
setelah pemakaman, Wulan memberikan uang santunan kepada keluarga Aini untuk acara tahlilan selama tujuh hari kedepan.
mereka sampai di rumah sudah sangat siang bahkan menjelang sore, Bu mut sudah menyiapkan makan siang, terlebih ini juga sudah jam tiga sore.
"ayo makan dulu, kalian pasti lapar," kata Bu mut.
"tidak mbah, sebentar lagi ashar, aku mau cemilan aja deh," jawab Aryan.
malam ini Raka dan Wulan akan mengantar Alfin yang akan kembali ke Jepang bersama keluarganya.
Alfin sudah cukup lama di desa, terlebih rindu juga sudah terobati, dan keluarganya juga berjanji akan mengunjunginya lain kali.
setelah sholat magrib Raka dan Wulan bersiap mengantar keluarga Alfin berangkat.
sebelum pergi Arkan menaruh sebuah tas di dasbor mobil yang biasa di bawa saat ingin pergi kemana saja.
"ayah, Amma nanti hati-hati ya, tolong jangan melakukan hal-hal aneh selama perjalanan ya, ingat Amma, jika tidak menurut, aku bisa melakukan hal yang tak terduga, dan kalian mungkin tak akan pernah mau melihatnya," kata Arkan mengancam.
"iya sayang, Amma mengerti," jawab Wulan tersenyum gemas.
Arkan dan Aryan pergi untuk mengikuti acara tahlilan Aini, acara berjalan dengan sangat baik.
setelah acara, Aryan dan Arkan pamit pulang, tapi kedua remaja itu memilih untuk makan bakso di pinggir jalan.
"bang bakso dia mangkok, makan di sini ya," kata Aryan memesan bakso.
tapi Arkan melihat dua punggawa yang bisanya menjaga mereka juga terlihat ingin.
"bang nambah dua mangkok dong," kata Arkan.
"iya mas," jawab penjual bakso.
Arkan meminta kedua mangkok itu di taruh sampingnya, pocong gosong dan Suni pun menikmati bakso itu.
"mau lagi dong," kata Suni pada Arkan.
"bang pesen empat mangkok lagi, dan tolong tambah bakso yang besar ini lagi ya," kata Aryan.
penjual bakso itu pun bingung melihat kedua remaja tanggung itu makan dengan lahap.
akhirnya mereka sudah membeli sebelas mangkok, Arkan juga membungkus untuk para orang di rumah, mereka pun membayar Bakso dan kemudian pulang bersama.
penjual bakso merasa begitu senang pasalnya baru kedua orang itu yang beli dan memborong cukup banyak.
__ADS_1
penjual itu berjalan dengan senang, "bang bakso," panggil seorang wanita
"iya neng," jawab penjual.
"bang baksonya lima ya, makan disini," kata wanita cantik itu.
"baik neng," jawab penjual bakso.
pria itu pun tak menaruh curiga, toh tadi ada dua remaja yang juga makan cukup banyak.
wanita itu seperti nampak santai tanpa terganggu dengan bakso yang sangat panas.
bahkan lima mangkok bakso itu habis dalam hitungan menit, "lima lagi bang,"
"siap neng," jawab pedagang bakso itu.
sudah puas dan merasa kenyang, dia pun sudah bisa pulang dengan santai sekarang, "jadi semuanya berapa pak?"
"sepuluh kali tujuh ribu neng, jadi tujuh puluh ribu neng," kata pria itu tersenyum.
"ini bang, kembaliannya ambil, uh... puas bisa makan bakso," kata gadis itu memberikan uang seratus ribu.
"terima kasih neng, ya Allah rejeki hari ini sungguh banyak, terima kasih ya Allah ..." kata pedagang itu.
dia pun kembali berkeliling lagi, sedang di rumah arkn kaget melihat geng Fahri lagi.
"ya elah om, kenapa ngumpul lagi, cukup kejadian semalam ya, Mbah aku bawa bakso!" teriak Aryan yang langsung masuk.
"Aryan jangn berteriak-teriak, ini malam," kata arkn yang juga masuk begitu saja.
"eh... memang ada kejadian apa setelah kami pergi?" tanya Gadis penasaran.
"memang apa lagi, yang pasti aku kena ceramah habis-habisan, oh ya tapi itu tak masalah, sekarang aku jdi pingin mkan bakso nih," kata Fahri.
"dasar doyan mkan, tapi lihat tubuh mu tetap bagus, sedang kami ikut kamu makan banyak, bisa buncit nih perut dan pasti cewek-cewek hak bakal suka," gerutu Randi menunjuk perutnya.
"makanya itu olahraga, aku saja suka naik gunung dan juga nge-gym," jawab Fahri yang berdiri dan menuju ke pinggir jalan.
"dia mau ngapain?" tanya Gadis.
"paling juga mau cari pedagang bakso, disini itu enak tau kalau paper tinggal nongkrong di depan rumah, lewat sendiri tuh pedagang," kata Fero yang memang pernah menginap sekali.
benar saja, Fahri melambai pada seorang penjual nasi goreng yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"lihat kan, woi katanya pingin bakso tapi malah menghentikan pedagang nasi goreng," kata Randi tertawa.
"sama saja, yang penting kenyang, pesan gih, biar aku tanya yang ada di dalem," kata Fahri.
"bang nasi goreng empat ya, yang satu pedes pakek ekstra, jika cabe kurang tuh tinggal petik ya," pesan gadis.
"baik neng ..."
"Bang nambah empat ya nasi gorengnya," kata Fahri yang baru keluar.
kini giliran para penjaga milik Aryan yang ingin merasakan nasi goreng, jadilah Keduanya keluar.
nyai Ageng tri mustika dan Sesnag sudah duduk di pangkuan Aryan dalam bentuk ular.
ternyata bungkusan tas itu adalah mustika dari Ki Adhiyaksa yang sengaja di taruh oleh Arkan untuk memantau mobil orang tuanya.
sebenarnya Raka dan Wulan sadar apa yang di lakukan oleh Putranya, tapi mereka tau jika Arkan hanya takut kejadian lama terulang.
setelah mengantar mereka ke bandara,mereka memutuskan untuk membeli oleh-oleh dan juga bandeng presto kesukaan putra mereka.
"mau bulan madu juga?" tawaran Raka
"tidak, aku tak siap untuk kehilangan lagi, oh ya besok mending kita kembali ke rumah,aku sudah baik-baik saja kok," kata Wulan tersenyum.
"baiklah Amma, apapun yang kamu inginkan," jawab Raka yang mencium tangan Wulan.
mobil mereka pun kini menuju ke arah Jombang, Ki Adhiyaksa duduk di kursi belakang untuk menjaga keduanya.
di rumah, semua sedang asik makan, tak butuh waktu lama untuk nasi goreng dua piring habis di lahap oleh dua siluman ular itu.
"kami juga mau," kata Ki Antaboga yang merubah wujudnya dan kini di pangkuan Arkan.
akhirnya empat piring pun habis dalam hitungan menit. dan Randi kaget melihat empat piring itu bersih.
"kalian itu persis Fahri ya, kalau makan banyak, beh... bisa tekor jika datang ke kawinan, yang punya hajat maksudnya, ha-ha-ha," ledek pria itu.
"ya gak papa dong, yang penting bawa amplop dan bukan uang dua ribu, bener gak om," kata Aryan.
"uhuk.. uhuk.. uhuk..." Fahri tersedak mendengar ucapan dari Keponakannya itu.
dia pun hanya bisa tertawa malu, pasalnya beberapa kali dia melakukannya karena mendatangai acara mantannya.
dan yang paling menyebalkan yang biasanya yang jadi korban adalah Rania karena gadis itu memang bisa di ajak kondangan.
__ADS_1