Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kamu Kenapa seperti ini


__ADS_3

Rafa pun masuk kedalam rumah saat keempat pria itu pergi, dan segera berganti baju, "ayah yakin mau pergi? aku boleh ikut?" tanya Faraz.


"baiklah jika kamu ingin ikut, tapi mungkin kita akan puasa tanpa sahur," kata Rafa menginggatkan putranya itu.


"tebtu saja, aku sudah terbiasa," jawab Faraz.


saat keduanya ingin pergi, Aryan dan Arkan keluar dari rumah, dan menghampiri ayah dan anak itu.


"kami juga boleh ikut, setidaknya nanti kami bisa membantu mu pakde," tanya Arkan.


"baiklah, ayo pergi bersama," kata Rafa mengajak kedua keponakannya.


mereka pun menuju ke rumah Dewi mengunakan motor, Arkan dan Aryan tak ingin menganggu istirahat orang tuanya.


itulah kenapa sekarang mereka yang ikut ke tempat pemusnahan untuk melihat separah apa yang terjadi.


baru juga sampai di gapura desa, Aryan menyembunyikan wajahnya di bahu Arkan.


"ada apa sih? kamu jangan mulai ya," kesal arkan.


"diamlah, aku habis melihat sesuatu yang menyeramkan, dia menyeringai ke arah ku," jawab Aryan.


"pelototin balik," kesal Arkan yang melempar garam ke segala arah begitu saja.


sesampainya di rumah Dewi, Rafa langsung bergegas masuk kedalam rumah yang di kelilingi oleh pohon beluntas sebagai pagar.


"aduh, baru kali ini aku melihat rumah ini begitu seram meski banyak orang," gumam Aryan.


"diamlah bung, kamu bisa membuat marah semua orang," ketus Arkan.


"mari pak Rafa, dan Semuanya," sapa pak RT.


mereka pun masuk dan kaget melihat jenazah dari Mbah idon, dan Rafa berusaha untuk meluruskan tubuh pria itu.


"emang bisa?" tanya Faraz.

__ADS_1


"ssttss..." kata Arkan dan Aryan menginggatkan.


"dari pada kalian berdua diam disana, mending bantu deh," kata Rafa pada kedua keponakannya.


"maaf pakde, apa pakde gak sadar ada berapa arwah yang menindih tubuh pria itu, selama jasad mereka tak di temukan, jangan minta tubuh mbak idon bisa di luruskan,"kata Aryan.


"kelamaan, kira bisa mencarinya nanti, pakde minggir dong ..." kata Arkan.


pemuda itu langsung melempar garam dan air yang sudah di doakan, tanpa di duga tubuh pria sepuh itu perlahan melunak tapi meninggalkan bekas luka.


"Arkan kenapa diam dari tadi sih, bantuin Napa, ya sudah sekarang tolong mulai untuk menunaikan semua kewajiban untuk penghormatan kepada jenazah," kata Rafa.


"baik pak Rafa," jawab semua orang.


"tunggu dulu pak, tolong buatkan tempat pemandian menghadap ke Utara, dan buat alas dengan debong pisang tiga buah, dan biarkan air mengalir ke tanah, dan besok bekas air itu akan menunjukkan dimana semua korban di kubur," kata Arkan yang kini melangkah pergi.


tak terduga, Dewi keluar dan menarik baju Arkan, dia pun menghentikan langkahnya.


"jangan membuat ku marah kali ini Dewi, cukup setelah apa yang kamu lakukan, ini semua adalah santet yang kamu kirim melalui Faraz, jadi maaf aku tak pernah mengenal wanita yang memakai ilmu hitam, Aryan ayo pulang urusan kita sudah selesai, permisi," kata Arkan menarik jaketnya dan pergi bersama Aryan.


dewi pun terduduk di tanah, "seandainya kamu lebih bersabar dan terus berdoa, pasti Allah akan meluluhkan hati Arkan untuk mu, tapi pilihan mu salah, dan maaf aku juga kecewa dengan mu karena ingin melukai sosok Emily yang bahkan tak salah apa-apa, kamu keterlaluan Dewi, sangat keterlaluan," kata Faraz yang pergi bersama sang ayah.


"iya ayah, amiin... dan aku sekarang akan menurut apapun perintah ayah, sebagai permintaan maaf karena kelakuan ku dulu," jawab Faraz.


mereka pun mulai memandikan dan mengubur jenazah pria itu secara langsung karena ini perintah Rafa.


sedang di rumah pengantin baru, Aditya terbangun pukul satu malam dan berjalan keluar rumah.


doa mengunakan pintu belakang agar tak ada orang yang sadar, dan kini waktunya hanya tiga jam untuk melakukan semua kegiatan gilanya.


Aditya mengendarai motor sports miliknya yang di tempatkan di gudang khusus.


dia menyusuri jalanan desa yang rawan dengan begal, benar saja baru juga masuk ke area tuwangan sawah.


Aditya sudah di berhentikan oleh tiga pria yang memberhentikan dirinya dengan acungan senjata tajam.

__ADS_1


"turun bro, serahkanlah semua barang yang kami bawa, dan pergi dari sini jika tak ingin nyawa mu melayang dan mati, hahahaha," kata para begal itu.


Aditya menyeringai, "kalian yakin jika bisa membunuhku, aku yang akan melakukan itu jika perlu, kaena sampah masyarakat yang tak pernah bisa di bereskan oleh pihak berwajib sepertinya," kata Aditya menyeringai.


"banyak bacot," kata preman itu yang menyerang Aditya.


tapi dengan tenang, Aditya langsung memotong tangan pria itu dengan mudah.


dan kemudian menggoroknya, "kalian mau juga, kebetulan aku sudah lama tak membunuh orang," kaya Aditya turun dari motornya.


tanpa ba-bi-bu mereka bertiga pun berkelahi, dan Aditya menang setelah membunuh dua dari tiga begal itu.


dan pria yang di biarkan selamat di buat cacat seumur hidup, "sekarang bilang pada semua teman mu, jika masih berani membegal orang, aku akan pastikan mereka semua berakhir seperti kedua teman mu, dan ingat ini bayangan ku akan mengikuti mu, ingat itu," kata Aditya yang pergi setelah memotong tangan pria itu yang membuatnya berteriak kesakitan.


bahkan Aditya tak segan memotong dua kaki dan satu tangan pria itu, entah bisa selamat atau tidak, Aditya tak peduli sedikitpun.


sedang di rumah Emily terbangun pukul tiga dini hari dan mulai memasak.


dia mencoba menelpon Arkan dan langsung di angkat oleh pemuda itu.


"assalamualaikum... apa sudah bangun untuk sahur?" tanya Emily.


"waalaikum salam... aku bahkan belum tidur, ini lagi beli sate dengan Aryan," jawab Arkan yang duduk di jok belakang motor.


"eh... memang ada penjual sate yang buka jam segini?" bingung Emily yang melihat jam tiga dini hari.


"tebtu ada, khusus untuk hami karena itu langganan ayah, he-he-he," jawab Arkan tertawa.


"dasar, memang kalian dari mana jam segini belum tidur, jangan bilang Kalian berurusan dengan mahluk ghaib lagi," kata Emily tersenyum.


"kayak kamu tidak saja, sudah ya ini sudah sampai rumah mau bangunin ayah dan Amma," pamit Arkan.


"baiklah Arkan, semoga sahur keluarga kalian menyenangkan," kata Emily mematikan telponnya.


dia pun fokus pada masakannya yang memilih membuat nasi goreng dan beberapa ayam untuk makan karena dia butuh tenaga untuk besok yang masih harus semangat ke sekolah.

__ADS_1


sedang untuk dua pemuda itu sudah mendapatkan sebuah tatapan tajam dari ayah keduanya.


"kalian berdua dari mana?" tanya Raka dingin.


__ADS_2