
setelah buka puasa, ratu dan Sekar pamit pulang, sedang Emily tetap tinggal untuk ikut tarawih bersama.
"baiklah aku pulang dulu, titip gadis kecil ini ya, dan nanti jika mengantarnya pulang tolong jangan biarkan Arkan saja, minta Raka juga mengantarnya, karena aku ingin membahas sesuatu nanti," kata Sekar.
"baiklah aku mengerti, hati-hati kalian berdua," salam Wulan yang berpelukan dengan Sekar.
sambil menunggu adzan isya', Wulan mengajak Emily untuk memilih beberapa jilbab miliknya.
"Emily pilih jilbab yang kamu suka ya, kamu boleh ambil, tapi kalau ukuran baju sepertinya akan sangat kebesaran untuk mu," kata Wulan.
"aku ada beberapa baju yang kekecilan untukku, kamu bisa memakainya untuk belajar, semoga kamu mau ya," kata Rania yang datang membawa beberapa atasan panjang dan gamis.
"terima kasih kak Rania, dan Amma..."
Wulan juga memberikan mukena dan sajadah untuk hadiah, tak lupa tasbih dari kayu stigi juga.
Emily tak mengira jika keluarga Arkan akan seantusias ini, bahkan Jasmin juga memberikan banyak baju yang masih bagus untuknya.
mereka kini menuju ke mushola untuk melaksanakan sholat isya' dan di lanjutkan dengan sholat tarawih.
"baiklah, sekarang Arkan akan menjadi imam selama tiga hari mengantikan pakdenya, sanggup nak?" kata Rafa.
"insyaallah sanggup pakde," jawab Arkan.
Rafa pun tersenyum, seharusnya Faraz, tapi putranya itu sudah memilih mondok di salah satu pesantren terbaik di Jawa timur.
Arkan pun menjadi imam untuk pertama kalinya, dan bacaannya begitu merdu.
__ADS_1
bahkan sholat tarawih pun di laksanakan dengan tanpa kendala, dan semua orang tak menyangka Raka begitu berhasil mendidik putra-putranya.
setelah sholat, Rafa membagikan selebaran jadwal imam, Bilal, dan juga shodaqoh cemilan.
semua pun setuju, ternyata nama Arkan dan Aryan menjadi jajaran imam.
"ih ayah kok gak bilang sih, kan aku belum sepenuhnya hapal urutan bacaan dari suratnya," kata Aryan yang merasa di tipu.
"tenang, aku yang akan menjadi Bilal saat kamu menjadi imam, dan ayah akan ada di belakang mu, jadi kamu tak perlu khawatir, nanti biar aku yang menghitung jumlah rakaatnya." kata Arkan menenangkan saudaranya itu.
"baiklah kalau kamu bilang begitu, aku siap, insyaallah..." jawab Aryan yakin.
Arkan dan Raka tertawa, pasalnya meski pria itu sering bersikap kekanak-kanakan tapi Aryan tak kalah dari Arkan.
"Alhamdulillah, tahun ini para imam muda mulai banyak, tapi sayangnya ustadz Rasyid tidak ada, terus ini di gantikan siapa?" tanya salah seorang bapak.
"Alhamdulillah, baiklah kalau begitu, semua sudah di putuskan, sekarang mari kita pulang," ajak warga.
tanpa di ketahui Rania dan siapapun, Aditya sudah mulai menghapus tato yang dimiliknya.
perlahan tato itu hilang dalam dua kali kunjungan, karena Aditya tak ingin mengecewakan istrinya itu.
saat pulang, Rania sedang di dapur membuatkan susu kurma, dan masuk tak sengaja melihat tubuh Aditya yang tengah bertelanjang dada.
"maaf mas..." kaget Rania Yang langsung menutup mata.
"kenapa di situ, kemarilah ini juga milik mu, dan kamu tak ingin melihat tato ku?" tawar Aditya.
__ADS_1
Rania pun menundukkan kepalanya sambil membuka mata, Aditya mengangkat wajah Rania.
"lihat suamimu yang tak sempurna ini dek, jangan terus menunduk," kata Aditya lembut.
"maaf mas aku belum terbiasa," jawab Rania gemetar.
Rania pun kaget karena tak ada tato tapi hanya ada bekas tato di tubuh suaminya.
"mas tato mu?" kaget Rania yang reflek langsung menyentuh bekas itu.
"aku menghapusnya, saat aku pergi tanpa dirimu waktu itu, dan rasa sakit yang ku rasakan tak sebanding dengan rasa kecewa mu sat melihat tato itu mungkin, jadi aku berinisiatif menghapusnya," jawab Aditya.
"pasti sangat sakit," gumam Rania menyentuh kulit yang bekas melepuh itu.
"tidak dek, aku tak merasa sakit selama aku terus bisa melihat mu tersenyum, kamu dan Rasyid adalah sumber kehidupan ku, dan juga kelemahan ku," jawab Aditya.
Rania pun menangis mendengar ucapan suaminya, dia pun sadar betul jika Aditya begitu melindungi dirinya.
bahkan pria itu bisa bertahan tak menyentuh Rania, selama Rania belum siap.
"jangan menangis," kata Aditya memeluk Rania.
Rania pun merasa begitu nyaman, pasalnya tubuh hangat suaminya dan aroma maskulin tercium Indra penciuman.
tapi saat memeluk tubuh Aditya, Rania meras ada bekas luka di punggung, "jangan di raba terus dek, itu bekas aku yang berjuang untuk membesarkan adikku, kami sempat tinggal di jalanan, dan luka itu tak bisa melukaiku,"
"pasti mas sangat tersiksa dulu, sekarang mas tak boleh menyimpannya sendiri, dan harus membagi semua yang di rasakan dengan ku," kata Rania melihat wajah Aditya.
__ADS_1
"baiklah nyonya, aku mengerti," jawab Aditya tersenyum dan mencium kening Rania.