
Nayla dan keluarganya langsung pulang saat itu juga, pak Bagio tak bisa menghalangi putrinya itu.
karena baginya kebahagiaan dari putrinya itu adalah yang utama, mereka menuju rumah sakit.
saat sampai di rumah sakit, mereka pun bertanya pada suster, dan kamar yang di tempati oleh keluarga Rakasa.
mereka pun menuju ke kamar itu, dan langsung masuk kedalam, ternyata ada Wulan yang sedang bersiap-siap akan pulang.
"ya Allah pak Bagio datang, maaf kami sudah mau pulang, halo nak bagaimana keadaan mu?" tanya Wulan pada Nayla.
"Alhamdulillah baik Amma, dimana yang lain?" tanya Nayla.
"mereka sedang mengurus semua dokumen perpindahan dari Arkan, karena dia harus mendapatkan pengobatan di sana," jawab Wulan terlihat sedih.
"apa Aryan juga?" tanya Nayla sedih
"tidak nak, hanya Arkan dan Faraz, karena mereka yang terluka sangat parah, jadi kami mengirim mereka setelah dapat rekomendasi dari dokter," jawab Wulan.
"terus kondisi Aryan?" tanya Nayla.
"Amma kita sudah bisa pulang," kata Aryan baru masuk kedalam ruangan.
"itu dia," kata Wulan menunjuk pria yang cari masuk itu.
Nayla pun menghapus air matanya, entah perasaan apa yang kini di rasa, dia senang, sedih, terharu dan benci jadi satu.
"berhenti melukai dirimu demi orang lain, jika kamu terluka bagaimana aku bisa melihatnya, kamu tau aku sedih," kata Nayla yang memeluk tubuh Aryan.
"eh aku baik-baik saja, aku juga tak akan mati, dan kaku di lihat orang tua," kata Aryan melepas pelukan Nayla.
"dasar bodoh, pria gila, jika kamu mati bagaimana aku harus hidup..." tangis Nayla yang terjatuh ke lantai sambil menangis.
__ADS_1
Aryan tak mengira jika itu yang di rasakan oleh Nayla, dia pun langsung memeluk tubuh Nayla juga.
"maafkan aku, seharusnya aku lebih berhati-hati, kalau begitu maukah kamu menikah dengan ku..." tanya Aryan yang mengejutkan semua orang.
"tapi kamu masih delapan belas tahun," kata Nayla yang menghapus air matanya.
"ya tidak apa-apa, kita tinggal cari surat di pengadilan agama, dan lagi aku juga bukan pemuda pengangguran yang akan mengandalkan orang tua ku untuk menghidupi ku," kata Aryan.
"ya aku mau,", jawab Nayla
pak Bagio menepuk dahinya, pasalnya kedua pemuda-pemudi itu seakan tak melihat mereka di sana
"maaf ya anak-anak kalian ini memutuskan semuanya seenteng beli barang saja, ini pernikahan seumur hidup, jadi jangan buat mainan, ayah tak suka," kata pak Bagio.
"itu lebih baik pak, dari pada putra putri kita melakukan perzinahan karena kita melarangnya menikah," jawab Raka yang baru masuk.
"baiklah saya setuju jika pak Raka juga setuju, tapi Aryan akan melangkahi dua kakaknya, apa kalian tak masalah?" tanya pak Bagio.
"tenang saja pak, itu tak masalah, terlebih keduanya juga laki-laki, jadi sebaiknya kita mulai persiapan saja," jawab Raka.
disana Al-Fath yang akan mencarikan rumah sakit dan menjaga keduanya, terlebih Arkan yang baru sadar dan sedikit membaik.
itulah kenapa buru-buru di terbangkan untuk mencari pengobatan terbaik di luar negeri.
mereka pun pulang, Wulan masih di bantu oleh seseorang karena kondisinya yang belum sepenuhnya baik.
terlebih dua putrinya butuh orang untuk mengawasi keduanya, sedang Aryan dan Raka mulai mengurus semua dokumen untuk bisa menikah karena usianya.
Aryan pun tak masalah saat harus terus riwa-riwi untuk memenuhi semua syarat yang di butuhkan.
Raka tak mengira akan menikahkan putranya yang ketiga lebih dulu. terlebih kondisi kedua saudaranya juga belum pulih.
__ADS_1
tapi beruntung perhitungan dari weton keduanya tak mengizinkan mereka langsung menikah, pasalnya harus menunggu setelah idul Adha.
berati setidaknya butuh sekitar tujuh bulan lagi baru bisa menikah dan keluarga Nayla juga tak keberatan akan hal itu.
terlebih semua pasti butuh proses untuk mengadakan pesta yang begitu meriah untuk pernikahan kedua keluarga.
sedang di Singapura Arkan perlahan sangat membaik, dia sedang belajar berjalan dan mengingat setiap orang di keluarganya.
sedang Faraz harus menjalani pengobatan untuk bekas luka bakar dan juga mental.
pasalnya dia mengalami ganguan emosi setelah melihat Nia yang berusaha membunuh saudaranya.
itulah yang membuat kondisi Faraz juga sempat memburuk,dan beruntung Al-Fath dan Ayana menjaga keduanya.
ya gadis itu memutuskan datang dari jepang guna membantu kedua sepupunya itu untuk bangkit.
perlahan tapi pasti Keduanya menunjukkan kemajuan yang sangat baik.
bahkan faraz juga sudah bisa mengatasi gangguan emosinya. seperti pagi ini mereka sedang duduk untuk sarapan.
Faraz dan Ayana yang memasak, "kalian berdua masak apa, tolong jangan bubur lagi, karena aku seperti orang yang terluka parah, padahal dokter bilang jika semua organ dalam ku susah sehat dengan cepat," kata Arkan.
"tenang, kita makan sup ayam kali ini, dan mendol tempe, lumayan kemarin bisa menemukan barang langka itu," kata Ayana tertawa.
"huh aku tak mau lagi berbelanja dengan Ayana, beh... hancur rasanya, terus di ajak berkeliling, terlebih dengan tangan yang masih belum sembuh ini," kata Faraz.
"ya... terus aku harus belanja dengan siapa, oh ya kalau pulang ke Indonesia, aku mau beli baju baru, ya kalo pernikahan saudara aku tak pakai baju baru," kata Ayana.
"ah iya, kita harus menyiapkan pelangkah untuk calon adik ipar kita, tapi apa yang dia butuhkan, pasalnya orang tuannya juga sudah kaya raya," kata Arkan.
"kamu menginggat calon istri Aryan? berarti kamu sudah ingat Semuanya?" tanya Faraz sedikit bahagia.
__ADS_1
"hanya Nayla... karena aku ingat setelah mendengar Aryan bercerita dan menyembur nama gadis itu."
Faraz pun mengangguk, dia tak berani menyebut nama Niken karena Arkan bisa terluka dan kesakitan.