Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
lelah ya.


__ADS_3

ujian terakhir sangat menguras isi kepala, pasalnya ujian terakhir adalah ilmu pengetahuan alam.


Aryan, Dewi dan Ratu nampak begitu lemas, sedang Arkan santai saja sambil menikmati pentol di tangannya.


"wah.. ini pentol enak banget,"


"diem deh mas, ya tuhan otakku rasanya mau pecah, mending beliin es deh," usir Aryan.


"ya kali aku beli sendiri, kalian mah enak tinggal duduk nunggu," kesal Arkan.


"mau aku bantu, kebetulan aku juga sedang santai," kata Emily memberi usul.


"boleh, ayo..."


Emily berjalan bersamaan dengan Arkan, dari jauh ada sesuatu yang tersenyum kearahnya.


"apa itu teman mu, yang sedang tersenyum kearah kita?" tanya Emily.


"kamu juga bisa melihatnya, dia adalah penjaga ku yang di berikan oleh ibuku," jawab Arkan.


"dia baik ya, padahal jarang ada loh siluman begitu yang baik,tapi kenapa di tersenyum begitu senang," bingung Emily.


"entahlah, jangan di lihat terus dia bisa makin gila, sekarang ayo kita bergegas beli minuman," kata Arkan mendorong tubuh Emily ke arah kantin.


tapi emily merasa aneh, kenapa dia tidak bisa melihat apapun dari Arkan, bahkan kemampuannya juga tak bisa menyentuh pria itu.


sesampainya di kantin, Arkan membelikan enam minuman, karena Puput dan Aini sudah pulang.


"kenapa ku begitu baik?"


"kenapa kita sesama teman harus saling membantu, dan untuk baik itu harus dimiliki oleh setiap orang bukan, meski standar baik mereka berbeda, sudah ayo lekas kembali," ajak Arkan pada Emily.


baru kali ini Emily tak terganggu saat bersentuhan dengan seseorang, kadang dia hrus menyembunyikan diri karena takut menyentuh sesuatu.


saat sampai, ketiga orang itu sudah benar-benar berbaring di teras masjid, saat Arkan dan Emily datang


mereka pun langsung bangun dan segera menyerbu makanan yang di bawa oleh keduanya.


Raka hanya melihat para siswa yang sedang duduk bersama sambil tertawa.


"apa pak Raka berubah pikiran?" tanya Waka kesiswaan.


"tidak pak, saya sudah terlalu sibuk selama ini, dan saya butuh waktu yang berkualitas dengan istri, jadi saya tetap dalam pilihan awal," jawab Raka.

__ADS_1


"baiklah kalau begitu, ini adalah pilihan calon-calon kepala sekolah yang baru, dan semua sepak terjangnya juga sudah di selidiki," kata Waka kesiswaan itu.


"baiklah, taruh di meja, biar aku bawa dan pilih di rumah saja," kata Raka.


kelima orang itu pun selesai minum dan makan cemilan, "sudah kan, sekarang ayo pulang karena aku sudah kangen wanita ku tercinta,"


"itu juga Amma ku, ayo kita pulang, ratu itu kasihan supir mu sudah nunggu dari tadi," kata Aryan.


"oke,aku pulang duluan ya," pamit ratu yang langsung berlari kearah mobil.


Arkan, Aryan, dan Dewi melihat Emily, "kamu tak pergi juga?" tanya Aryan heran melihat gadis itu hanya diam saja.


"aku bawa sepeda, memang gak boleh ya?" tanya Emily.


"tidak lah, sudah ayo kita pulang, jangan pedulikan dua pria menyebalkan ini," ajak Dewi.


Aryan kesal tapi tidak dengan Arkan, pasalnya dia terus melihat Emily, karena dia tau jika gadis itu bukan gadis biasa.


merekapun naik sepeda berjajar di jalan, bahkan keempat orang itu tertawa bahagia.


Emily tidak mengerti kenapa berada di antara tiga orang ini begitu nyaman.


akhirnya Dewi berbelok duluan, "aku duluan ya, Emily awas hati-hati dengan dua pria itu,"


tak lama giliran dua pria itu juga berbelok, "kami duluan Emily, hati-hati ya,"


"oke kak," jawab Emily


emily Santi saja mengendarai sepeda miliknya, setelah setengah jam akhirnya dia sampai di rumah dengan keringat yang cukup deras.


"ya Allah non, seharusnya tadi ikut mobil saja, kok sampai basah begini," kata supir pribadi.


"gak papa pak, saya masuk dulu ya," pamit Emily.


dia pun langsung masuk ke kamar miliknya yang berada di lantai satu, dia langsung memilih mandi dan segera beristirahat.


saat sedang bermimpi, Emily kaget melihat ada beberapa orang yang sedang menggotong sebuah keranda.


"siapa yang meninggal dunia, tapi yang membawa kerandanya bukan manusia," gmsm Emily yang bahkan tak bersembunyi.


tapi tiba-tiba sebuah tangan menariknya hingga terduduk di balik semak.


ternyata itu adalah Arkan, Emily kaget bagaimana bisa pria muda itu matik ke mimpinya.

__ADS_1


"stts... nanti aku ceritakan, kita harus berhasil menolong orang yang tengah tidur di dalam keranda itu, kamu bisa," bisik Arkan.


Emily hanya mengangguk dan siap membantu, "tapi tidak saat ini,nanti malam aku tunggu di perbatasan desa, datang dengan pakaian hitam dan bawa kalung yang pernah di berikan oleh orang tua mu," kata Arkan.


"tapi kenapa?"


"sudah bawa saja, dan sekarang pulanglah untuk bersiap untuk bangun malam," kata Arkan mendorong Emily yang kembali ke tubuhnya.


Emily langsung bangun dan ngos-ngosan, dia tak mengira jika Arkan yang bisa masuk ke mimpi orang seperti tadi.


sedang di rumah, Arkan kaget saat membuka mata, pasalnya sudah ada Wulan di depannya dengan senyum yang mengembang.


"Amma!" kaget Arkan.


"iya, siapa tadi, kenapa kamu begitu terdengar khawatir?" tanya Wulan yang penasaran.


"Amma berhenti menggoda ku, aku sudah lapar ayo, dan berhenti tersenyum seperti itu," kata Arkan malu-malu.


"ada apa sih Amma? bikin penasaran deh?" tanya Aryan yang juga baru bergabung.


"apa kamu tau, siapa yang sedang sangat dekat dengan Arkan? Amma penasaran?" tanya Wulan pada Aryan.


"kalau laki-laki itu aku, kalau perempuan, ada Dewi, Aini, Puput, Ratu, dan Emily, dua gadis yang berbeda agama dengan kami," jelas Aryan detail.


"kenapa harus bahas perbedaan agama, orang di negara kita juga perbedaan selalu di hargai kan," kata Arkan.


"ayah setuju, kita harus selalu menghargai perbedaan, dan untuk mu Aryan berhenti terlalu dekat dengan Amma mu, karena dia itu milik ayah," kesal Raka mengangkat kerah baju Aryan dan memindahkan putranya itu ke kursi lain.


Wulan hanya tertawa melihat tingkah ketiga pria yang dia sayangi itu, "ngomong-ngomong pada kemana kok sepi?"


"bapak dan ibu sedang kondangan, sedang Fahri ya mas tau dia kemana, pasti sedang nongkrong dengan teman-temannya," jawab Wulan tersenyum.


Raka hanya mengangguk, dan mereka bertiga kaget saat melihat makanan yang di buat oleh ibu negara itu


pasalnya Wulan membuat bebek goreng krispi bumbu hitam Madura, "wah... kali ini kita ke Madura," kata Aryan yang langsung mengunakan tangan untuk makan.


Arkan, Aryan dan Raka begitu lahap, bahkan Raka beberapa kali menyuapi Wulan karena wanita itu tak ikut makan.


Fahri sedang membahas untuk melakukan uji nyali nanti malam di desa mereka, pasalnya temannya yang bernama Gadis.


mengatakan jika nanti malam akan ada kegiatan astral yang sangat menantang.


dan itu sangat menantang untuk gadis itu menyaksikannya sendiri secara langsung.

__ADS_1


Fahri hanya bisa diam karena tak mengira jika Gadis yang berbadan kecil begitu berani pada hal-hal ghaib.


__ADS_2