Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
kejujuran Rania.


__ADS_3

sehabis magrib, Rania bingung melihat semua orang berkumpul, bahkan keluarga Rizal juga.


"ini ada apa sih Amma, kok pada ngumpul semua, terus kenapa aku harus ganti baju juga?" tanya Rania.


"ada tamu spesial, oh ya kamu lupa jika om mu bisa baca dan lihat masa yang telah terjadi," bisik Wulan pada Rania.


"hah... berarti om Raka sudah tau tentang sumpah ku," kata Rania lirih.


Wulan mengangguk dan menyentuh wajah cantik Rania, "insyaallah dia pria baik dek, karena semua sudah memasukannya, meski dia tak memiliki orang tua, itu tak jadi masalah kan Rania?"


"tidak amma, tapi apa dia mau dengan wanita seperti ku, terlebih itu juga sumpah yang ku ucapkan secara panik, tapi aku akan menepati janjiku itu," terang Rania.


"iya sayang Amma ..."


Nuril pun melihat itu, "aduh... kok bunda cemburu ya, Rania lebih nyaman sama Amma di banding bunda,"


"kok bunda ngomong gitu sih, gak loh bunda, aku hanya bicara dengan Amma saja, dan untuk jadi ibu idaman tetap bunda yang paling utama," kata Rania memeluk tubuh Nurul.


"ya Allah aku belum siap melepas mu nak, terlebih baru kemarin rasanya kamu gadis kecil yang terus mengandeng tangan bunda," tangis Nurul.


"ih kok bunda nangis ..." kata Rania yang terbawa emosi juga.


habis Magrib sepeda motor sports datang, ternyata benar itu Adit yang datang dengan kemeja berwarna gelap.


"assalamualaikum ..." salam Adit dengan sopan.


"waalaikum salam... mari masuk nak," ajak Adri.


Arkan, Aryan langsung mencium tangan Adit, pasalnya pria itu tetap guru mereka.


para pria duduk di ruang tamu, sedang para wanita duduk di ruang tengah.


Adit merasa nervous karena bertemu dengan begitu banyak orang, tak lama ada ustadz Arifin juga datang.

__ADS_1


"assalamualaikum..." suara pria itu.


"waalaikum salam, mari masuk ustadz, Masyaallah... sudah di tungguin dari tadi," kata Raka bersalaman dengan pria itu.


"loh mas Aditya, di sini juga?" kaget ustadz Arifin yang juga bersalaman dengan Adit.


"iya ustadz, dapat undangan khusus," jawab Adit tersenyum.


ustadz Arifin pun ikut duduk di sebelah Rizal, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," suara Adri membuka pembicaraan.


"waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang.


"pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur atas nikmat Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk berkumpul dalam musyawarah keluarga kali ini, yang kedua sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada nabi Muhammad Saw, yang telah membimbing kita dari zaman gelap dengan cahayanya menuju ke zaman yang terang benderang dengan agama Islam, saya mengaturkan hormat pada Abang saya Rizal yang telah mengizinkan saya untuk memimpin pembicaraan kali ini," kata Adri sedikit menarik nafas.


Rafa menepuk punggung Adri yang nampak tak kuat mengatakan hal yang dia pikirkan.


"sebenarnya tujuan untuk mengumpulkan semua orang di sini, saya selaku ayah dari Rania, sudah mengetahui jika putri saya sempat bersumpah dan berjanji saat dia dalam bahaya, dan malam ini saya ingin membantunya untuk mewujudkan janji itu," kata Adri


"mohon maaf menyela om, kalau boleh tau janji apa?" tanya ustadz Arifin.


"Allahuakbar ...." lirih ustadz Arifin.


"ada apa tad?" tanya Raka yang di jawab gelengan oleh ustadz Arifin.


"maaf menyela pembicaraan, sebenarnya niatan saya menolong itu murni dan ikhlas, jadi nona tak perlu menepati janji itu saya ikhlas, terlebih mungkin nona bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dalam agama, pendidikan dan juga pangkat dari saya, karena saya bukan pria yang sempurna dan saya hanya pria yang buruk," kata Adit membuat semua orang diam.


"tidak semudah itu mas Adit, Rania sudah membuat janji dan ingin menepatinya, jika mas Adit tak menerima janji itu, maka akan ada pertanggungjawaban di akhirat nanti," kata ustadz Arifin.


"bukan maksud saya menolak, tapi saya hanya kebetulan lewat, dan tak benar menghancurkan masa depan gadis hanya karena janji," jawab Adit menunduk.


"saya sebagai Amma Rania, memohon pada anda tuan, agar tak menolak putri kami, mungkin ini jodoh dari Allah, jika bukan kenapa kalian di persatukan dalam keadaan seperti ini," kata Wulan


Adit terdiam, dia melihat Adri yang juga menunjukkan raut wajah sedih saat mendengar penolakannya.

__ADS_1


"kalau begitu saya ingin bertanya satu hal pada anda nona, tolong jawab dengan jujur, aku tak ingin nantinya rumah tangga ini terusik di masa depan jika terjadi, apa anda mencintai pria di hati anda, karena aku tak bisa menikahi wanita yang menaruh hati pada pria lain?"


deg- jantung Rania seakan berhenti, pertanyaan itu seakan pas pada dirinya, dia pun menutup mata dan menarik nafas dalam-dalam.


"bismillahirrahmanirrahim .... saya tak pernah mencintai pria lain selain keluarga saya, kalau mengagumi ada pria yang saya kagumi, tapi hanya sebatas itu ..."


semua pun kaget mendengar ungkapan Rania, tapi Adit tersenyum, "nona kamu tau rasa kekaguman dan cinta itu tipis, apa kaku yakin akan perbedaaan itu?" tanya Adit lagi.


"insyaallah, saya yakin, karena saya akan mencintai suami saya, pria yang mengucapkan ijab qobul di depan wali nikah saya," jawab Rania.


Adit pun tersenyum, "insyaallah, saya menerima untuk pernikahan ini," jawab Adit.


"Alhamdulillah ...." jawab semua orang.


Arkan melihat Aira dari Adit yang sekarang begitu biru cerah, bahkan wajah guru yang biasa di kenal dengan sebutan killer oleh kakak kelas.


kini tersenyum dan mendapatkan ucapan selamat dari semua keluarga, ustadz Arifin pun juga hanya bisa memberikan selamat.


dia tak tau jodoh, maut, rezeki karena sudah ada bagiannya masing-masing, seperti halnya cinta yang pasti akan berlabuh pada orang yang sudah menjadi takdirnya.


"maaf pak, boleh minta tolong untuk Amma dari nona memakaikan ini, ini adalah cincin peninggalan ibu saya, sekarang dia sudah menemukan pemiliknya," kata Adit memberikan cincin bermata biru itu pada Rafa.


Rafa pun memberikannya pada Nurul yang sudah di anggap ibu oleh Rania, Nurul memakaikan cincin itu di hari manis Rania.


"Alhamdulillah... ukurannya pas," jawab Nurul yang langsung memeluk putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa.


"baiklah, pernikahan kalian akan di lakukan sebelum puasa, setelah bakda isya' Sabtu depan, datang bawa keluarga terdekat mu ya mas Adit, kita adakan pernikahan sederhana untuk resepsi kita bisa adakan setelah lebaran, apa anda keberatan?" tanya Raka.


"tidak mas, dan saya akan mendukung semua kegiatan istri saya nantinya," jawab Adit.


akhirnya acara pun di akhiri dengan sesi berbincang dan makan bersama, bahkan Adri sudah merancang pernikahan untuk putrinya Rania.


bahkan Rafa juga sudah menghubungi Fandi dan juga Anis, mereka akan pulang dua hari sebelum pernikahan Rania di laksanakan.

__ADS_1


Rania tak mengira dia akan memiliki suami yang menyelamatkan dirinya, bahkan pria yang tak segan mengorbankan dirinya demi orang lain.


terlebih Adit juga seorang guru dan juga kepala sekolah yang mempunyai reputasi sangat di hormati di sekolah.


__ADS_2