Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
desa hantu


__ADS_3

lima orang itu kaget bukan main, Emily bahkan tak mengira jika ada sisi begitu gelap di desa tempat om-nya yang menjabat menjadi kepala desa.


"apa ini hebat desa yang aku tinggali?" tanya Emily tak percaya.


"ya, ini sisi lain desa ini, jadi jangan terkejut, ayo masuk kedalam dan dari sini kamu tau siapa orang yang mencari pesugihan," ajak Arkan.


mereka semua mulai berjalan masuk, Emily berjajar dengan Aryan dan Arkan.


sedang di belakang ada Randi, Gadis, Fahri dan Fero, keduanya berjalan berjajar dua pasang.


Emily tersenyum dan ingin mengeluarkan rantai miliknya tapi Arkan menahannya.


"jangan berulah, kamu bisa membahayakan hidup kita jika berulah," Emily mengangguk dan mengikuti ucapan Arkan.


gadis kaget melihat tangan Emily yang mengeluarkan rantai dan menariknya lagi.


"aku seakan melihat tiga pemburu makhluk, mereka bahkan memiliki senjata sendiri-sendiri begitu, wow mengagumkan," kata Gadis.


"berhenti seperti orang bodoh,kamu sudah tau dari awal," cibir Fahri.


"tapi tidak mengira jika sekuat ini, padahal mereka hanya bocah," kata Gadis tersenyum kearah Fahri.


mereka menyusuri jalan desa yang cukup sepi, meski banyak arwah berkeliaran.


tapi mereka seakan tak terlihat, terlebih mereka sudah di lindungi secara tidak langsung.


saat sedang berjalan dengan santai, tiba-tiba ada cahaya merah melesat dengan cepat, Fero dan yang lain kaget melihat cahaya itu, tapi tidak dengan Arkan dan Aryan.


"eh cahaya apa itu," kaget Fero.


"teluh atau santet," jawab Arkan.


"maksudnya?" bingung Randi.


"itu adalah barang yang di kirim oleh seorang dukun untuk menyakiti orang yang di tuju, karena dendam seseorang," jelas Aryan.


"kamu bisa melihat isi santet itu Gadis?" tanya Fero penasaran.


"jangan pernah lakukan itu jika tak ingin mati, karena rasa penasaran itu bisa membunuh," kata Emily menatap Fero tajam.


"maaf tak jadi," kata pria itu ketakutan.


Fahri melihat rumah warga, dia melihat beberapa rumah penuh lumut, ada yang di tutupi kain hitam sepenuhnya.


bahkan ada rumah yang di kelilingi oleh pocong, Arkan tersenyum tersenyum sekilas terlebih Fahri sepertinya sudah tak sanggup lagi.

__ADS_1


"om, jika kamu takut, ku pastikan mereka akan mendekati mu, dan ingat pesan ayah, jangan melamun," kata Arkan menginggatkan.


"iya, maaf aku sedikit terdistraksi dengan rumah penuh pocong tadi," jawab Fahri.


"sudah ayo kita lanjutkan, karena kita belum menemukan incaran kami," ajak Emily.


"sebenarnya ini anak-anak tangung nyariin apa sih?" tanya Randi berbisik pada Fahri.


"aku juga tak tau, dan ide Gadis yang membuat kita terjebak seperti ini," jawab Fahri.


Gadis langsung menoleh dan menatap tajam kearah kedua temannya itu yang kini tersenyum seperti orang gila.


"tutup mulut kalian, atau perlu among ku yang melakukannya," kesal Gadis.


kedua pria itu mengeleng tak mau, pasalnya di kampus mereka pernah ada pria yang tiba-tiba kecelakaan setelah gadis marah padanya.


gadis mengatakan jika itu amongnya yang selalu melindungi dirinya, jadi kini tak sembarang pria berani mendekati wanita itu.


mereka sampai di depan pos ronda, tapi anehnya mereka tidak di halangi atau di tegur karena berkeliaran saat malam hari.


Arkan dan Aryan terus berjalan hingga tepat berhenti di sebuah rumah yang memiliki cahaya yang begitu redup.


Arkan penasaran dan ingin memasuki rumah itu, tapi sesuatu menghalangi dirinya.


"tidak bisa, mereka sudah di takdirkan, dan kamu tak boleh mengganggu takdir itu," suara yang terdengar di telinga Arkan.


"maaf, aku akan fokus," Arkan ingin berbalik tapi malah melihat sesuatu yang menyeringai dengan gigi tajam di depan wajahnya.


bahkan gigi tajam itu begitu terlihat nyata, Arkan tak terkejut dan dia bersikap biasa.


makhluk itu melewati Arkan begitu saja, mahluk berbentuk setengah ular dan setengah manusia.


dengan rambut panjang sampai ke tanah, dan kuku panjang yang siap merobek apapun.


"apa itu takdir, dia yang ingin mengambil nyawa itu," gumam Arkan tak berdaya.


"karena dia yang sudah mengadaikan jiwanya, dan saat dia tak bisa memberikan tumbal maka dia yang akan jadi tumbalnya," jawab suara itu.


Arkan pun langsung kembali ke barisan tanpa mengatakan apapun, semua masih tak percaya jika Arkan masih bisa bersikap biasa-biasa saja.


"gila keponakan mu gokil abis, itu tadi makhluk serem banget, terlebih bentuknya yang ya Allah ...."


tercium aroma pandan yang sangat pekat, tapi samar juga tercium bau busuk.


Randi pun merasa tubuhnya tiba-tiba lemas, meski dia tak ingat makhluk yang sedang di lihatnya.

__ADS_1


dia tau jika seharusnya dia lari, tapi kakinya tak punya tenaga, Fajri pun menahan tubuh Randi yang lemah.


"kamu takut Wewe gombel?" tanya Fahri.


"pergi Tante, kami tak haus, husss...." usir Aryan santai.


Wewe gombel itu menunjuk Randi, Aryan dengan polis mengikuti jari Wewe gombel itu.


"idih... tau aja yang cakep, sudah dia sudah bahagia dan besar, jadi tak perlu susu, jadi Tante tak di butuhkan," usir Aryan.


"anakku!!!" teriaknya dengan sangat keras dan memekakkan telinga.


"pergi atau musnah, ini bukan ancaman, jika kamu berani menganggu pria itu," ancam Arkan yang menunjukkan tanda lahirnya


"maaf prabu ...."


Gadis pun baru kali ini melihat Wewe gombel bisa di usir dengan mudah, padahal mahluk itu termasuk jajaran dedemit kelas menengah.


"ku harap kalian tetap meneguhkan hati dan iman, karena mahluk seperti itu tak menakutkan, kalian semua harus takut saat melihat mahluk yang sudah menyerupai manusia yang sempurna," pesan Arkan menginggatkan.


"ya kami mengerti," jawab semuanya.


mereka kembali berjalan, dari jauh terdengar sayup-sayup ada suara langkah kaki yang cukup keras.


"Emily siap, Aryan jaga mereka berempat," kata Arkan.


"siap kak," jawab Aryan yang langsung menarik Fahri dan teman-temannya untuk sembunyi.


bahkan tanpa sadar, mereka bersembunyi bersama beberapa tuyul yang nampak ketakutan.


"jangan bersuara dan memancing keributan jika masih ingin selamat, karena Arkan akan menghadapi para pengantar keranda kematian," gumam Aryan.


gadis ingin membantu, tapi Aryan mengeleng dan menahan wanita itu, "bahaya kak, ilmu milik mu tak akan berguna, tapi malah akan menyulitkan Arkan,"


"tapi apa dia bisa? setahuku makhluk seperti itu tak mudah di hadapi," kata gadis tak percaya.


"tapi Arkan punya Allah sebagai pelindungnya," jawab Aryan.


Arkan dan Emily sudah melepaskan jaket mereka, ternyata mereka berdua mengunakan baju hitam.


Arkan memakai sarung tangan yang sudah di desain khusus, sedang Emily mulai membaca mantra dan mengeluarkan rantai ghaib miliknya.


gadis bahkan semakin tak percaya dengan yang di lihatnya saat melihat tangan Arkan mengeluarkan api yang berubah jadi keris.


seekor ular melata dan melilit di lengan kiri Arkan, "apa Ki Antaboga juga datang melindungi Arkan," kata gadis yang langsung di bungkam oleh tangan Aryan karena kesal.

__ADS_1


__ADS_2