
malam hari ini sedikit aneh karena tak ada satupun suara hewan malam, seperti suara jangkrik, kodok atau suara belalang kecek.
"ada apa le?" tanya pak Suyatno penasaran.
"hanya merasa aneh saja pak, malam ini tak ada satupun hewan malam berbunyi, dan tolong hati-hati pak, seluruh sawah ini ada aliran listrik yang cukup untuk membunuh kita," peringatan Raka yang menarik mertuanya yang hampir menginjak kabel kawat yang sengaja di letakan begitu saja.
Raka menerangi seluruh sawah dan menunjukkan jawab itu, pak Suyatno tak menyangka jika seluruh warga melakukan hal itu.
padahal setiap tahun ada orang yang mati karena tak sengaja menginjak, atau tanpa sadar mengenai jebakan itu.
pukul sebelas malam, angin bertiup dengan kencang, bahkan Raka tertawa merasakan angin itu.
Ki antaboga dan sen-sen bersiap untuk menyambut musuh mereka, ternyata benar rombongan tikus ghaib datang.
dan yang mengejutkan ada sosok siluman yang menjadi ketua rombongan.
"wah ternyata, susah ada yang menunggu kami, ada apa, apa kalian mau ikut menjadi anggota kami, atau mau menghalangi kami? jika pilihan pertama lebih baik pergi tinggalkan tempat ini, jika pilihan kedua kalin harus-"
kepala siluman itu terpenggal begitu saja, Raka sudah tak butuh berdialog jika harus mendengar ocehan atau ancaman yang memuakkan.
"jika kalian tak ingin bernasib sama, silahkan pergi, sebelum aku makin marah, pergi!!" teriak raja yang langsung bisa mengusir para hama itu.
pak Suyatno tak bisa melihat apapun, dan sebelum pergi, Raka menancapkan sebuah ranting pohon Bidara di galengan samping aliran air.
kemudian karena sudah terasa aman, mereka pun pulang, dan saat perjalanan pulang.
__ADS_1
Raka melihat rombongan hama tikus yang tadi di kirim menyerang sebuah rumah.
"siapa yang menabur, pasti akan menuai akibatnya," gumam Raka.
pak Suyatno pun menyapa para warga yang ronda, dan Raka bahkan sempat membelikan nasi goreng saat ada penjual yang lewat.
bapak-bapak pun merasa senang, meski tadi Wulan juga menyuruh Putranya mengirimkan makanan.
Raka tak mempermasalahkan hal itu, toh berbagi itu baik, setelah selesai mereka pun pamit pulang karena bukan jadwal mereka untuk ronda.
sedang di tempat lain, Al-Fath dan Abidzar sedang melatih ilmu beladiri mereka malam ini.
saat Al-Fath sedang serius melakukan gerakan ilmu beladiri, lewat dengan cepat sebuah bayangan hitam.
dia tau jika itu adalah seekor anjing yang mencari rumah untuk di curi uangnya.
"kak Al, kak Abi, ayo masuk mama sudah mengomel," panggil Ayana.
keduanya pun masuk dan meninggalkan hewan jadi-jadian itu, hewan itu sampai di rumah juragan Husni.
"sasaran empuk," kata penjaga lilin
"tapi jika kamu lihat nyatanya dari sudut pandang ku, kamu tentu tak akan mengira jika kita ini sama,"jawab anjing jadi-jadian itu.
Fahri baru pulang dari kampus karena ada jam malam, dan dia sampai rumah tak ada kejadian aneh-aneh seperti biasanya.
__ADS_1
ya meski dia rest pulang karena setelah kuliah keasikan ngobrol dengan teman-temannya.
dia dan beberapa temannya sudah sepakat untuk naik ke gunung gede saat kedua Keponakannya itu sudah selesai ujian.
dan mereka akan berangkat dengan begitu banyak orang, dari keluarga Raka saja empat orang, Fahri juga bersama enam lainnya.
Fahri juga akan menjadi pembimbing untuk kedua Keponakannya itu agar jadi pria yang tangguh.
keesokan harinya, Emily memutuskan untuk berangkat sendiri, karena dia ingin mendekati sosok dari Dewi.
terlebih gadis itu memiliki tatapan mata yang seperti menyembunyikan sesuatu yang besar, saat melihat kedekatan ratu dan Arkan.
Emily tak ingin jika ada seseorang yang akan mencelakai orang terdekatnya lagi, karena sekarang dia bisa mencegah hal itu terjadi.
Emily datang dengan membawa sepeda berwarna biru dan mengendong tas ransel yang cukup besar.
dia memarkirkan sepeda miliknya di samping sepeda milik Dewi, "apa aku boleh duduk disini?"
"silahkan saja," jawab Dewi tanpa melihat siapa yang duduk di sampingnya itu.
Emily hanya butuh menyentuh barang milik Dewi untuk tau kebiasaan gadis itu.
benar saja dia melihat Dewi yang selalu melihat Arkan diam-diam, "sejak kapan berteman dengan kak ratu? dan bisakah aku jadi teman kalian?"
"kami berteman dengannya sudah dari kelas satu, dan ratu adalah gadis yang baik, bahkan dia selalu memiliki sikap toleransi yang sangat baik, terlebih dia sering membelikan hadiah saat natal," jawab Dewi tersenyum.
__ADS_1
"apa pernah sekali membencinya?"
"tentu, di dalam pertemanan pasti akan ada hal itu, tapi aku selalu mencoba memperbaiki dengan meminta maaf terlebih dahulu jika itu perlu,"