Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
aku tak tau


__ADS_3

Aditya memilih untuk permisi untuk membersihkan tubuhnya, karena sudah sore.


pria itu tersenyum saat di dalam kamar mandi, "tinggal satu orang lagi, dan itu akan sangat mudah, tunggu saja pria jahat, ajal mu akan segera datang..."


Aditya keluar dari kamar mandi, dan kaget saat melihat ada Siska di sana, "maaf kenapa anda disini?" tanya Aditya saat keluar.


"saya ingin ke kamar mandi, apa anda keberatan," kata Siska menyentuh dada Aditya.


"jangan berani menyentuhku, jika tidak aku akan mematahkan tangan mu ini, ingat itu!" kata Aditya dingin.


sedang Siska kesakitan karena genggaman tangan dari Aditya yang begitu erat.


pria itu pun pergi dengan marah, sedang Siska merasa jika semakin tertantang melihat Aditya.


"kamu tak pantas dengan anak pungut itu, karena aku menyukai mu, dan aku selalu bisa mendapatkan keinginan ku," gumam Siska.


sedang di tempat lain, Arkan sedang melatih ilmu tenaga dalamnya bersama kedua saudaranya.


nyai Nawang mengawasi ketiganya, meski memiliki inti berbeda, tapi tenaga mereka masih satu aliran.


saat Aryan selesai dan juga Arsana, berbeda dengan Arkan yang masih fokus pada pengembangan diri.


"kalian berdua menyingkirlah dahulu, prabu Wira Sanjaya tolong coba tantang bocah itu," perintah nyai Nawang.


"tentu nyai Nawang kesayangan," kata prabu Wira Sanjaya.


"buka matamu Surya Loka, aku tantang dirimu," panggil prabu Wira Sanjaya.


Arkan membuka matanya, dan ada perubahan di lensa mata Arkan, kini mata pemuda itu berwarna keemasan.


"dua sudah sangat berkembang dengan baik," kata nyai Nawang yang melihatnya pun senang.


Prabu Wira Sanjaya langsung menyerang, tapi Arkan tak bergeming atau bahkan takut.


keduanya pun dong pukul bahkan mengeluarkan ilmu mereka, nyai Nawang mengibaskan selendangnya.


"sudah... jangan berantem lagi, sekarang Aryan kembali dahulu, dan temui orang tua mu yang mulai khawatir," perintah nyai Nawang.

__ADS_1


"baik eyang, aku pamit," jawab Aryan yang langsung menghilang.


sedang Arkan mendapatkan pukulan di kepala oleh prabu Wira Sanjaya, "cah Bagus, sekarang kamu memiliki kemampuan yang sangat besar, bantu orang yang membutuhkan ya, jangan menjadi sombong, ingat selalu rendah hati dan merunduk, seperti halnya padi, mengerti le," kata nyai Nawang.


"inggeh eyang, kalau begitu Arkan pamit," kata Arkan yang juga pergi.


Arsana langsung memeluk nyai Nawang, "wes Ndang di lanjut cah ayu..."


di rumah, Aryan pun akhirnya bangun setelah Raka menguyur putranya itu dengan air.


"bocor!!" teriak Aryan.


"dasar bocah ini, kamu ini kenapa malah masih tidur, ini sudah mau Magrib," kata Raka marah.


"aku belum sholat Ashar," panik Aryan yang bergegas ke kamar mandi.


dia lupa jika perbandingan waktu di dunia ini dan dunia ghaib sangat berbeda.


saat akan sholat, malah sudah terdengar suara adzan magrib, Aryan pun langsung merasa sedih.


"sudah le, gak apa-apa kok, kalian kan ketiduran," kata Wulan.


"sudah di seret ayah ke Mushola, ayah kali ini sepertinya marah besar," kata Wulan menakuti.


"aku permisi dulu Amma, bisa di penyet sama ayah ini," panik Aryan yang buru-buru ke Mushola di depan rumah mereka.


saat sampai ternyata Raka langsung menatapnya tajam, otomatis Aryan juga langsung duduk di samping sang ayah.


"Monggo nak Raka, kebetulan ustad yang dari pondok nak ustadz Arifin berhalangan hadir," kata takmir mushola.


"Monggo yang lain saja pak, saya dalam keadaan yang tak baik untuk memimpin sholat," jawab Raka.


Arkan dan Aryan masih diam takut, karena Raka jarang sekali marah tapi kali ini dia berbeda.


"biar saya saja," kata Rafa yang baru datang.


"Alhamdulillah..." kata takmir Mushola.

__ADS_1


pasalnya jarang ada yang mau menjadi imam di Mushola wakaf ini, terlebih mushola ini juga paling kecil.


sholat berjalan lancar, saat bersalaman dengan Aditya, Arkan bisa melihat kejadian yang baru di alami.


Arkan pun menatap pria itu, sedang Aditya hanya tersenyum sekilas dengan tatapan bahagia.


semua orang bubar, saat ingin pergi Arkan langsung menggenggam tangan Raka.


"kamu kena- Arkan!" teriak raja kaget melihat putranya itu pingsan dan mimisan.


semua orang pun panik, pasalnya baru kali ini mereka melihat Arkan yang begitu lemah.


Raka langsung mengendong Putranya itu pulang, "Rafa tolong telpon dokter keluarga kita!" panik Raka.


"baiklah," jawab Rafa yang juga langsung menghubungi dokter keluarga.


Wulan langsung mengusap telapak tangan putranya itu, pasalnya tubuh Arkan begitu dingin.


"Arkan bangun nak, mas ini kenapa?" tanya Wulan.


"aku juga tak tau dek, tadi dia pingsan begitu saja, ya Allah cobaan apa lagi ini, cukup dengan kehilangan kami, jangan ambil dia juga..." doa Raka dalam hati.


dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Arkan, "tenang saja, dia hanya pingsan karena kelelahan, saya akan memberikan resep obat, tolong di tebus karena tubuh Arkan begitu lemas," kata dokter Adi.


"baiklah, ayo Aryan," ajak Fahri.


beruntung Fahri ada, ternyata Arkan pun membuka mata dokter Adi pun kembali memeriksa kondisi Arkan.


dokter Adi pun memberikan cairan infus untuk membantu Arkan lekas pulih.


Wulan pun mengusap kepala putranya itu, teman-teman Rania pun pamit pulang.


"hati-hati di jalan semuanya," kata Rania melambaikan tangan


Rania pun penasaran, pasalnya dia belum tau apa yang terjadi. "mas, ada apa kok rumah mas Raka begitu ramai?" tanya Rania yang melihat suaminya itu


"Arkan pingsan setelah sholat magrib, dan Alhamdulillah dia kini sudah sadar," jawab Aditya.

__ADS_1


Rania hanya mengangguk saja, pasalnya dia harus beres-beres rumah.


__ADS_2