
Aryan dan Arkan berdiri berhadapan mengapit Aris, yang masing kesakitan di ranjangnya.
Keduanya mulai membaca doa, Aris pun berteriak kesakitan karena tubuhnya serasa di cabik-cabik.
"Allahuakbar!!" kata Arkan dan Aryan bersamaan sambil menekan perut buncit Aris yang kemudian langsung kempis.
melihat sebuah tali terikat di jari kelingking Aris, Raka menariknya dan mengikuti tali itu.
tak terduga tali itu terhubung dengan sebuah pot tanaman. Raka pun langsung menendang pot itu hingga hancur.
ternyata ada bungkusan kain kafan berisi bangkai janin yang belum sempurna, dan ternyata tujuannya bukan hanya Aris tapi seluruh keluarga itu.
Niken pun kaget melihat sang ayah yang muntah darah, Niken ingin menghampiri Aris tapi Arkan menahannya.
"tunggu Niken,"
"ayah ..." tangis Niken.
Arkan mengambil air dan membantu Aris minum, sedang Aryan juga melakukan hal yang sama pada ibu dan adik-adik Niken.
tapi sebuah asap hitam kini mengepul terbang di atas Aris, asap itu ingin mengincar Niken.
tapi Arkan langsung mencekik mahluk berupa asap itu, "berhenti berfikir untuk melukainya," kata Arkan dengan suara membentak.
bahkan beberapa kaca pecah, Raka kaget mendengar kegaduhan di atas, Raka langsung membakar benda kiriman itu.
setelah itu Raka menyiramnya dengan air saat sudah terbakar habis. Niken masih di pelukan Arkan.
gadis itu tak mengerti apa yang terjadi, Arkan nampak begitu marah.
Aris perlahan sadar dan melihat sosok Arkan yang memeluk Niken, "Arkan...."
"ayah...." kata Niken yang melihat Aris yang sudah bangun.
Aryan juga sudah membantu ibu dan adik Niken untuk berkumpul di dalam kamar.
sedang Arkan masih melihat Aris dengan tatapan yang begitu marah, "kenapa om ..."
Aryan pun bingung dengan ucapan Arkan, "ada apa Arkan?" tanya aryan
"aku harus pergi, aku tak bisa melihat ini semua," kata Arkan yang terdengar marah.
mendengar ucapan Arkan, Niken bangkit dan menahan tangan Arkan, "tolong jangan marah, aku masih takut jika ayah Kenapa-kenapa lagi," tangis Niken.
"kenapa harus kamu, kenapa!" bentak Arkan.
pemuda itu langsung turun dan bertepatan dengan itu, Raka menahan putranya itu.
baru kali ini Raka melihat kondisi Putranya itu, Arkan sedang menangis dan ada kesedihan mendalam di mata pemuda itu.
"aku mau pulang ayah..."
"Aryan kalian pulang dulu, biarkan ayah yang di sini," Panggil Raka pada putranya yang lain.
"iya ayah," jawab Aryan uang langsung berlari turun.
Raka melihat keduanya pulang dengan membawa mobil, dia pun naik ke lantai atas dan ingin menanyakan sesuatu.
"sudah nak, kalian semua istirahat, ayu temani putri dan putra mu, biar aku yang menjaga Aris," kata Raka
"baiklah mas, kami permisi," kata ayu yang mengajak ketiga anaknya pergi.
"bagaimana Aris, rasanya kena santet, enak bukan," kata Raka yang duduk meledek pria itu.
"kamu gila, aku seperti merasakan tubuhku di cabik-cabik hewan buas," jawab Aris.
"setidaknya kamu sudah sadar bukan, perbuatan mu sendiri yang membuat mu begini," kata Raka.
"ya, aku memang salah Padanya, hingga dia berhak melakukan ini," terang Aris yang masih sangat lemah.
__ADS_1
sedang Niken tak tau apa yang di katakan akan tadi, kenapa pria itu begitu marah.
Aryan masih tak bisa membuka perbincangan, karena arkan yang begitu pendiam, bahkan dia melihat Arkan menghapus air matanya.
"ada apa ini? dia menangis, setelah selama ini?" batin Aryan tak percaya.
mobil mereka sampai di rumah pak Suyatno, ternyata di depan rumah itu, ada sosok yang ingin arkan lupakan saat ini.
"kalian baik-baik saja?" tanya Emily
"apa peduli mu, pergilah dari sini,terlebih kamu akan segera menikah," usir Arkan yang melewati Emily begitu saja.
dia bahkan tak melihat Emily sedikit pun, aryan pun tak tau jika mood Arkan sedang sangat buruk.
"maaf dia lagi dapet emang," kata Aryan yang tak enak hati
pasalnya Emily akan Segera menjadi istri dari ustadz Rasyid yang notabene juga salah satu murid terbaik di pondok milik keluarga ustadz Arifin.
"baiklah sekarang aku pergi ya," kata Emily yang pergi dengan motor miliknya.
Aryan pun segera mengikuti saudaranya itu ke kamar, ternyata Arkan sudah tengkurap di atas kasur.
"kamu kenapa? bahkan kamu tak pernah bicara sekasar itu pada Emily, tapi ini.... kamu berubah Arkan," kata aryan yang duduk di sebelah tubuh Arkan.
arkan tak menjawab apapun, dia susah tertidur pulas, Aryan pun memilih tidur karena sangat lelah sekali.
Raka tetap dalam posisi terduduk di samping Aris, sambil memegang tasbih di tangannya.
Arkan datang ke rumah Aris, tapi jali ini dia lewat alam ghaib karena dia sedang melakukan ngrogo Sukmo.
Raka sadar akan kedatangan Putranya, dia pun kembali melafalkan kalimat tasbih secara terus.
Arkan melihat ada sebuah akar pohon besar yang melilit rumah itu, dan di atas pohon itu ada sosok kuntilanak merah.
"kenapa kalian di sini, pergi dari rumah ini," kata Arkan yang terbang menghampiri kuntilanak itu.
ternyata itu Raka yang ingin berkomunikasi dengan putranya itu.
"Arkan bisa mendengar suara ku, jika iya kuntilanak itu adalah keturunan untuk melindungi keluarga ini, itu bukan masalahnya, cari sebuah akar pohon berwarna merah di antara semua akar pohon itu," perintah Raka melalui telepati.
"baik ayah," jawab Arkan.
dia pun turun ke area tanah, dan setelah mencarinya, Arkan berhasil menemukannya.
dia pun segera menuju ke area pusat akar itu, ternyata ada sebuah mahluk yang sedang memegang tali itu.
mahluk tinggi besar itu seperti sedang menghisap semua aura dari penghuni.
"mau apa kamu bocah kecil, setelah kau tadi membunuh putraku, sekarang aku akan membunuh gadis yang ada di rumah itu, ah... rasa gadis itu sangat nikmat asl kau tau," kata mahluk itu.
Arkan tanpa bicara melepaskan tombak Cokro Geni, dan langsung membunuh mahkluk-makhluk kiriman itu.
seorang pria terpental dan muntah darah, "aku ada apa?" tanya seorang perempuan.
"goblok, siapa yang bisa membunuh jin peliharaan ku yang paling sakti!!"teriak pria itu marah besar.
"apa!" kaget wanita yang msih duduk di sana.
karena marah ki Broto langsung mencekik wanita di depannya itu, "sebenarnya kamu itu bodohnya, kamu bilang mereka keluarga biasa, tapi peliharaan ku mati musnah di sana, ini kesalahan mu," kata pria itu.
"maafkan aku Ki, tapi yang aku katakan itu semuanya benar kok, mereka itu hanya keluarga biasa," jawab wanita itu.
Arkan hanya tertawa menyaksikan hal itu, Ki Broto sadar ada yang memperhatikan mereka.
"keluarlah pria busuk, tak aku kira aku kalah dengan bocah seperti mu," marah Ki Broto.
tapi sayang Arkan memilih duduk di atas tubuh Suni sambil melipat kakinya.
"ini hanya sebuah peringatan, berani kamu mengusik keluarga itu, maka semua bala tentara milikku akan menyerang mu, dan jika kamu berani membuat makhluk busuk mu menyentuh gadis itu juga, aku tak akan mengampuni kalian, ingat itu," ancam Arkan.
__ADS_1
dukun itu merasa marah, dia rugi besar kaki ini, dia sudah kehilangan anak buah miliknya, dan sekarang di ancam oleh anak kecil pula.
Arkan pun kendali ke rumah Aris, dia berjalan seperti biasa, Niken terbangun saat mendengar suara langkah kaki.
dia pun langsung berlari turun ke lantai dasar, Arkan berdiri di ruang tamu bersama dengan harimau putih di sampingnya.
Niken menghentikan langkahnya, tapi Arkan mengulurkan tangannya, Niken pun tak peduli lagi.
dia segera berlari memeluk Arkan, Arkan pun memeluknya erat, Arkan pun mencium leher Niken.
Raka yang menyaksikan itu dari lantai atas pun hanya bisa diam, dia tak berhak mencampuri segala urusan putranya.
Arkan mengambil sebuah ular parasit di punggung Niken dan membuat ulat itu terbakar di tangannya.
kini seorang pemuda kesakitan, pasalnya tubuhnya tiba-tiba melepuh seperti terkena luka bakar serius.
Arkan mencium kening Niken, "ingat Niken, jaga sholat mu dan selalu jaga wudhu mu juga, jangan lupa berdoa dan selalu ingat Allah ya," bisik Arkan.
Niken mengangguk, Arkan mengendong Niken kembali ke lantai atas.
Raka melemparkan sebuah batu kecil untuk membuat keduanya berpisah, Niken kembali ke tubuhnya.
gadis itu terbangun dan merasa mimpi tadi begitu nyata, sentuhan Arkan, dan juga ciuman pria itu sudah membuat Niken malu.
"ya Allah, bisakah aku menjadi jodoh arakan, pria yang begitu baik dan selalu melindungi ku, dan sekarang dia adalah penyelamat ayah," doa Niken dalam hati.
sedang Arkan sudah di beri kode untuk pulang oleh ayahnya.
...*************...
halo semuanya, sambil nunggu otor up, jangan lup mampir ke tempat temen otor ya...
Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.
Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.
"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.
"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.
"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.
"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.
"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.
"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"
"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."
"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya
"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi
"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.
"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."
"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.
Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.
Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.
"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."
__ADS_1