kami kan satu sekolah, jadi buku pelajaran sama,"jelas Aryan.
"Dewi juga tau kali Aryan, gak usah di jelasin sedetail itu juga, dasar buaya darat," kata ratu.
"aduh panas ya dek, masuk yuk kita ngadem sambil ngaji," Raka yang menarik Wulan.
Wulan yang bingung dengan sikap suaminya heran, "ayah tumben sih?"
"bukan begitu, aku melihat aura kemarahan dari Dewi saat Arkan begitu perhatian pada Emily dan Ratu," jelas Raka.
__ADS_1
"tapi aku tak suka Dewi tuh, lagi pula Faraz yang menyukai gadis itu, dan aku lebih memilih saudaraku," jawab Arkan yang baru selesai mandi.
"Allahuakbar!" kaget Raka yang melihat putranya berdiri di belakangnya.
"dasar bocah tengik, bilang dong, bikin jantungan saja," kesal Raka.
"salah sendiri, mengendap-endap begitu, lagian aku hanya menganggap Dewi sebatas teman tak lebih," kata Arkan lagi.
"tapi gadis itu tidak tuh?"
"memang salah Arkan, hati orang dan perasaan orang tak ada yang bisa merubahnya. kecuali orang itu sendiri yang membolak-balikkannya," kata Arkan yang langsung pergi masuk kedalam kamarnya.
sedang di luar, Aryan seperti jadi penengah, jika tidak dia takut akan terjadi pertumpahan darah antara, ratu, Dewi dan Emily.
terlihat dari wajah ketus Dewi yang menatap Emily,padahal gadis itu nampak biasa.
Arkan keluar membawa dimsum yang tadi di bawakan oleh Emily, "wah... ini kamu yang buat Arkan?" kata Dewi semringah.
"Hem..."
"kamu temenin mereka ya,aku mau mandi, sudah bau tubuhku ini," kata Aryan yang pergi tapi sudah membawa dua somay bersamanya.
"Arkan kamu pintar masak ya, pasti enak kalau bisa di masakin setiap hari," kata Dewi memuji.
"tapi sayang, aku tak bisa dan tak ingin menjadi koki yang harus memasak untuk orang lain, aku memasak hanya untuk orang yang aku suka," jawab Arkan.
ratu pun hanya diam menikmati dimsum itu, dia tak menggubris ucapan nyeleneh dari Dewi.
"kenapa ucapan mu menjurus ke jenjang serius Dewi? sudah ingin menikah?" tanya Emily.
"memang gak boleh aku tanya Arkan begitu, kamu cemburu, siapa juga yang mau dengan gadis aneh seperti mu," kata Dewi kasar.
"Dewi!!! jaga bicaramu, bagaimana pun dia itu adik ku," marah ratu.
"memang ucapan ku salah, itu memang benar kan, dia itu gadis aneh,"
__ADS_1
"hentikan Dewi, aku tak suka mendengar ucapan mu yang menjelekkan Emily seperti itu," kesal Arkan.
"kamu jahat Arkan, kamu berani bicara seperti itu padaku, kamu Jahat!!!" kata Dewi.