Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
pulung santet


__ADS_3

keduanya pun pulang setelah pesanan sudah selesai di masak, jalanan terlihat begitu sepi.


bahkan mereka kaget melihat ada empat kodok berbagai warna sedang berbaris di tengah jalan.


empat kodok itu juga berbeda ukuran, "aduh apa lagi ini," gumam Aryan yang tau jika kodok itu bukan kodok sembarangan.


tapi dengan cepat, sen-sen dan Suni memakan kodok itu, tak di duga kini keduanya berubah menjadi sangat besar.


tinggi mereka sudah dua meter, dan memiliki aura membunuh yang kuat, Suni menghampiri Arkan yang langsung mengelus harimau itu.


begitupun sen-sen yang juga mendekati Aryan. mereka berdua kembali mengikat aura agar saling bisa terhubung.


"sudah ayo pulang, ini sudah semakin malam," kata Arkan.


"baiklah," Jawab Aryan yang mengemudikan motornya.


mereka sampai di rumah, terlihat Fahri masih merokok di luar, sedang Raka masih sibuk dengan beberapa laporan.


."Amma, sini ayo makan sate bareng," panggil Arkan.


"sstts... Aluna baru saja tidur, kalian makan saja bareng om dan ayah kalian," kata Wulan.


"baiklah Amma, kamu keluar, aku ambil nasi dulu," kata Arkan pada adiknya itu.


"siap, sama minumnya juga ya," kata Aryan.


"udah di baikin jangan ngelunjak, kebiasaan,"kata Arkan yang hanya di balas tawa dari Arkan.


akan menaruh nasi di nampan dan membuat es sirup, dan segera membawanya keluar.


"wah.. mantap ini, kamu tau saja kalau aku sangat lapar," jawab Aryan.


"dasar perut karet," ledek Fahri yang tak di tanggapi oleh Aryan.


mereka pun makan bersama, sambil bercerita, pukul setengah dua belas malam, ada bola api yang lewat.


bahkan Fahri yang tak memiliki kekuatan saja heran melihat tiba-tiba ada seperti sekelebat cahaya lewat.


"apa tadi, banaspati atau pulung gantung," tanya Fahri heran plus kaget.


"pulung santet, ada yang mengirimkan benda besar, tapi aneh juga sih," kata Arkan menarik baju Aryan yang ingin melihat cahaya tadi.

__ADS_1


"kalau gak mau mati,gak usah kepo,besok juga tau siapa yang sakit keras dan aneh," tarik Arkan.


"iya-iya maaf kepo," kata Aryan pasrah.


Raka sudah biasa saja, meski dia melihat berbagai bentuk arwah yang sedang berjalan maupun duduk di atas pohon.


"malam ini kenapa begitu senyap ya, biasanya kalau malam-malam gini banyak suara binatang, tapi ini kok sepi banget," bingung Fahri.


"gak usah di bahas om, nanti juga rame sendiri, om bingung, mereka sedang ke pasar ghaib di sebelah makan jika om kepingin tau," kata Arkan


"Idih... mending sekarang aku tidur karena hawanya begini, kalian juga tidur gih," usir Fahri.


mereka pun memilih istirahat, sedang di rumah Aris, tiba-tiba perut pria itu membesar dalam hitungan menit.


ayu kaget karena melihat kejanggalan dari tubuh suaminya. "mas, kenapa kok bisa begini," bingung ayu.


mendengar teriakan dari kamar orang tuanya, Niken bergegas melihat, betapa terkejutnya dia melihat hal buruk itu.


"argh... sakit!!" teriak Aris.


"ayah kenapa bunda, kenapa perutnya bisa membesar seperti ini?" tanya Niken.


"bunda juga tak tau, tadi mendengar suara ledakan, terus perut ayah seperti ini," jawab Ayu yang menangis


"semoga ini bisa mengurangi rasa sakit, aku akan menghubungi Arkan," panik Niken.


tapi ponsel pemuda itu tak aktif, begitupun dengan Aryan. Aris sedikit tenang karena dia memakai kalung tasbih milik arkan.


"mereka kenapa mematikan ponselnya, sekarang bagaimana ini, lebih baik aku jemput mereka," kata Niken yang ingin pergi.


"tidak boleh, ini sudah tengah malam nak, kamu bisa terluka nantinya," kata ayu menahan Niken.


"tidak bunda, ini demi ayah," kata Niken bergegas turun dari lantai dua.


dia segera naik motor trail milik ayahnya, dan menarik gas motor itu dengan kuat.


sepeda motor itu menembus gelapnya malam dan Niken fokus ingin bertemu Arkan demi sang ayah.


saat sampai, karena buru-buru Niken sampai tak sempat memperhatikan standar motor, jadi motor itu jatuh dengan keras.


Raka yang baru tidur kaget mendengar suara itu, Niken langsung menggedor pintu rumah cukup kuat.

__ADS_1


"tolong om... Arkan... tolong ayah ku..."teriak Niken sambil terus menangis.


Raka membukakan pintu, dan gedoran pintu itu berhasil membangunkan semua orang.


semua pun keluar, Raka kaget melihat Niken yang hany mengenakan baju piyama panjang, tanpa jilbab dan juga tak mengenakan alas kaki.


"ada apa Niken?" tanya Raka.


"tolong ayah om... perut ayah membesar dan terus berteriak kesakitan," kata Niken sambil menangis.


Arkan keluar sambil memberikan jaket panjang miliknya, dan menutup rambut Niken dengan syal.


"wanita harus menjaga mahkotanya, sekarang aku akan bersama dengan mu, kita selamatkan ayah mu," kata Arkan.


"aku ikut," kata Aryan.


"kalin berdua, ayah juga pergi, Fahri jaga mbak mu dan orang tua kita, nanti aku juga menaruh khodam di keempat sudut rumah ini untuk menjaga kalian," kata Raka.


"siap mas," jawab Fahri.


"hati-hati kalian bertiga," kata Wulan.


Arkan mengambil tiga bambu kuning dan daun Bidara, tak lupa Aryan membawa garam krosok dan air yang sudah di do'akan.


arkn mengendarai motor trail yang tadi di bawa Niken, bahkan di jalan beberapa kali mengayunkan bambu di tangannya.


Raka tau jika Putranya itu membuka jalan, sesampainya di rumah Aris, rumah itu serasa di tutupi aura gelap seperti kain hitam tipis.


Niken akan masuk saat Arkan memberikan kalung miliknya, "untuk jaga-jaga, dan ingat apapun yang kmu lihat nanti, itu tak sepenuhnya benar,"


Niken mengangguk dan percaya pada Arkan dan keluarganya, Raka dan tiga putranya baik ke lantai atas.


dua adik Niken tersenyum menyeringai, bahkan Ayu sudah tak sadarkan diri dilantai.


"kalian berdua, kenapa bunda bis pingsan?" marah Niken.


Arkan menarik gadis itu, Aryan melempar garam krosok dan langsung membuat keduanya pingsan.


Raka melempar bacaan ke dua arwah yang merasuki adik Niken, "Sakit!!!" teriak Aris dari dalam kamarnya.


Raka masuk dan melihat ada empat wanita berkebaya merah memegangi tangan dan kaki Aris.

__ADS_1


perut besar aris berisi sebuah bungkusan seperti pocong janin yang berwarna hitam, "lakukan penangkalan dan pengembalian santet, karena jika terlambat, esok pagi Aris bisa meninggal dunia," kata Raka pada dua putranya.


__ADS_2