Perjalanan Mistis Si Kembar

Perjalanan Mistis Si Kembar
perjalanan seram


__ADS_3

mobil yang di kendarai oleh Raka sudah masuk ke daerah Mojokerto, mereka mampir untuk membeli tahu ranjau titipan dari Aryan.


bahkan mereka juga membeli yang kemasan Frozen, Wulan melirik kursi belakang.


"ini Ki Adhiyaksa gak mau beli apa-apa?" tanya Wulan.


"bunga saja cukup Nyai, dan tolong dupa jika boleh," kata Ki Adhiyaksa dengan suara beratnya.


"tentu boleh kok, saya juga tau kesukaan Ki Adhiyaksa, jadi aku akan membelikannya," kata Raka.


"terima kasih tuan, dan tolong berhati-hati saat melewati malam di daerah Josari, karena sepertinya saya merasa akan terjadi sesuatu disana," kata ki Adhiyaksa.


pasalnya dia tadi melihat beberapa pembawa keranda yang berkeliaran di sekeliling makam angker itu.


"kalau begitu kita lewat jalur alternatif, dan semoga kali ini ayah gak nyasar ke pasar ghaib lagi," gumam Raka yang sedikit was-was.


"tenang tuan, ada saya disini," kata ki Adhiyaksa menenangkan keduanya.


mobil Raka berbelok ke arah desa Jogoloyo, dari sana bisa tembus ke desa mereka meski harus memutar itu tak masalah.


Ki Adhiyaksa langsung memasang bentuk paling seram, bahkan dia juga menunjukkan tanduknya.


"kenapa?" bingung Wulan.


"lihat depan Amma, sepertinya desa ini sangat panas, meski ini sudah pukul ham sebelas malam," kata Raka.


pasalnya mobil mereka harus berjalan pelan karena di depan mereka ada sebuah kereta andong hantu.


"Bismillahi tawakkaltu alallah, la haula wala quwwata illa billah," kata Wulan langsung memencet klakson mobil.


andong hantu itu pun minggir sambil menatap marah, tapi saat melihat sosok Ki Adhiyaksa dan Wulan.


pengemudi andong hantu itu mlh menunduk hormat, bahkan kuda penarik andong juga menusuk mempersilahkan mereka lewat.


mobil kini melaju melewati persawahan di daerah Karangjo dan di daerah itu masih ada putukan dengan dua pohon besar sebagai penandanya.

__ADS_1


bahkan di sekelilingnya ada kain putih yang membatasi putukan yang masih sangat di jaga itu.


tapi tak terduga mobil Raka malah berhenti di persawahan itu, "ini nih mulai menyebalkan, kenapa harus mogok karena ular begituan sih, orang kita gak ngapa-ngapain," kesal Raka yang keluar dari mobil.


"tunggu tuan, biar hamba saja," kata Ki Adhiyaksa.


Ki Adhiyaksa langsung langsung keluar dan menyingkirkan ular itu dan membaca mantra untuk melindungi kendaraan itu.


"jalan tuan," kata Ki Adhiyaksa yang kini duduk di atas kap mobil.


Raka pun mengendarai mobil dengan pelan, dan saat masuk ke pedesaan, ternyata ada sebuah mobil box yang juga nyasar.


terlihat dari kejauhan jika mobil itu berhenti, Wulan mulai menutup kupingnya.


"jangan berbunyi aku mohon," kata Wulan.


terdengar suara alunan musik gamelan Jawa yang begitu kental dengan aura mistis gelap.


Raka pun mempercepat mobilnya dan tak lama mobilnya sampai di desa mereka.


"aduh... kenapa di datang lagi, apa akan ada kematian beruntun lagi," kata Raka yang melihat sosok itu berjalan sambil terpincang-pincang.


"tetap jalankan mobil mas, kita sudah sangat terlambat, ini juga sudah terlalu malam, aku yakin dia juga cuma lewat," terang Wulan.


Raka pun tetap menjalankan mobil hingga sampai rumah, Ki Adhiyaksa memperhatikan sosok makhluk itu yang nampak kesakitan.


ternyata benar, dia ingin menjemput para pembuat obat untuk di ajak ke neraka bersamanya.


saat sampai di rumah, ternyata masih ramai terlebih Arkan dan Aryan juga masih belum tidur.


"Amma .. ayah ...." sapa keduanya.


"kalian belum tidur, begadang lagi?" tanya Wulan pada Fahri dan teman-temannya.


"kaki sedang membahas tentang baik ke Arjuno mbak, lumayan dan bolehkah aku mengajak Arkan dan Aryan?" tanya Fahri.

__ADS_1


"kenapa cuma mereka, kami juga bisa ikut, lumayan sudah lama tak baik gunung," kata Raka.


"boleh nih, makin rame makin bagus, tapi apa kalian punya perlengkapannya? harus safety," kata Randi menginggatkan.


"tenang saja, kakak iparku itu mantan pencinta alam, jadi sudah biasa baik gunung manapun," jawab Fahri.


"rencananya mau naik ke gunung mana? lewat jalur mana?" tanya Raka yang mengeluarkan semua barang dibantu dua putranya.


"rencananya mau ke gunung Arjuno via Purwosari Pasuruan, karena Arkan dan Aryan baru pertama kali kesana," kata Gadis.


"baiklah, kebetulan tak ada pertentangan untuk mereka, rencananya kapan, kebetulan sekarang aku juga sudah pengangguran," kata Raka tertawa.


"hus... ini sudah malam." tegur Wulan.


"mungkin seminggu lagi kak, sebelum mereka masuk sekolah mumpung libur panjang, toh kita menginap semalam saja," kata Fero.


"baiklah, biar besok aku mengajak mereka membeli perlengkapan untuk baik gunung, dek semua perlengkapan milik mu?"


"tuh tanya Fahri," jawab Wulan enteng.


"emm... mas beli lagi yah, habis susah terlalu nyaman dengan perlengkapan milik mbak, he-he-he," kata Fahri tertawa.


Gadis mengerti kenapa saat pertama kali baik gunung perlengkapan Fahri yang paling lengkap.


ternyata semua itu milik Wulan, terlebih Raka yang menyiapkannya.


"baiklah, dan selama baik nantinya kita tak perlu takut kehabisan air karena sumber air sangat banyak si sana," terang Raka.


"mas Raka sudah pernah kesana?" ya ya Randi.


"tiga kali, dan terakhir sebagai penutupan adalah gunung Lawu, yang pendakian harusnya cuma dua sampai tiga hari paling lama, aku ternyata tersesat di sana selama sepuluh hari. dan setelah itu sudah tak di ijinkan naik gunung lagi oleh om Adri," kata Raka.


"pasti ayah ketemu wanita cantik ya, sampai lupa pulang," ledek Aryan.


sebuah jeweran di terima, "kalau ngomong yang enak ya, pingin ayah ulek kamu,"

__ADS_1


__ADS_2