
Arkan pun duduk bersandar di kepala ranjang, Wulan sedang menyuapi Putranya itu.
Arkan tak mengerti kenapa bisa terjadi, baru kali ini dia sampai jatuh pingsan hanya karena melihat masa lalu seseorang.
"sebenarnya kalian itu melakukan apa? sampai kondisi Arkan begitu buruk?" tanya Raka tak habis pikir lagi.
"kamu hanya melatih kemampuan kami, tapi aku pulang duluan baru Arkan,apa yang kamu lakukan?" kesal Aryan.
"aku hanya berlatih, dan dapat pesan untuk tidak sombong dari eyang uti dan juga eyang prabu," jawab Arkan.
"tapi nak, kalau hanya pesan seperti itu, tak mungkin sampai kamu pingsan seperti tadi, soalnya kamu itu sangat kuat, bahkan di banding Aryan," kelas Wulan.
"ya Amma benar itu, apa jangan-jangan kamu melihat bayangan dosa yang baru di lakukan seseorang?" tebak Aryan.
"tidak, kamu ini ngomong apa, mungkin aku sudah terlalu lelah, ya maklum aku ini kan cuma manusia biasa," kata Arkan tersenyum.
setelah sholat isya', Rania dan Aditya melihat kondisi Arkan, malam ini mereka hanya tinggal berdua.
karena Adri dan Nurul menginap di rumah saudara mereka yang sedang ada hajatan.
bukannya mereka tidak mau ikut, tapi mereka akan menyusul besok pagi sambil membawa beberapa kue yang sudah di pesan Nurul.
"assalamualaikum.... mas Raka, katanya Arkan sakit? apa sudah baikan?" tanya Rania yang masuk dan memberikan beberapa oleh-oleh yang tadi di bawa Aditya dan teman-temannya.
"tau tuh tumben memang Arkan jatuh sakit, wah kalian ini kenapa bawa beginian segala sih," kata Raka.
"itu hanya cemilan untuk semua," jawab Aditya.
Rania dan Aditya masuk kedalam kamar Arkan, pemuda itu nampak santai sambil membaca buku kesukaannya.
"hei... katanya sakit, tapi kok masih bisa santai begini, jangan bilang kamu cuma pura-pura ya,"biaya Rania memukul bahu Arkan.
"ya kali mbak, orang pura-pura sampai kena infus begini, kamu kan dari kecil tau jika aku bisa melihat dosa yang baru saja di lakukan seseorang," kata Arkan melirik kearah Aditya.
__ADS_1
"ya aku dulu sering kena dulu, setelah mengambil buah tetangga, dan itu hanya dengan kamu menyentuh tangan ku," kata Rania tertawa.
Aditya makin kaget mendengarnya, dia heran memang ada orang yang bisa melihat hal semacam itu.
"benarkah? kamu bisa melihat perbuatan salah yang baru saja di lakukan orang itu," tanya Aditya gemetar.
"bener tau mas, dia itu seperti alat detektor," kata Rania santai.
"tapi aku tidak mengumbarnya, aku tau semua perbuatan pasti ada alasannya, dan biasanya jika satu kali masih ku maafkan, tapi jika lebih maka maaf.... aku biasanya akan langsung bertindak," kata Arkan.
"bagaimana bisa, kamu tak punya bukti kan?" tanya Aditya lagi.
"itu benar, makanya aku akan bertindak sesuai dengan keinginan ku sendiri hingga orang itu tobat, dan biasanya jika tau bagaimana ulahku pasti tak akan mau orang sampai menunggu hari itu," kata Arkan menyeringai.
"wah.... sepertinya kamu cukup menyenangkan ya Arkan, lain kali kita bisa bermain juga," kata Aditya ambigu.
"tentu mas Aditya, aku tunggu hari itu," jawab Arkan.
sedang Arkan harus istirahat terlebih kondisinya yang belum stabil. Raka pun memilih untuk tidur bersama putranya malam ini.
karena perasaannya mengatakan jika akan terjadi sesuatu, sedang Wulan tidur di temani Aryan yang tidur di lantai kamar.
itu sering terjadi jika salah satu dari mereka berdua sakit, saat tengah malam menjelang.
suara goresan kuku di tembok rumah terdengar lirih, Raka pun terpaksa ngrogo Sukmo untuk melihat apa yang terjadi.
dia melihat keluarganya sedang tidur nyenyak, di luar rumahnya ada seorang nenek-nenek bungkuk dengan mengunakan tongkat.
"mau apa kamu datang kesini?" tanya Raka.
'"aku mencium bau darah, aku ingin darah itu..." jawab nenek itu yang tak mau melihat Raka.
Raka pun tak jelas melihat wajah bebek tua itu, pasalnya wajahnya di tutupi rambut putih panjang.
__ADS_1
ternyata dia menuju ke area belakang rumah, yang lebih tepatnya itu adalah tempat sampah keluarga, di sana sudah banyak mahluk ghaib berkumpul.
mereka sedang berebut sedang menjilati darah haid yang ada di sebuah pembalut yang di buang begitu saja.
"hus..." usir nenek tua itu.
Raka heran melihat semua mahluk yang menyingkir, wajah nenek tua itu ternyata tak memiliki kulit,bahkan daging wajahnya terlihat jelas, lidah panjangnya menjulur panjang, bahkan gigi tajamnya berbaris di dalam mulutnya.
"innalilahi wa ilaihi Raji'un," lirih Raka dari kejauhan.
nenek itu menjilati pembalut yang ada darah haid itu, kemudian tubuh bungkuknya langsung berbunyi. krek ... krek dan menjadi pulih.
"nak kamu tak mau mencicipinya," tanya nenek itu pada Raka dengan senyum seringai yang begitu menakutkannya.
"tidak usah nek,saya pergi dulu," kata Raka panik.
dia tak ingin berlama-lama melihat menjijikkan itu berlangsung.
Raka kembali ke raganya, ternyata di sana sudah ada Suni yang tisurdi bawah kakinya.
Raka langsung kembali dan memanjatkan doa kepada Tuhan agar keluarganya di lindungi dari semua marabahaya.
Sesnag merubah wujudnya menjadi ular raksasa dan melingkarkan tubuhnya ke rumah Raka.
begitupun dengan Ki Adhiyaksa yang juga merubah tubuhnya menjadi raksasa.
para makhluk pun heran melihat hal itu, "kenapa rumah itu di lindungi?" tanya salah satu dari mereka.
"karena rumah itu memiliki semua pecahan dari mustika merah, dan tak mudah bisa menghadapi keluarga itu," jawab nenek bongkok yang sedang menjilati tangannya.
di rumah Siska merasakan perutnya begitu sakit, entahlah baru kali ini dia merasakan rasa sakit saat haid.
terlebih biasanya tak pernah terjadi, "Arg!!!!! sakit," teriaknya dengan wajah mulai pucat.
__ADS_1